Kamis, 20 September 2018 11:49 WIB
pmk

Ekonomi

Kondisi Rupiah Sangat Mengkhawatirkan

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: DOK. INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) cukup mengkhawatirkan. Itu setelah The Federal Reserve (The Fed) berencana menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) tiga hingga empat kali sepanjang tahun ini. Paling tidak, suku bunga acuan The Fed akan mengalami penaikan pada Maret, Juni, Agustus dan November.

Kalau bank central Amerika Serikat (AS) mewujudkan tindakan itu, rupiah dipastikan berayun lebih kencang. Disebut-sebut, rupiah bisa menjebol level Rp 14.000 per USD. ”Pentolan The Fed, Jerome Powell (JP) mengisyaratkan mengerek suku bunga The Fed empat kali. Kalau itu terjadi, rupiah akan sangat fluktuatif,” beber ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara, ketika dihubungi akhir pekan lalu.

Maklum, hanya dalam hitungan hari, mata uang garuda bergerak sangat fluktuatif. Misalnya, pada Senin (26/2), rupiah bergerak di level Rp 13.660 per USD, Selasa (27/2) menjadi Rp 13.679 per USD, Rabu (28/2) menjadi Rp 13.751 per USD, Kamis (1/3) menjadi Rp 13.748 per USD dan Jumat beredar di kisaran Rp 13.746 per USD.

Karena itu bilang Bhima, Bank Indonesia (BI) bisa melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Caranya, melakukan intervensi dengan menggelontor pasar. Itu pernah dilakukan pada 2016 lalu. Kala itu, The Fed menaikkan suku bunga, untuk stabilisasi nilai tukar, cadangan devisa (Cadev) sempat turun USD 4 miliar dalam satu bulan. ”Jadi, kalau tekanan lonjakan Fed rate semakin kuat Maret ini, bisa dibutuhkan lebih dari USD 4 miliar. Cadev USD 132 miliar akan terpangkas menjadi USD 128 miliar,” imbuh Bhima.

Problemnya sambung Bhima, cadev dibanding rasio produk domestik bruto (PDB) hanya 14 persen. Tertinggal dari negara lain macam Thailand 58 persen, dan Filipina 28 persen. Kalau cadev tipis potensi untuk terkuras semakin besar. Kalau benar, The Fed menaikkan suku bunga empat kali, sepanjang tahun ini rupiah bisa terpuruk. ”Artinya, butuh USD 16 miliar cadev untuk stabilisasi rupiah tetap beredar di kisaran Rp 13.300 per USD,” tegas Bhima.

Di samping itu sambung Bhima ada cara lain untuk menjaga rupiah. Yaitu menjajakan surat berharga negara (SBN) rupiah. Itu penting supaya investor asing borong surat utang. Dengan begitu, pembelian rupiah makin besar. ”Nah, untuk mencegah modal asing keluar, menaikkan suku bunga acuan BI 7days 25-50 basis points (bps) supaya kupon surat utang  menarik,” imbuhnya.

Bhima menyarakan fundamental ekonomi diperkuat. Itu karena selama 3 tahun terakhir, cadangan devisa lebih banyak disuport penerbitan global bond atau SBN Valas. Kondisi itu merefleksikan Cadev rapuh dan kualitas rendah. ”Situasi makin runyam karena Donald Trump mengeluarkan kebijakan pengenaan bea masuk 25 persen untuk impor besi baja. Kebijakan itu potensial memicu perang dagang dan instabilitas ekonomi,” ingat alumnus Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) menyebut nilai tukar rupiah ideal di kisaran Rp 13.200-13.300 per USD. Pendeknya, kurs rupiah saat ini Rp 13.700 per USD sudah melebihi batas harapan BI. Meski begitu, kondisi kurs rupiah itu, bukan berarti dibiarkan terpuruk. ”Kami tetap berada di pasar. Stabilisasi kami lakukan. Artinya, kami tidak membiarkan rupiah,” tukas Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. (far)


TOPIK BERITA TERKAIT: #nilai-tukar-rupiah #rupiah 

Berita Terkait

Cegah Melemah, Transaksi Pakai Rupiah

Nasional

Saving Rendah karena Ada Kebocoran

Headline

Jokowi Harus Jujur soal Kegagalan Ekonomi

Headline

Rupiah Mulai Menguat, Butuh Kritik Mahasiswa

Headline

IKLAN