Senin, 19 November 2018 08:28 WIB
pmk

Kesehatan

Vaksin HPV Sejak Belia, Why Not?

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: DOK. INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Kanker serviks atau leher rahim merupakan satu-satunya kanker yang bisa dicegah dengan vaksin. Walau vaksin Human Paviloma Virus (HPV) untuk mencegahnya sudah lama tersedia, tetapi di Indonesia belum menjadi program nasional.

Tak heran, kasus meninggal pasien kanker serviks terus meningkat. Yang paling mengejutkan masyarakat adalah meninggalnya aktris Julia Perez.

Menurut Prof dr Andrijono Sp.OG (K), deteksi dini kanker serviks dengan tes pap smear dan IVA ternyata belum berhasil menurunkan angka kejadian kanker serviks. Data Globocan 2012 menunjukkan, setiap satu jam perempuan meninggal karena kanker serviks di Indonesia. 

''Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) mendorong program nasional vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks segera dilaksanakan pemerintah. Ini karena Indonesia sudah dalam kondisi darurat,” ujarnya ditemui INDOPOS di kawasan Jaksel, Kamis (1/3).

Dia mengatakan, HOGI sudah melakukan rapat dengar pendapat umum dengan Komisi IX DPR RI pada bulan Februari lalu. HOGI menganjurkan vaksin diberikan untuk usia 9-55 tahun. Namun lebih efektif lagi untuk anak usia 9-13 tahun, sebelum si anak terpapar HPV.  

Risiko tertular HPV pada perempuan di Indonesia semakin tinggi karena pernikahan usia dini yang masih tinggi. Rata-rata kasus pernikahan dini di Indonesia justru terjadi di daerah, sedangkan vaksin HPV secara nasional baru menyentuh Provinsi DKI Jakarta, Surabaya, dan Jogjakarta.

''Kalau vaksin diberikan secara sporadis di beberapa kota dan hanya menjangkau daerah-daerah kecil saja tidak efektif. Program nasional vaksin HPV sudah sangat mendesak,'' tegasnya.

HOGI berharap, pembahasan anggaran Kementerian Kesehatan di tahun 2018 ini sudah memasukkan program nasional vaksin HPV sehingga nanti program nasional vaksin HPV sudah bisa terlaksana di tahun 2019. ''Paling lambat tahun 2020 harus sudah terlaksana,'' tukas Andrijono.

Di negara-negara yang sudah menjalankan program vaksin HPV secara nasional, kejadian kanker serviks secara signifikan turun. Misalnya di Australia turun 50 persen setelah menjalankan program 10 tahun, bahkan Kanada dan Swedia turun 80-84 persen.

Hasil vaksinasi sudah bisa dilihat dalam 5 tahun sejak program dijalankan. Sementara itu, menurut Dokter Spesialis Kandungan dari Siloam Hospital Semanggi dr Adriansjah Dara, SpOG, MKes ada 58 kasus baru kanker serviks dilaporkan setiap harinya.

Fakta tersebut menunjukkan, kanker serviks masih merupakan salah satu kanker pembunuh paling tinggi di Indonesia. Penyebab kanker serviks bukan karena faktor keturunan, tetapi penyebab utamanya adalah HPV. 

''Oleh sebab itu, kanker serviks seharusnya bisa dicegah dengan dua cara. Pertama, pencegahan primer melalui vaksinasi HPV dan edukasi kesehatan serta pencegahan sekunder melalui skrining rutin seperti pap smear, Tes IVA, Tes HPV DNA,'' singkatnya. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #vaksin-hpv 

Berita Terkait

IKLAN