Minggu, 16 Desember 2018 12:20 WIB

Nusantara

Tanah Ambrol, KA Jalur Banyuwangi–Jember Masih Beroperasi

Redaktur: Ali Rahman

MASIH NORMAL: Jembatan rel kereta api yang di bawahnya sempat ambrol akibat tergerus air, terus diperbaiki para pekerja secara manual. Meski terancam ambrol, sejauh ini perjalanan Jember – Banyuwangi masih lancar dan normal-normal saja. Foto: Radar Jember

INDOPOS.CO.ID - Sebuah jembatan rel kereta api di Dusun Curahdamar, Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo kondisinya sempat kritis, karena bagian bawahnya sempat ambrol dan tergerus air. Namun, perbaikannya membutuhkan waktu lama, karena alat berat sulit masuk ke lokasi kejadian.

Meskipun demikian, sejauh ini diklaim masih belum mengganggu perjalanan kereta api jalur Banyuwangi–Jember, dan sebaliknya.

Sebagaimana diketahui, pada saat longsor melanda Kecamatan Silo 18 Februari lalu, dua rumah warga jadi korban longsor. Ternyata, kejadian ini bukan menimpa rumah saja, longsor juga menimpa plengsengan di bawah rel jembatan milik PT KAI.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember (Grup INDOPOS) kemarin, lokasi longsor cukup curam dan tidak bisa dilalui kendaraan. Untuk menuju ke lokasi, harus melewati jalan yang kanan kirinya mepet tebing. Bukan hanya akses yang sulit, pelaksanaan perbaikan di lokasi pun tidak semudah yang dikira. Sebab, fondasi bawah jembatan kereta api ini ikut ambrol akibat tergerus air saat banjir beberapa waktu lalu.

Untuk langkah pengamanan, PT KAI Daop 9 Jember terpaksa memasang fondasi bronjong di bawahnya. Ini dilakukan agar fondasi yang ambrol tidak semakin banyak.

Meski demikian, pemasangan bronjong bukanlah pekerjaan yang mudah. Menurut salah satu pekerja, saat menggali untuk memasang pancang yang terbuat dari rel saja harus masuk ke kedalaman sekitar 4 meter. “Jadi harus digali satu per satu, dengan alat manual,” ucap Gito, salah seorang pekerja, kemarin. Apalagi, untuk menuju lokasi tidak memungkinkan membawa alat berat.

Inilah yang diakuinya menjadi masalah di lapangan. Sehingga, pengerjaannya pun menjadi sedikit lebih lama. “Pekerjaan yang lama itu ya gali fondasi. Apalagi, tanah bagian bawah padas. Alat berat nggak bisa masuk, hanya menggunakan alat manual,” tutur Katimin, pekerja lainnya.

Pelaksanaan pekerjaan pun cukup lama. Namun, para pekerja ini mengaku bisa menyelesaikan jika cuaca bagus. Sebab, jika turun hujan, maka akan menghambat pekerjaan di lapangan. Apalagi, untuk menurunkan material batu, harus dilempar dari atas satu per satu, karena kondisi medan yang sulit.

Sementara itu, Manajer Humas PT KAI Daop 9 Jember Lukman Arif saat dikonfirmasi terpisah mengakui, daerah itu sudah dimitigasi pihaknya sebagai daerah rawan bencana. “Namun, sejauh ini belum mengganggu perjalanan kereta api Jember - Banyuwangi,” jelasnya. Perjalanan kereta api masih bisa berjalan dengan normal.

Pihaknya terus berusaha untuk memperbaiki pondasi jembatan rel itu. “Jadi, tim kami sekarang mengerjakan bronjong di lapangan,” tegasnya. Nantinya, bronjongan ini diharapkan dapat memperkuat fondasi agar tidak sampai ada longsor susulan. Meskipun harus dengan alat manual, namun tetap akan diusahakan penyelesaiannya secepat mungkin.

Bukan hanya itu, untuk mencegah longsor lebih besar, pihaknya membuatkan saluran air di sekitar areal rel. sebab, sebelumnya sempat ada genangan air menutupi rel. “Makanya kita buatkan saluran agar air bisa langsung ke sungai dan tidak menggenang di bagian rel,” tegasnya.

Tidak cukup dua usaha fisik itu saja, PT KAI Daop 9 Jember juga menyiagakan tim yang bergantian untuk memantau kondisi lapangan setiap saat. “Tim pemantau rel ini melakukan tugasnya selama 24,” tegasnya.

Tim pemantauan ini diharapkan dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan dalam perjalanan kereta api. Ke depan, pihaknya pun berharap tidak ada lagi kejadian bencana dan perjalanan kereta api tetap lancar. (jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tanah-ambrol #jalur-ka-banyuwangijember 

Berita Terkait

IKLAN