Minggu, 18 November 2018 11:39 WIB
pmk

Kesehatan

Donor Mata Minim, Terpaksa Impor

Redaktur:

STERIL-Suasana operasi mata dalam kegiatan bakti katarak di Jakarta.

INDOPOS.CO.ID - Mata memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Itu sebabnya mata disebut sebagai jendela dunia.

Sayangnya, dewasa ini kasus penyakit mata makin banyak. Diantaranya, rabun karena rusaknya kornea mata, katarak, dan glaukoma. 

Penyakit tersebut terjadi karena kurangnya perhatian dalam menjaga kesehatan mata atau bisa juga karena bawaan dari lahir. Berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2014-2016, mengidentifikasi sedikitnya ada 3 persen penduduk Indonesia yang berusia 50 tahun ke atas menyandang kebutaan.

Sebanyak 4,5 persen dari data tersebut merupakan penyandang kebutaan kornea. Kebutaan juga terbagi menjadi tiga jenis. Pertama, kebutaan yang dapat diobati seperti katarak.

Kedua, kebutaan yang dapat dicegah atau diperlambat seperti glaukoma. Terakhir, kebutaan karena adanya infeksi pada kornea mata dan tidak dapat dicegah.

Cara yang dilakukan untuk mengobatinya adalah dengan melakukan transplantasi kornea. ''Kebutaan yang terjadi pada kornea mata hanya dapat diganti jika adanya kornea mata dari pendonor,'' ujar Dr Tjahjono D Gondhowiardjo, SpM, K, PHD di Hotel Pullman Central Park, Jakarta Barat, pekan lalu.

Sementara itu, tindakan transplantasi tergantung dari ketersediaan pendonor. Untuk mendonorkan kornea mata, seorang pendonor juga harus memiliki kriteria yaitu korneanya harus sehat dan tidak rusak.

Pendonor juga tidak boleh memiliki penyakit yang menular, karena jika mengambil kornea mata pendonor yang pernah menderita penyakit tersebut akan membuat daya tahannya melemah. ''Semua orang bisa jadi pendonor, tetapi dalam waktu mengambilnya kornea tidak rusak. Kemudian pendonor tidak menderita penyakit yang ganas dan menular seperti kanker, hepatitis, sifilis dan aids,'' paparnya.

Setelah mendapatkan pendonor, maka hal selanjutnya yang dilakukan adalah transplantasi kornea. Waktu pemulihan setelah itu adalah sekitar dua hingga tiga minggu telah dapat melihat dengan optimal dan pasien dapat menjalankan aktivitas secara optimal.

Salah satu faktor yang menurut Tjahjono memicu keterbatasan jumlah pendonor dari dalam negeri adalah fenomena donor kornea yang masih dipandang sebelah mata di Indonesia. Pandangan ini menyangkut kontroversi pendonoran dalam lingkup agama dan perizinan keluarga calon pendonor mata tersebut.

Saat ini tercatat mayoritas pendonor mata dari dalam negeri merupakan orang-orang dengan usia muda, yang risiko kematian masih 20 tahun ke depan atau lebih. ''Sementara kornea mata banyak dibutuhkan dalam waktu dekat, sehingga mau tidak mau kita harus mengimpor,'' kata Tjahjono.

Karena itu, dia mengharapkan partisipasi dan pengetahuan lebih masyarakat terkait dengan pendonor dan donor kornea. Menurut dia, sepasang kornea dari seorang pendonor dapat digunakan untuk membantu penglihatan dua sampai empat pasien penerima donor mata.

Salah satu solusi yang dilakukan adalah menghadirkan Lions Eye Bank Jakarta. Dengan harapan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai donor kornea.

Sehingga penanganan pasien yang membutuhkan tindakan transplantasi kornea mata dapat dilakukan lebih cepat. Pembukaan Lions Eye Bank Jakarta ini sendiri dilakukan pada November 2017.

Bank Mata di Indonesia masih sangat minim. Setiap orang dapat membantu dengan berbagai cara.

Salah satunya dengan berperan aktif dan mendaftar sebagai pendonor mata. ''Ketika orang mendaftarkan dirinya meninggal dunia, ia baru bisa mendonorkan matanya," ucap Ketua Lions Eye Bank Jakarta, dr Sharita R Siregar.

Saat seseorang mendaftarkan diri, lanjutnya, dia akan mendapatkan stiker hologram. ''Stiker hologram akan ditempelkan di kartu identitas diri seperti KTP,'' tukasnya. 

Nantinya hologram tersebut memudahkan petugas melakukan pencangkokan kornea saat pendaftar meninggal dunia. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #donor-mata 

Berita Terkait

Jangan Biarkan Kanker Meredupkan Mimpi

Jakarta Raya

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

IKLAN