Kamis, 20 September 2018 03:52 WIB
pmk

Tekno

Pemblokiran Mulai Berjalan, Penjual Kartu SIM Sepi Pembeli?

Redaktur:

Penjualan kartu SIM perdana di Kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat. (Rian Alfianto/JawaPos.com)

INDOPOS.CO.ID - Pemblokiran secara bertahap kartu SIM prabayar mulai diberlakukan hari ini (Kamis, 1/3). Hal tersebut berkenaan dengan ditutupnya masa registrasi ulang kartu SIM per tanggal 28 Februari 2018 kemarin.

Sempat beredar kabar bahwa setelah diberlakukannya masa registrasi kartu SIM prabayar, pengguna akan dibatasi maksimal tiga kartu berbeda untuk satu Nomor Induk Kependudukan (NIK). Sontak hal tersebut sempat membuat geger para pedagang dan pengecer kartu perdana baru.

Kebanyakan beranggapan bahwa pembatasan jumlah kartu akan mengurangi omset mereka dalam menjual kartu perdana. Namun belakangan diketahui bahwa Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tidak membatasi jumlah kartu yang dapat digunakan untuk satu NIK yang terdaftar.

Plt Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kemenkominfo, Noor Iza menerangkan, pembatasan maksimal tiga kartu untuk satu NIK memang dibatasi, namun pembatasannya hanya pada tahap registrasinya saja. “Dibatasi maksimal tiga untuk proses registrasi menggunakan SMS ke nomor 4444 itu,” jelas Noor belum lama ini.

“Kalau tiga kartu sudah terdaftar menggunakan layanan SMS 4444, maka sudah tidak bisa lagi mendaftar. Namun tidak bisa mendaftar ke SMS 4444 saja. Sebab kalau ingin menambah kartu tetap boleh, tapi registrasinya sudah tidak bisa lagi ke 4444 dan harus ke gerai masing-masing provider,” sambung Noor Iza.

Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk tidak terlalu banyak menggunakan kartu SIM atau berganti-ganti nomor kartu SIM. Karena hal tersebut nantinya justru akan merepotkan pengguna kartu prabayar. “Sewajarnya saja lah,” pungkas Noor Iza.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Sutrisman mengingatkan, sebaiknya masyarakat melakukan registrasi cukup sekali saja. “Jangan sering-sering beli kartu SIM lah,” jelas Sutrisman.

“Itu biaya provider dalam membuat kartu SIM dan meluncurkan nomor baru kan tidak sedikit. Produksinya, distribusinya, pendataan nomornya dan lain-lain kan juga panjang prosesnya. Jadi dengan momen registrasi kartu SIM ini, kita mau didik masyarakat supaya tidak boros. Sekali pakai buang, begitu seterusnya,” tutur Sutrisman.

Selama ini, lanjut Sutrisman, ada banyak agen-agen atau pedangang eceran yang menjual kartu perdana dengan menawarkan paket kuota harga murah. Hal tersebut sebenarnya memicu tindakan ‘pakai buang’ tersebut.

Lantas apakah momen registrasi kartu SIM dan batas akhir pemberlakuan sanksi dimulai berdampak kepada penjual kartu perdana baru? JawaPos.com mencoba mencari tahu jawabannya.

Heri, 28, salah seorang pedagang yang memiliki kios di daerah Daan Mogor, Jakarta Barat, mengatakan bahwa dulu pada saat awal diberlakukannya registrasi kartu SIM sempat membuat omzet pedagang kartu anjlok.

“Dulu iya, sempat anjlok pas awal-awal itu. Kita bahkan sampai membakar banyak kartu lantaran tidak laku dijual. Tapi ke sini - ke sini ya lumayan lah, walau tidak sebanyak dulu waktu belum ada regsitrasi ini tapi alhamdulilah lah,” jelasnya kepada JawaPos.com

Dia menyebut bahwa penjualan kartu perdananya hari ini Kamis (1/3) dan kemarin Rabu (28/2) justru meningkat. Meskipun kemarin adalah batas akhir registrasi ulang kartu SIM dan hari ini sanksi pemblokiran secara bertahap mulai diberlakukan, pedagang kartu perdana baru justru masih laris dicari.

“Saya lihat dari TV sih iya, kemarin terakhir kan. Hari ini mulai diberlakukan sanksinya. Tapi kita tetep jualan tuh. Ya kita mah alhamdulilah aja. Mungkin orang-orang beranggapan layanan data internet masih bisa digunakan kali ya, tapi nggak tahu juga sih. Kita mah jualan aja,” pungkas Heri.(ryn/JPC)


TOPIK BERITA TERKAIT: #registrasi-ulang #kartu-sim #simcard 

Berita Terkait

IKLAN