Jumat, 20 Juli 2018 06:22 WIB
BJB JULI V 2

Fashion

Dua Desainer Muda Tanah Air Siapkan Modest Wear dengan Konsep Rumahan

Redaktur:

BERBINCANG - CEO Bateeq Michelle Tjokrosaputro, Creative Director Of Kami Nadya Karina, Director of Kami Istafiana Candarini, dan Finance Director of Kami Afina Candarini (dari kiri ke kanan) saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (7/3), jelang Seoul Fashion KODE 2018. ISMAIL POHAN/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Dua desainer muda Tanah Air lewat lini fashion modest yakni KAMI dan Bateeq bakal unjuk gigi di ajang Seoul Fashion KODE 2018 di S-Factory, Seoul, Korea Selatan, 15-17 Maret mendatang. Ajang Seoul Fashion KODE tersebut merupakan kegiatan tahunan yang cukup bergengsi di Negeri Ginseng itu.

"Kami bangga sekali dapat kesempatan bisa mewakili Indonesia menampilkan karya fashion khas Indonesia. Kita berharap, modest fashion bisa diterima di pasar Asia Timur,” jelas Direktur dan Co-Founder KAMI Istafiana Candarini dalam jumpa pers di Senayan City, Jaksel, Rabu (7/3).

Mereka sudah menyiapkan sekitar 15 looks koleksi dengan mengusung tema ”The Lazy Sunday Morning" yang mengedepankan koleksi rancangan dengan unsur motif dan tone warna natural. Koleksi mereka merupakan perwujudan dari inspirasi pakaian-pakaian homewear yang ringan.

"The Lazy Sunday Morning ini terinspirasi dari pakaian-pakaian home wear, lounge wear seperti piyama, kimono, dan pakaian rumahan. Ceritanya tentang aktivitas di hari Minggu pagi, dimana orang ingin bermalas-malasan dan nyaman dengan pakaian khas rumahan,” imbuh Creative Director dan Co-Founder KAMI Nadya Karina.

Menurutnya, menggunakan koleksi yang nyaman bisa membuat mood bahagia. Nah, itulah yang ingin ditonjolkan dalam koleksi mereka.

Untuk detail desain, mereka mengusung konsep printed. Dimana material bahan sebagai dasar dan diramaikan dengan motif-motif marmer.

Memadukan permainan warna-warna natural seperti warna off-white, hijau lumut, krem, abu-abu dan warna peach.

Sementara itu, lini Bateeq yang digawangi oleh Michelle Tjokrosaputro juga bakal menampilkan sekitar 15 looks koleksi yang terdiri dari 11 pakaian untuk wanita dan 4 setelan busana untuk pria dengan inspirasi wayang. Hal itu ditonjolkan dengan kombinasi material bahan khusus agar bisa diterima di negara empat musim.

Dalam segi pembuatan, Michelle sendiri mengaku membutuhkan waktu yang sangat lama karena adanya perubahan dalam desain keseluruhan. Bukan hanya motif namun juga hingga kualitas kain yang dipakai.

"Kami membutuhkan waktu sangat lama karena ada improvement tidak hanya dimotif tapi juga desain, konstruksi, dan kualitas kain. Sejak tahun lalu kami menggunakan material fiber yang friendly. Misalnya dari bambu, bamberg dari biji kapas yang tadinya dianggap tidak berarti jadi katun, baru nanti dipadukan dengan wool,” paparnya.

Menurutnya, koleksinya kali ini cocok untuk anak muda yang suka dengan gaya etnik tanpa harus terlihat kuno.

Keduanya berharap, ajang ini bisa mempertemukan label dengan pasar. Seperti diketahui, anak-anak muda di Korsel sangat peduli terhadap penampilan dan tampil modis di setiap kesempatan.

Bahkan, Nadya menambahkan, brand dunia seperti Dior saja sudah mengeluarkan koleksi hijab tahun ini. ”Jadi saya yakin, modest wear bisa diterima pasar Korea dan Jepang. Yang penting, kita fokus membuat karya yang sesuai dengan selera pasar, tanpa kehilangan unsure syari dari pakaian Islami,” pungkasnya. (ibl) 

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #fashion 

Berita Terkait

IKLAN