Sabtu, 22 September 2018 08:12 WIB
pmk

news in depth

Gunakan Akun Palsu, Keuntungan Bisa USD900

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: DOK. INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Pelaku penyebar hoax atau berita bohong dan ujaran kebencian nampaknya semakin marak di Indonesia. Ini seiring gencarnya penangkapan terhadap pelaku tindak kejahatan tersebut yang berhasil ditangkap oleh jajaran Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. 

Sepanjang tahun 2017, tercatat, setidaknya ada 60 pelaku yang ditangkap karena diduga mengunggah ujaran kebencian dan hoax bermuatan SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) di media sosial. Parahnya, tidak sedikit pelaku yang menggunakan nama palsu, akun palsu untuk melakukan caci maki, provokasi dan memutarbalikan fakta. 

Namun tindakan yang meresahkan para netizen ini terungkap setelah Satgas Patroli Siber melakukan pemantauan terhadap grup-grup di media sosial. Para pelaku itu melakukan aksinya karena motif bermacam-macam, ada yang karena ketidaksukaan terhadap kelompok tertentu sampai ekonomi. 

Memasuki bulan ketiga tahun 2018, polisi sudah menangkap sedikitnya 25 orang tersangka. Para pelaku ada yang tergabung dengan kelompok maupun individu. 

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigjen M Fadil Imran mengamini penangkapan terhadap pelaku kejahatan siber itu. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen institusinya dalam memerangi hoax dan ujaran kebencian melalui media sosial. Sayangnya, ia enggan menanggapi pertanyaan soal tindak lanjut proses hukum terhadap para pelaku. 

"Silahkan hubungi Pak Irwan (Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri," singkatnya kepada INDOPOS, Kamis (15/3). 

Saat dihubungi, Kasubdit I Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Kombes Irwan Anwar belum memberikan keterangan. Namun ia pernah mengungkapkan bahwa penangkapan dan proses hukum terhadap pelaku masih berlanjut. 

Terakhir, pihaknya menangkap seorang pria berinisial KB (30) yang diduga kerap menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian di kawasan Cakung, Jakarta Timur, Rabu (7/3) malam sekitar pukul 23.00 WIB. Dalam menjalankan aksinya, pelaku kerap menggunakan akun Facebook milik orang lain. Tak tanggung-tanggung, akun Facebook yang berhasil dibajak oleh tersangka sudah mencapai seribuan akun. "Tersangka menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian dengan meng-hack akun FB orang lain. Sudah 1000 akun Facebook yang dibajak dan 50 akun yang sudah diganti sandinya, " jelasnya. 

Irwan menjelaskan, berita bohong dan ujaran kebencian yang disebarkan oleh tersangka terkait dengan konten suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), kebangkitan Partai Komunis Indonesia dan isu penyerangan ulama. Selain itu tersangka juga menyebarkan berita yang mencemarkan nama baik sejumlah tokoh nasional, seperti Ketua Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangam Megawati Soekarnopjtri dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Termasuk Imam Besar Front Pembela Islam Rizieq Shihab juga ikut menjadi sasaran hoax. 

Berdasarkan penyidikan sementara, polisi  belum menemukan keterkaitan tersangka KB dengan kelompok Muslim Cyber Army (MCA) atau Saracen. Ia melakukan tindak pidana itu hanya seorang diri. Namun, diakui Irwan, pola penyebaran berita hoax ilyang disebarkan tersangka menyerupai MCA dan Saracen. "Iya, pelaku termasuk juga mengarahkan isu di MCA. Jadi yang menyebarkan isu itu selain perorangan dan kelompok itu bukan hanya pelaku ini saja, tapi secara bertahap kami akan melakukan penyidikan kepada siapapun," ujarnya. 

Kendati demikian, polisi juga masih menyelidiki kemungkinan adanya pelaku lain dalam penyebaran berita hoax dan ujaran kebencian yang melibatkan tersangka tersebut. Begitu juga dengan kemungkinan adanya muatan politik di dalamnya. 

Mengenai kemungkinan tersangka bergabung dengan kelompok radikal, juga diakui Irwan, sampai kini belum ditemukan oleh penyidik. "Sejauh ini belum ada, sebagaimana kami sampaikan tadi. Motifnya itu hanya sakit hati sebagai pemeluk agama mayoritas di Indonesia melalui pemberitaan seringkali merasa agamanya dirugikan," ujarnya. 

Selanjutnya dari sisi ekonomi, tersangka memperoleh keuntungan financial dari usahanya memposting konten-konten tersebut dari Google AdSense. "Total keuntungan sekitar USD900. Kami masih dalami mulai kapan dia dapat keuntungan itu," jelasnya. (ydh)


TOPIK BERITA TERKAIT: #registrasi-akun-sosmed 

Berita Terkait

Buat Akun Facebook Saja Tak Perlu KK dan NIK

Nasional

Wacana Registrasi Akun Sosmed dengan KK Tuai Pro-Kontra

news in depth

IKLAN