Selasa, 25 September 2018 12:42 WIB
pmk

Opini

Memonitor Cyber Propaganda Intelijen Donald Trump & Netanyahu di Israel

Redaktur:

Dynno Chressbon

Dynno Chressbon

Analisis Intelejen

Menyimak bunyi pidato propaganda duta besar AS untuk PBB, Nikki Haley, di Komite Kumpulan Komunitas Yahudi Israel-AS, Senin (5/3), secara nyata dan agitatif menyerang sikap organisasi PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) soal isu hak kemerdekaan Palestina.                                      

Dalam pidatonya di kongres AIPAC (American Israel Publik Affair Committe), Haley mengatakan, akan terus membela Israel di PBB. Sebab menurutnya, sudah cukup lama PBB bersikap diskriminatif terhadap Israel.

"Bias PBB terhadap Israel telah lama merusak perdamaian dengan mendorong ilusi bahwa Israel akan segera pergi, tapi Israel tidak akan pergi," ujarnya disambut derai tepuk tangan hadirin, seperti di kutip media The Times of Israel, Senin 5 Maret 2018.

Haley pun berjanji bahwa dia tidak akan membiarkan PBB untuk terus menggertak Israel. "Di PBB dan di seluruh badan PBB, Israel ditindas. Saya sama sekali tidak memiliki kesabaran untuk sebuah intimidasi," katanya.

Dalam acara ini, Presiden AIPAC, Mort Fridman, meminta anggotanya dari komunitas progresif agar tidak meninggalkan badan tersebut. Menurutnya, dukungan bipartisan untuk Israel sangat penting di waktu-waktu genting ketika banyak kecaman datang akibat dari pengakuan Yerusalem.

“Kepada kawan-kawan saya dari komunitas progresif, saya ingin memberitahu Anda bahwa kita bersatu di proyek ini. Naratif progresif untuk Israel sama-sama menarik dan penting seperti narasi konservatif. Ada kekuatan nyata yang mencoba menarik Anda dari aula ini dan keluar dari gerakan ini dan kita tak bisa membiarkan ini terjadi " Ucap Fridman.

Kata dia, orang-orang marah, frustrasi dan kesal. Ada dorongan untuk menjauh dari politik untuk mundur ke sudut partisan. “Kita tidak bisa membiarkan dorongan tersebut terjadi,” seperti dikutip Jerusalem Post, Minggu (4/3)

Sementara mantan Gubernur Michigan, Jennifer Granholm, juga memberikan pidato yang mendukung kebijakan brutal rezim Israel terhadap warga Palestina. “Israel bisa menjadi contoh bagi negara lain termasuk Amerika tentang bagaimana masyarakat dilindungi,” kata Granholm, sembari menyebut Israel sebagai “surga  progresif” di hadapan 18.000 anggota AIPAC yang hadir.

Operasi Propaganda Tekan Negara Pendukung Palestina

Konferensi AIPAC dimulai sejak hari Minggu (4/3/2018). Terdapat beberapa hal yang diagendakan AIPAC pada konferensi ini. Dilaporkan oleh media Aljazirah, agenda kunci kongres AIPAC tahun ini adalah mendukung Israel untuk membatasi pengaruh Iran di Timur Tengah. Iran memang dipandang Israel sebagai ancaman terhadap superioritas ekonomi dan militernya di wilayah tersebut.

Dalam konferensi tersebut, AIPAC akan membahas pula tentang upaya membatasi bantuan finansial AS kepada Otoritas Palestina. Hal ini dilakukan agar Otoritas Palestina tak memiliki daya dan kekuatan untuk melawan pendudukan Israel.

AIPAC pun menyusun skema agar AS menyetop bantuan keuangan kepada keluarga tahanan Palestina yang kini mendekam di penjara Israel. Mereka yang ditahan adalah orang-orang yang melawan pendudukan Israel.

Tak hanya itu, AIPAC juga berencana mematikan gerakan boikot, divestasi, sanksi (BDS). BDS merupakan gerakan perlawanan dan penentangan terhadap pendudukan Israel atas Palestina yang diwujudkan dengan cara pemboikotan secara ekonomi dan budaya.             

Pada pertemuan Dewan Pusat Palestina Januari lalu, BDS menjadi salah satu poin pernyataannya. Dewan Pusat Palestina mengadopsi gerakan BDS dan meminta negara-negara dunia menjatuhkan sanksi kepada Israel. Sebab Israel dinilai telah melanggar hukum internasional.

Selain itu, tujuan utama AIPAC lain nya pada konferensi tahun ini adalah mengodifikasi komitmen AS untuk memberi Israel 38 miliar dolar AS dalam 10 tahun ke depan, seperti yang telah dijanjikan mantan Presiden Barack Obama. AIPAC menginginkan Kongres AS memberlakukan undang-undang agar dana tersebut tersedia bagi Israel, terlepas dari siapapun yang berada di Gedung Putih.

Agenda ini seharusnya tak sulit diwujudkan mengingat besarnya pengaruh AIPAC di sana. Bila undang-undang tersebut disahkan oleh Kongres, hal ini akan menyulitkan pekerjaan presiden AS di masa mendatang. Sebab dana yang diperuntukkan untuk propaganda memperkokoh pengaruh AS di Timur Tengah, menjadi milik Israel untuk melakukan operasi-operasi khusus di bidang Cyber Propaganda Intelligence gabungan dalam menentang negara-negara pendukung kemerdekaan Palestina, di seluruh dunia.

AIPAC didirikan pada 1951 oleh pemimpin Yahudi-Amerika sebagai kelompok kepentingan yang memiliki misi memajukan tujuan Israel di AS. Anggota AIPAC telah mencapai lebih dari 100 ribu orang di seluruh AS dan memiliki akses keuangan, politik, intelijen dan militer dengan mayoritas pimpinan negara-negara arab di teluk persia. Terutama kerajan-kerajaan kecil yang makmur dan ketakutan kepada pengaruh Iran dan Turki yang serius mendukung kemerdekan penuh Palestina di forum-forum PBB dan Organisasi Kerjasama Islam sedunia (OKI)

Operasi Blackops Cyber Profesional Agitator ‘Kumpulan gagak Hitam’

Saat ini terungkap jelas adanya jejak digital dari skenario tahapan-tahapan operasi khusus intelijen gabungan AS-Israel yg telah dilakukan oleh tim Cyber Proffessional Agitator. Ini untuk mendorong terciptanya perang proxy Cyber Deception, Cyber Propaganda, dan Cyber Revolution di Iran, Libanon, Suriah, Irak, Yaman, Palestina, Jordania, Qatar, Turki, Afganistan, Pakistan, Banglades, Malaysia, Indonesia, Myanmar dan Philipina.

Semua ini untuk menciptakan kondisi objektif konflik ideologi Suni-Syiah agar terjadi destabilisasi keamanan di kawasan dunia islam yg berpihak kepada perjuangan kemerdekaan Palestina.                                                                    Jejak-jejak operasi Cyber Propaganda Intelligence tersebut diakui oleh otoritas Iran berhasil membongkar jaringan mata-mata Amerika Serikat (AS)-Israel dan menangkap anggotanya. Hal itu diungkapkan oleh Jaksa Agung Iran.

"Para terdakwa mengumpulkan informasi tentang negara di wilayah strategis, di bawah proyek ilmiah dan lingkungan," kata Abbas Jafari Dolatabadi seperti dikutip dari Middle East Monitor, Jumat (‪16/2).

Menurut para penyidik, beberapa terdakwa mengaku pernah mengunjungi wilayah pendudukan Palestina beberapa waktu untuk berpartisipasi dalam konferensi MENARID, yang dihadiri oleh anggota Mossad-Israel.

"Tujuan utama rencana bersama CIA dan Mossad adalah menciptakan krisis di Iran, mengumpulkan informasi melalui jaringan ini, dan mengirimkannya ke Washington," jelas Dolatabadi.

Ia menambahkan, dua perwira intelijen AS mengunjungi Iran secara diam-diam dengan berbagai dalih, termasuk pendirian sebuah organisasi lingkungan hidup sebagai unit penyamaran intelijen, sejak sepuluh tahun yang lalu di Iran.                                      

Paska penangkapan agen rahasia AS-Israel di Iran tersebut, komunitas intelijen Iran dan Irak, akhirnya menangkap jaringan agen-agen intelijen unit 999 binaan intelijen AS-Israel-Saudi, pengelola unit Cyber Propaganda Intelligence, yang penyamar sebagai direktur media propaganda milik kelompok ISIS.                                          

Petinggi badan intelijen pasukan Irak Abdul Aziz al-Maadidi kepada kantor berita Turki, Anadolu, Minggu (4/3), mengatakan, “Pasukan Irak hari ini menangkap direktur utama kantor berita Amaq, Osman Khalid al-Amin, di kota Mosul.”

Dia menjelaskan bahwa al-Amin bersama enam orang anak buahnya tertangkap di sebuah desa di sisi tenggara Mosul. Amaq  muncul pertama kali pada tahun 2014 bersamaan dengan munculnya ISIS sebagai kelompok teroris besar yang menguasai banyak wilayah Irak dan Suriah. Sejak itu Amaq menyiarkan berita-berita seputar ISIS serta video-video propaganda ISIS yang antara lain berupa aksi kekerasan dan eksekusi sadis.                                  

Jaringan media Amaq di Asia Tenggara, dikelola oleh unit Cyber Propaganda Intelligence, bersandi operasi "Kumpulan Gagak Hitam" dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan nama " Al-Fatihin".

Unit propaganda Kumpulan Gagak Hitam dikomandoi oleh Bahrumsyah dan Bahrum Naim, asal Indonesia. Komunitas tersebut mempublikasikan nama populer di dunia medsos dan aplikasi android sebagai  Family Cyber Mujahidin Army (FCMA). (*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini 

Berita Terkait

Houston

Opini

Hukuman Baru yang Dicepatkan

Opini

Dikepung Massa, Jokowi Bernasib Seperti Ahok?

Opini

Cari Resep Yang Mahal

Opini

Jalan Ikhlas untuk Pejuang Panjang

Opini

Awan Kiasan untuk Pemburu Turis

Opini

IKLAN