Senin, 17 Desember 2018 03:49 WIB

Fashion

Waspada, Wanita Rentan Gagal Ginjal

Redaktur:

PAPARAN KESEHATAN - Para narasumber dalam konferensi pers “Ginjal & Kesehatan Perempuan” di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (7/3).

INDOPOS.CO.ID - Tak hanya kanker serviks, perempuan juga rentan terkena penyakit gagal ginjal. Kaum hawa banyak yang terkena penyakit ginjal kronik (PGK) dan 40 persen dari mereka melakukan hemodialisis (prosedur cuci darah). Hal itu disampaikan Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) dr Aida Lydia, PhD, SpPD-KGH.

''Data internasional menunjukkan sekitar 195 juta perempuan di seluruh dunia menderita penyakit ginjal kronik, dengan 600 ribu kematian setiap tahunnya. Di Indonesia, pasien yang menjalani dialisis atau cuci darah sekitar 43,6 persennya adalah perempuan,'' ujar Aida dalam konferensi pers "Ginjal & Kesehatan Perempuan" di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (7/3). 

Sejumlah kondisi yang menjadi faktor risiko terjadinya PGK pada perempuan antara lain banyaknya perempuan yang terkena lupus dan risiko menderita pre-eklampsia dan eklampsia selama kehamilan. Sedangkan secara umum ginjal juga menyerang mereka yang terkena diabetes dan hipertensi.

''Perempuan mengalami kehamilan. Saat kehamilan bisa mengalami komplikasi yang disebut pre-eklampsi dan eklampsi. Kondisi ini menyebabkan kematian,'' terangnya.

Kalau ibu hamil mengalami pre-eklampsi, lanjut dia, maka ''berisiko” terkena PGK. Begitu pun sebalinya, jika wanita hamil sudah terkena PGK lebih dulu, maka dia bersiko terkena pre-eklampsi.

”Kehamilan juga sering menyebabkan gangguan ginjal akut, kelainan hipertensi saat hamil,'' imbuhnya. Faktor lainnya adalah tingginya kejadian infeksi saluran kemih pada perempuan akibat struktur anatomi saluran kemih pada perempuan yang lebih pendek dari laki-laki. 

Satu dari tiga orang mengalami gangguan saluran kemih. Kalau infeksi berulang, berisiko terkena PGK.

Berbeda dari penyakit lainnya, penyakit ginjal tak bergejala khas sehingga penanganannya terlambat. Sebagian besar penderita gagal ginjal tidak menunjukkan gejala sampai mereka kehilangan fungsi ginjalnya sebanyak 90 persen.

''Keluhan timbul bila fungsi ginjal sudah amat rendah,'' katanya. Namun, ada sejumlah tanda yang dicurigai antara lain tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urin, mual, muntah dan bengkak terutama pada kaki dan pergelangan kaki. 

Kepala Subdit Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Zamhir Setiawan M Epid menambahkan, sebesar 70 persen penyebab gagal ginjal di Indonesia tidak terdeteksi. ''Padahal, berbagai faktor risiko dari salah satu Penyakit Ginjal Kronik (PGK) ini merupakan berbagai gangguan kesehatan yang kerap ditemukan seperti hipertensi (25,8 persen), obestitas (15,4 persen), dan Diabetes Melitus (2,3 persen),'' tandasnya.

Lebih lanjut dr Zamhir paparkan bahwa PGK merupakan masalah kesehatan dunia dengan beban biaya kesehatan yang tinggi. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan pada 2016 mencatat, ada sebanyak Rp2,4 triliun biaya digelontorkan untuk penyakit gagal ginjal, padahal PGK dapat dicegah.

Dalam mengatasi masalah ginjal ini, Kemenkes telah mengeluarkan berbagai kebijakan pembangunan kesehatan bagi masyarakat. Salah satu upaya ini diwujudkan dalam tiga pilar Program Indonesia Sehat yaitu, Paradigma Sehat, Penguatan Pelayanan Kesehatan, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). 

Selain itu, dia juga menekankan, agar masyarakat mampu meningkatkan pencegahan dan pengendalian penyakit dengan basis Self Awareness melalui pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan gula darah secara rutin atau minimal satu kali dalam setahun. Dia pun mengajak masyarakat melakukan pencegahan penyakit ginjal yang bisa dilakukan antara lain dengan menerapkan pola hidup sehat, rutin memeriksakan kondisi kesehatan ginjal terutama jika memiliki riwayat tekanan darah tinggi, diabetes, riwayat pre-eklampsia, lupus, maupun kanker leher rahim.

''Pemeriksaan untuk deteksi dini gangguan ginjal sangat sederhana, yaitu bisa dilakukan dengan pemeriksaan kencing (urinalisis) dan cek darah (ureum dan kreatinin),'' pungkasnya. (dew)

Cobalah untuk Hidup Sehat

  1. Berhenti merokok. Merokok adalah salah satu penyebab ginjal mengalami berbagai macam masalah. Sebab merokok dapat menghambat aliran darah yang masuk ke ginjalmu sehingga menyebabkan terhambatnya kinerja ginjal.
  2. Bergerak dengan aktif. Dilihat dari segi fisik, tubuh kita sebenarnya tidak didesain hanya untuk diam. Karena itu, akan lebih baik jika rutin berolahraga.
  3. Banyak minum air putih. Air adalah salah satu hal yang sangat penting bagi ginjal dan tubuh kita. Setiap orang membutuhkan air sekitar empat sampai enam gelas per hari untuk menjaga kesehatan ginjal dan tubuh mereka.
  4. Mengatur konsumsi garam. Garam adalah salah satu zat yang penting untuk tubuh. Akan tetapi kadar garam dalam tubuh yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan tubuh. Terlalu banyak garam akan membuat darah semakin kental dan semakin berat diproses oleh ginjal.

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Ini Penyebab Anda Mudah Marah saat Kurang Tidur

Kesehatan

Ini Standar ASI untuk Bayi Prematur

Jakarta Raya

Caleg Fogging Ratusan Rumah Warga

Politik

Suka Sulit Bernafas, Waspada PPOK

Jakarta Raya

Perangi ”Helikopter” dengan WC Komunal

Megapolitan

Jangan "Coba-Coba" Sebelum Menikah

Jakarta Raya

IKLAN