Minggu, 23 September 2018 04:08 WIB
pmk

Kesehatan

Gawat, Diabetes Anak Meningkat 500 Persen!

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: DOK. INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kasus diabetes pada anak terus mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam lima tahun terakhir. Peningkatan kasus diabetes pada anak ini bahkan meningkat 500 persen dari sebelumnya. Gawat!

Prevalensi angka insiden Diabetes Mellitus (DM) yang terjadi di Indonesia diperkirakan ada 240 kasus diabetes dari angka 83 juta anak dari seluruh populasi pertahun. Itu pun masih banyak yang belum masuk data sebagai akibat kurangnya pengetahuan orangtua dan anak terhadap penyakit ini.

Setelah melakukan pengumpulan data dari pasien diabetes di Indonesia selama kurang lebih dua tahun, beberapa tim kerja seperti Unit Kelompok Kerja (UKK) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, berhasil mengumpulkan 674 data dari penyandang DM tipe 1. Angka ini diperoleh dari kerja sama dari berbagai dinas kesehatan di seluruh Indonesia, mulai dari dokter anak, endokrinologi anak, perawat edukator diabetes, Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Melitus Anak dan Remaja (Ikadar), catatan medis pasien, serta partisipasi dari Educator National University Hospital Singapura.

Data yang terkumpul di UKK menunjukkan bahwa DM menyerang anak-anak di Indonesia pada usia sekitar 10-15 tahun, dari populasi penduduk secara total sekitar 267.556.363 (sensus tahun 2010). Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K), FAAP mengatakan, sebagian besar kasus diabetes yang ditemukan pada anak memang diabetes tipe 1 yang tergolong dalam penyakit autoimun. Namun, Aman juga menemukan bahwa kasus diabetes tipe 2 semakin banyak ditemukan pada anak.

''Dulu kita anggap tipe 2 ini diabetes dewasa. Hari ini, saya baru dapat dua pasien (anak) diabetes tipe 2,'' kata Aman di Jakarta Selatan, Selasa (6/3).

Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang lebih banyak dipengaruhi oleh pola hidup tidak sehat. Biasanya, muncul pada anak yang mendapat asupan gula berlebih dan obesitas.

Aman mengaku pernah mendapatkan beberapa pasien anak dengan kadar gula darah mencapai ratusan. Yang mengkhawatirkan, pada anak yang terdiagnosis diabetes tipe 2, hasil pemeriksaan HbA1c menunjukkan rata-rata di atas 10.

''Berarti sudah lebih dari tiga bulan gula darahnya itu lebih tinggi daripada normal, nggak ketahuan,'' urainya. Maka itu, sarannya, penting bagi orangtua untuk lebih memperhatikan kemungkinan diabetes pada anak mereka. Terlebih, jika anak mereka termasuk anak yang gemuk.

Tak hanya orangtua dan pemerintah, Aman berharap tiap pihak bisa melakukan upaya masing-masing untuk mencegah diabetes pada anak. Sebagai contoh, Kementerian Pendidikan bisa turun tangan untuk membuat anak-anak sekolah lebih banyak melakukan aktivitas fisik.

Aman menambahkan, kalau masyarakat dan pemerintah tidak mengganti pola makan ke arah yang lebih sehat, pada tahun 2030, satu di antara 30 orang akan terkena diabetes dan hipertensi. Sebab itu edukasi kesehatan sangat penting.

Tidak hanya untuk mengobati, tetapi juga mencegah supaya tidak sakit. Pendidikan buat ibu juga sangat penting karena ibu harus tahu konsumsi makanan dan aktivitas apa yang diperlukan anak.

Gejala lain dari diabetes pada usia muda adalah urin yang dikeluarkan mengandung kotoran di dalamnya. Dan mudah terinfeksi akibat daya tahan tubuh yang lemah adalah salah satu gejala dari diabetes. 

Bila anak terlanjur mengidap diabetes tipe 2, sebaiknya langsung melakukan pengobatan menggunakan insulin. Hanya saja, ada orang tua yang menolak metode pengobatan itu karena tidak ingin anaknya terus-menerus disuntik. Perlu diingat kalau obat-obatan, termasuk herbal tidak akan membantu mengontrol kadar gula darah.

Terpisah, Dr. Michael Triangto, SpKO menyarankan, rutin beraktivitas fisik dapat memberikan manfaat baik bagi tubuh. Diantaranya adalah mencegah penyakit, meningkatkan stamina, menguatkan dan menyehatkan, meningkatkan fleksibilitas, mengontrol berat badan, serta meningkatkan kualitas hidup.

''Aktivitas fisik dapat dilakukan dengan mudah baik di rumah, di tempat kerja, di tempat umum, maupun di perjalanan,'' ujarnya. Bisa dimulai dengan melakukan gerakan-gerakan mudah, seperti aktif bergerak di rumah dengan melakukan pekerjaan rumah sendiri, berkebun atau membersihkan halaman, bermain bersama anak, dan sebagainya.

Aktif bergerak di tempat umum dapat dilakukan dengan tetap berjalan walaupun di eskalator, memanfaatkan taman kota untuk beraktivitas fisik, perbanyak bermain di ruang terbuka (basket, bulu tangkis, bersepeda).

Aktif bergerak di perjalanan dapat dilakukan dengan bersepeda ke sekolah atau kantor, berhenti 1-2 halte sebelum tempat dituju, dan parkir di tempat yang agak jauh dari lokasi dituju. (dew)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #diabetes-anak #kesehatan 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN