Selasa, 25 September 2018 04:51 WIB
pmk

Kesehatan

Transplantasi Ginjal Mampu Tingkatkan Angka Harapan Hidup 95,5 Persen

Redaktur: Ali Rahman

INDOPOS.CO.ID - Transplantasi ginjal adalah terapi yang paling ideal bagi pasien gagal ginjal kronik (GGK). Apabila seseorang telah divonis penyakit GGK, maka hanya ada tiga cara untuk mengatasinya, yaitu; dengan terapi Hemodialisis (cuci darah), Peritoneal Dialisis (cuci perut mandiri), dan Transplantasi Ginjal.

Menurut Dr. M. Bonar H. Marbun, SpPD-KGH, untuk transplantasi ginjal angka harapan hidup lebih tinggi dari terapi lainnya. Dalam satu tahun, angka harapan hidup pasien transplantasi ginjal mencapai 95,3 persen, dibandingkan pasien dialisis (cuci darah/cuci perut) yang hanya mencapai 90,6 persen.

"Bila dihitung dalam kurun waktu 10 tahun, maka angka harapan hidup pasien dengan transplantasi ginjal juga masih tinggi mencapai 78,8 persen, dibandingkan pasien dengan dialisis yang jauh merosot tajam mencapai hanya 39.8 persen," kata Dr. M. Bonar H. Marbun, SpPD-KGH dalam seminar "Transplantasi & Donor Ginjal? Siapa Takut", yang digelar oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) bekerjasama dengan Novartis Indonesia di Jakarta, Senin (5/2).

Ia mengatakan, di RSCM dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini sudah melakukan operasi transplantasi ginjal sebanyak lebih dari 500 orang pasien. Temuannya, lanjut dia, problem yang dihadapi bukan dari sisi medis atau dari dokter dan rumah sakit, tetapi dari sisi non medis, dimana jumlah donor sangat sedikit, sementara kebutuhan untuk transplantasi setiap tahun meningkat.

"Termasuk banyak orang yang belum mendapat informasi tentang transplantasi yang benar sehingga takut untuk menjadi donor," ungkapnya.

Lebih lanjut, dokter spesialis ginjal dan hipertensi ini mengungkapkan, di Indonesia, transplantasi ginjal lazimnya adalah dari pendonor yang masih hidup, sementara donor mati (cadaver) belum ada. Padahal, menurutnya di luar negeri untuk donor mati sudah biasa dilakukan. Jumlahnya sangat banyak, bahkan cangkok ginjal dari organ hidup hanya sepertiganya.

"Memang belum ada organisasi atau badan yang mengatur tentang donor mati di Indonesia, sehingga belum bisa dilakukan transplantasi ginjal dari organ mati," tandasnya.

Pendonor ginjal dari Bandung, Neneng Nursadah menuturkan, keikhlasan dirinya untuk mendonorkan ginjalnya kepada adiknya bukan karena keberanian semata.

"Saya mampu melakukan ini karena saya betul-betul memahami persoalan menjadi seorang pendonor ginjal. Saya rajin bertanya ke dokter dan rajin membaca artikel tentang hal itu," terangnya.

Sudah lebih dari empat tahun Neneng hanya mempunyai satu ginjal, tapi masih tetap sehat dan bugar. Bahkan, dia masih bekerja menjadi Event Wedding Organizer.

"Tentu bisa dibayangkan beratnya pekerjaan itu apalagi dalam sehari ada lebih dari satu perayaan pernikahan. Tak lupa, setiap tahunnya saya rutin mengontrol kesehatan terutama jumlah kreatinin dan ureum saya, dan Alhamdulillah semuanya normal," ujarnya.

Leo Setiadi (65 tahun), dalam kesaksiannya menyatakan, dia mampu bertahan hidup sampai 37 tahun setelah menjalani operasi cangkok ginjal.

"Tahun 2016 saya mendapat rekor MURI (Museum Rekor Indonesia). Hal itu karena di Indonesia belum ada pasien transplantasi ginjal bisa hidup selama itu, dan saya melakukan transplantasi pada usia 28 tahun," pungkasnya. (rmn)


TOPIK BERITA TERKAIT: #transplantasi-ginjal 

Berita Terkait

IKLAN