Rabu, 26 September 2018 10:20 WIB
pmk

Kesehatan

Waspada, Pemotor Berisiko Saraf Kejepit

Redaktur:

BEDAH-Suasana di ruang operasi bagi pasien dengan nyeri pinggang. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS.CO.ID

INDOPOS.CO.ID - Sebuah studi di bidang kedokteran menunjukkan, setiap orang minimal pernah mengalami satu kali periode nyeri pada pinggang. Sebanyak 5-20 persen dari mereka pernah mengalami nyeri yang bersifat kronis.

Pakar Rehabilitasi Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Sri Wahyuni menjelaskan, dari sekian banyak penyebab nyeri pinggang yang ada di masyarakat, Herniated Nucleus Pulposus (HNP) atau yang biasa disebut saraf terjepit merupakan salah satu penyebab nyeri pinggang kronik terbanyak.

''HNP paling banyak diderita orang dengan rentang usia antara 30 hingga 50 tahun,'' urainya, saat diwawancara INDOPOS, baru-baru ini. Risiko terjadinya HNP akan menjadi lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan, dengan perbandingannya 2:1.

Terdapat beberapa faktor risiko terjadinya herniasi bantalan sendi tulang belakang. Diantaranya, karena merokok, olahraga berat seperti angkat besi, atau aktivitas pekerjaan tertentu yang sering mengangkat beban secara berulang.

''Dalam beberapa penelitian juga dikatakan, orang yang sering mengendarai sepeda motor memiliki risiko lebih besar untuk mengalami HNP, mencapai 2,7 kali lipat,'' ungkapnya. Di Jakarta saja, tercatat setidaknya ada 13 juta motor (per 2015) dan setiap tahunnya tumbuh sekitar 12 persen.

Pertumbuhan kendaraan bermotor ditambah mobil, membuat pengendara motor harus duduk lebih lama, menambah beban risiko nyeri pinggang. ''Kebanyakan pasien yang datang dengan nyeri pinggang sudah dalam kondisi kritis,” imbuh Pakar Rehabilitasi Medik lain dari Klinik Nyeri dan Tulang Belakang dr Mahdian. Pasien umumnya mengeluh sakit yang menjalar hingga paha dan seluruh bagian kaki. Disertai dengan melemahnya salah satu atau kedua kaki.

''Jika nyerinya hanya ada di pinggang saja, kemungkinan besar bukan saraf terjepit,'' urainya. Biasanya, untuk memastikan bisa dengan melakukan pemeriksaan radiologis seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI). Semakin tua usia pengendara motor, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya HNP.

Pemijatan terutama pada kasus HNP sangat tidak dianjurkan, karena hal ini akan dapat memperparah kondisi pasien. Kondisi lain yang tidak disarankan untuk dilakukan pemijatan pada penderita HNP adalah ketika terjadi komplikasi seperti atrofi otot kaki (kaki terlihat mengecil), kelumpuhan atau kelemahan kaki.

''Meski pasien dipijat puluhan kali tidak akan membuahkan hasil. Hal itu karena yang mengalami masalah adalah persyarafan dan pembuluh darah disekitar tulang lumbar, bukan pada kaki pasien HNP,'' tuturnya.

Ada beberapa terapi untuk pasien HNP. Selain pengobatan yang bertujuan menghilangkan nyeri, penderita HNP juga bisa terbebas dari jepitan saraf ketika melakukan pembedahan baik secara konvensioal (bedah terbuka) maupun melalui teknik Percutaneous Endoscopy Lumbar Discectomy (PELD).

Sayangnya, belum banyak dokter yang bisa melakukan PELD. Jumlahnya di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Tren Diet Keto di Kalangan Millenial

Kesehatan

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

IKLAN