Selasa, 20 November 2018 09:00 WIB
pmk

Kesehatan

Bunda Baca Ini, Susu Kental Manis Tak Layak Dikonsumsi Anak

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa Susu Kental Manis tidak layak dilonsumsi okeh anak anak usia dibawah lima tahun.

Dalam klinik konsultasi resmi pada situs resmi IDAI, Dokter Damayanti Syarif menegaskan, pemberian susu pada anak usia di atas 1 tahun, baik ASI ataupun susu lainnya pada si kecil tidak utama, karena  hanya boleh diberikan maksimal 30 persen dari total kebutuhan kalori. Sementara 70 persen sisanya seharusnya berupa makanan padat.

Menurut dia, susu kental manis adalah susu yang dibuat dengan melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, susu kental manis juga diberikan gula tambahan.

Hal ini menyebabkan susu kental manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO tahun 2015 adalah kurang dari 10 persen total kebutuhan kalori.

"Susu kental manis sebaiknya tidak  dikonsumsi oleh balita. Ayah bunda harus pintar memilah dan harus terlebih dahulu melihat kandungan nutrisi setiap porsinya," ujar Damyanti di kutip dari situs resmi IDAI di Jakarta, Jumat (23/2).

Susu kental manis tidak boleh diberikan pada bayi dan anak, karena memiliki kadar gula yang tinggi, dan kadar protein yang rendah. Pemberian susu yang direkomendasikan untuk bayi adalah ASI atau ASI donor yang telah terbukti aman atau susu formula bayi. Sedangkan jika berusia di atas 1 tahun, selain ASI dapat mengonsumsi susu sapi yang sudah dipasteurisasi atau UHT atau susu formula pertumbuhan.

"Untuk pemberian susu selain ASI sendiri sebaiknya berkonsultasi kepada dokter spesialis anak," ujar sang dokter.

Terpisah, Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf juga menegaskan, miss informasi tentang produk makanan dan minuman oleh masyarakat turut berpengaruh pada asupan gizi anak. Seperti susu kental manis yang diberikan sebagai minuman untuk anak, yang akhirnya menyebabkan 3 balita di Kendari dan 1 di Batam dirawat di RS dengan diagnosis gizi buruk.

"Masyarakat tidak paham mana yang boleh diberikan untuk anak dan mana yang tidak boleh. Gizi buruk dan stunting menjadi persoalan serius di Indonesia," ujarnya.

Menurut Dede, sosialisasi ini tidak hanya dibebankan kepada pemerintah, namun juga menjadi tanggung jawab produsen, terutama makanan dan minuman kemasan yang banyak dikonsumsi anak. Edukasi ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, namun juga seharusya produsen ikut berperan mengedukasi pembeli.

”Semestinya, produsen diberikan amanat oleh pemerintah untuk mencantumkan informasi produk  dengan sangat detail pada label, mulai dari digunakan untuk apa, batas usia penggunaan, bahkan kalau perlu akibat-akibat yang ditimbulkan bila tidak digunakan sebagaimana mestinya. Artinya, pembeli pun mengerti bahwa produk tersebut tidak boleh untuk anak,” jelas Dede. (jaa)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #susu-kental-manis #idai 

Berita Terkait

IKLAN