Minggu, 23 September 2018 08:01 WIB
pmk

Wanita

Sadari-Sadanis, Deteksi Dini Kanker Payudara

Redaktur:

ANTRE-Memperingati Hari Kanker Sedunia, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengajak perempuan untuk melakukan pemeriksaan mammografi secara gratis, Jumat (2/2) lalu. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS.CO.ID

INDOPOS.CO.ID - Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari. Kegiatan kampanye untuk peduli kanker payudara dan pemeriksaan mammografi secara gratis biasa digelar.

Namun sayang, kegiatan edukasi setiap tahun itu belum sanggup menekan angka penderita kanker payudara di Indonesia. Bahkan, dikota besar seperti Jakarta, jumlah penderita kanker payudara di kalangan wanita terus meningkat.

Itu sebabnya, tahun ini, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan pemeriksaan mammografi gratis kepada wanita usia 35-50 tahun, Jumat (2/2) lalu.

Sekitar 50 orang perempuan, yang sebagian besar berprofesi sebagai wartawan itu hadir untuk memeriksakan kondisi kesehatan payudara mereka. Dikoordinatori Forum Ngobras peserta mammografi gratis tampak antusias mengikuti kegiatan yang digelar di Sekretariat YKPI, Jalan Panglima Polim, Jakarta Selatan.

Ketua YKPI Linda Gumelar menjelaskan, pihaknya rutin melakukan mammografi gratis. Bahkan, mereka memiliki unit mammografi keliling sejak 2005 silam. Sejak 2015 unit mammografi YKPI sudah dilengkapi alat terbaru.

Bekerja sama dengan RS Dharmais, bus mammografi setiap minggu keliling ke puskesmas-puskemas di Jakarta. ''Kegiatan YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,'' tegas Linda.

Sebelum melakukan mammografi, peserta pemeriksaan mengisi data terkait kebiasaan merokok, haid pertama, hingga apakah pernah memberikan ASI atau tidak. INDOPOS menjajal teknologi terbaru pemeriksaan mammografi.

Prosesnya terbilang singkat, hanya sekitar lima menit. Jika teknik pemeriksaan dahulu menggunakan alat press, payudara ditekan untuk melihat titik-titik sel kanker, sehingga umumnya pasien merasakan sakit.

Namun, dengan teknologi terbaru, pemeriksaan payudara hanya direkam menggunakan teknologi digital, jadi tidak sakit sama sekali. ''Nggak sakit seperti yang dibayangkan,'' kata Novita Amelilawaty, salah seorang peserta.

Hasilnya baru akan keluar dua minggu kemudian. Jika ada potensi kanker, maka akan segera dirujuk ke RS Dharmais. Linda menambahkan, salah satu tujuan YKPI melakukan mammografi untuk masyarakat adalah menekan kejadian kanker payudara metastasis stadium lanjut di tahun 2030.

''Kami mencoba mendorong upaya promotif dan preventif bahkan melakukan edukasi sampai ke sekolah-sekolah untuk remaja putri agar sejak dini mengetahui tentang pentingnya melalukan Sadari,'' jelas Linda.

Sementara itu, dr Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais menjelaskan, saat ini kanker payudara menempati posisi pertama dengan jumlah pasien terbanyak. Untuk kanker payudara, 70 persen pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut.

Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari Rp1 triliun pertahun. Maka itu, penting sekali untuk mengetahui status kanker sejak dini. Selain untuk mengurangi beban negara untuk pengobatan kanker, juga untuk meningkatkan jumlah survivor kanker.

Salah satu dari tiga hal yang wajib dilakukan untuk mencegah dan mendeteksi kanker payudara pada stadium dini adalah mengenali faktor risikonya. Dokter spesialis bedah konsultan onkologi RS Pondok Indah dr M Yadi Permana, SpB (K) Onk mengatakan, ada sembilan faktor risiko yang mengingatkan kemungkinan seseorang terkena kanker payudara.

Pertama dan utama adalah riwayat keluarga. Apakah ada anggota keluarga dari garis ibu yang menderita kanker payudara?

Kedua, riwayat radiasi untuk pengobatan di daerah dada. Yadi menekankan bahwa radiasi di sini bukan rontgen, MRI, atau USG, melainkan radioterapi.

Ketiga, lama periode menstruasi, dihitung sejak pertama kali hingga terakhir. Jika melebihi 30 tahun, dengan kata lain menstruasi dimulai di usia sangat muda dan terlambat menopause, kemungkinan terkena kanker payudara menjadi lebih tinggi.

”Untungnya, kanker payudara bersifat multifactorial atau dipengaruhi oleh banyak faktor. Walaupun ketiga faktor di atas dan usia tidak dapat diubah, lima faktor risiko di bawah ini dapat diminimalisir untuk mengurangi risiko kanker payudara,” paparnya. Menurutnya, wanita yang tidak pernah mengalami kehamilan yang lengkap atau tidak pernah melahirkan dan tidak pernah menyusui, lebih berpotensi terkena kanker payudara.

''Makanya, jangan pernah segan menyusui anak. Program menyusui itu bukan cuma slogan, tetapi untuk kesehatan ibu juga,'' kata Yadi, terpisah, belum lama ini.

Tak hanya perempuan, nyatanya kanker payudara juga bisa menyerang laki-laki. Yadi mengungkapkan, laki-laki juga bisa terserang kanker payudara, walaupun kemungkinannya lebih kecil dari perempuan.

''Satu persen dari penderita kanker payudara adalah laki-laki. Akan tetapi, mereka biasanya baru terdiagnosis ketika sudah di stadium lanjut,'' imbuhnya.

Hal ini karena para laki-laki biasanya tidak memiliki kesadaran untuk melakukan deteksi dini kanker payudara, dan kalaupun memiliki kesadaran tersebut, memang lebih sulit terdeteksi. Tanda-tanda kanker payudara laki-laki sama dengan perempuan, tetapi karena payudaranya kecil jadi lebih sulit terdeteksi.

Oleh sebab itu, Yadi pun merekomendasikan pemeriksaan payudara sendiri (sadari) dan pemeriksaan payudara klinis (sadanis) untuk laki-laki dan perempuan. Sebab, pemeriksaan klinis payudara oleh dokter dapat mendeteksi sampai 85 persen kanker payudara, mammografi sampai 90 persen, dan biopsi sampai 91 persen. Apabila ketiganya dilakukan, maka kanker payudara dapat dideteksi secara dini hingga 99,5 persen. (dew)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #peduli-kanker-payudara 

Berita Terkait

IKLAN