Minggu, 23 September 2018 03:57 WIB
pmk

Kesehatan

Bahaya Ini, Gizi Buruk Hantui Masa Depan Anak Indonesia

Redaktur: Sicilia

BERI MAKANAN BERGIZI-Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA Lenny K Rosalin melakukan edukasi kepada siswa pentingnya sarapan dan mendapat asupan gizi baik di SDN Gandaria Utara 11, Gandaria, Jakarta Selatan, Kamis (8/3).

INDOPOS.CO.ID - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perkindungan Anak (KemenPPPA) berharap, bisa lebih banyak lembaga dan perusahaan yang menjalin kerja sama untuk peningkatan gizi anak. Deputi Menteri bidang Tumbuh Kembang Anak KemenPPPA Lenny K Rosalin mengatakan, masih banyak kasus gizi buruk di Indonesia.

Dampak dari gizi buruk pada anak banyak. Diantaranya, lahirnya anak stunting (bertubuh pendek). "Kami berharap kerja sama ini dapat mendorong upaya-upaya pemerintah mengatasi persoalan gizi anak. Baik di sekolah maupun dalam keluarga. Intervensi dan edukasi gizi oleh orangtua dan guru di sekolah sangat penting,” kata Lenny usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Foodbank of Indonesia (FOI) dengan perusahaan logistik JNE di SDN Gandaria Utara 11, Gandaria, Jakarta Selatan, Kamis (8/3).

JNE, perusahaan yang bergerak di bidang pengiriman dan logistik menjalin kerja sama atau MoU dengan FOI sebagai komitmen bersama tiga pilar negara, yaitu pemerintah, lembaga masyarakat, dan dunia usaha dalam upaya mendukung hak anak. Direktur utama JNE Mohammad Feriadi mengatakan, pengumpulan dan distribusi makanan akan lebih efisien dan lebih luas jangkauannya jika dilakukan bersama-sama.

"Dengan enam ribu jaringan tersebar di seluruh Indonesia dan kapabilitasnya, JNE selalu berupaya maksimal untuk memberikan dukungannya dalam berbagai program yang bertujuan untuk mendorong kemajuan bangsa. Kami berharap kerja sama ini dapat memberikan manfaat dan kebahagiaan kepada masyarakat, terutama anak-anak sesuai semangat tagline Connecting Happiness," ujarnya.

Sementara itu, Ketua FOI Hendro Utomo mengatakan, persoalan gizi masih menjadi agenda penting di Indonesia. Tidak hanya kasus gizi buruk atau kurang, kasus kelaparan di sekolah pun terjadi. "Menurut dat Riskesdak 2010, dari sekitar 66 juta anak di sekolah, sekitar 20-40 persen berangkat ke sekolah dslam keadaan perut lapar. Ini dapat mengakibatkan menurunnya konsentrasi siswa pada saat belajar. Selain itu memiliki kemungkinan mengalami kesulitan untuk menerima pelajaran yang baik," tuntas Hendro. (ers)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN