Selasa, 17 Juli 2018 10:24 WIB
bjb juli

Opini

Van Gogh

Redaktur:

Catatan Dahlan Iskan

SEBENARNYA saya tidak perlu menulis topik ini. Ada yang lebih aktual. Misalnya, bagaimana orang Hongkong yang terkaya di Asia itu, Li Ka Shing, memutuskan pensiun hari ini di umurnya yang 90 tahun. Atau bagaimana Wang Qishan bisa diangkat jadi wakil presidennya Xi Jinping, kemarin. Tapi sesekali saya ingin juga menulis tentang pelukis tragis Vincent William van Gogh.

Saya baru nonton filmnya minggu lalu. Di atas pesawat dari Singapura. Judulnya: Loving Vincent. Yang baru dapat penghargaan sebagai film terbaik Eropa. Juga mendapat penghargaan Academy Award untuk kategori animasi.

Saya belum pernah nonton film-film terdahulu tentang pelukis tersohor dunia ini. Tapi kok ini ada film unik. Jalan ceritanya dibuat dalam bentuk lukisan semua. Lalu dianimasikan. Inilah untuk pertama kalinya ada film tentang pelukis dan jalan ceritanya dalam bentuk lukisan.

Pemilik ide film itu bukan orang Hollywood atau apalagi Bollywood. Melainkan seniwati dari negeri yang jarang dikaitkan dengan seni atau film: Polandia.

Dia seorang pelukis juga: Dorota Kobiela. Asalnya film ini dia buat hanya tujuh menit. Tapi ternyata banyak meraih pujian. Lalu dia jadikan sebuah film cerita 95 menit.

Sukses.

Biayanya USD 5 juta. Hasilnya, sampai akhir Februari lalu sudah USD 30 juta. Di Amerika memang baru dapat 6,6 juta dolar tapi si Tiongkok sudah melebihi 10 juta dolar. Kelihatannya film ini akan bisa menembus 50 juta dolar.

Nama Dorota Kobiela pun mendadak terkenal di dunia film internasional.

Pekerjaan terbesar Dorota adalah menyutradarai film ini. Dia juga yang menulis skenarionya. Tapi yang menguras dananya adalah bagaimana menyiapkan 165.000 lukisan sebagai frame animasi. Yang themanya sesuai dengan jalan cerita di film. Semua lukisan harus bergaya post-ekspressionis. Seperti asli aliran lukisan Van Gogh sendiri. Akhirnya dibuatlah beberapa ribu lukisan. Lalu dipilih seribu untuk dibuatkan animasinya.

Dorota akhirnya mendapatkan 125 orang pelukis yang mampu meniru gaya Van Gogh. Mereka datang dari 20 negara. Sayang tidak ada yang dari Indonesia. Mungkin tidak ada pelukis kita yang mendengar saat Dorota mengumumkan pencarian pelukis itu.
Banyak juga pelukis yang menolak gabung. Alasannya: itu bukan pekerjaan seniman. Itu pekerjaan tukang. Idenya sudah ada. Gayanya sudah harus seperti itu. Waktunya dibatasi. Taripnya sudah ditentukan. Di mana letak kesenimanannya?

Tapi yang berminat lebih banyak. Lebih 5.000 pelukis. Adalah satu kehormatan untuk bisa melukis salah satu kisah hidup pelukis yang begitu kesohor di dunia. Apalagi bagian yang difilmkan ini adalah bagian yang paling menarik dari Van Gogh: kematiannya yang kontroversial di usianya yang baru 35 tahun. Bunuh diri? Dibunuh?

Ceritanya pun menarik. Tukang poslah yang bercerita. Yang sering mengantar surat Van Gogh, terutama ke adiknya, Theo.

Saat Van Gogh meninggal 29 Juli 1890, masih ada satu surat untuk adiknya itu yang belum diantar. Adiknya, menurut alamat biasanya, tinggal di Paris. Maka sang tukang pos yang sudah tua meminta adiknya sendiri yang mengantarkan surat itu ke Paris.

Tentu harus cari waktu yang tepat.

Sampai di Paris alamat itu ternyata sudah tidak ditinggali Theo Van Gogh. Theo ternyata sudah meninggal. Dan jandanya sudah pindah.

Surat terakhir Van Goghlah yang menjadi pegangan teori bahwa Van Gogh mati dibunuh. Dalam surat itu disebutkan kondisinya saat itu. Baik dan normal.

Sedang yang meyakini Van Gogh bunuh diri adalah teori bahwa Van Gogh menderita depresi dan ingin tidak lagi jadi beban adiknya itu. Memang hanya adiknya itulah (di antara enam bersaudara dan teman-temannya) yang bisa memahami keanehan Van Gogh: Yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa akibat tetangga-tetangganya menganggapnya gila dan merasa terganggu karenanya. Setelah keluar rumah sakit dia mulai melukis lagi. Lalu memilih tinggal di panti penampungan. Konon hasil lukisan pereode antara si rumah sakit jiwa dengan panti penampungan inilah yang terbaik dan kini, seratus tahun setelah dia meninggal, berharga ratusan miliar rupiah per lukisan.

Dia tidak tahu itu. Saat dia masih hidup hanya dua lukisan yang laku. Itu pun tidak ada harganya. Lewat adiknya yang pekerjaannya adalah dealer lukisan. Mungkin karena sama-sama bergerak di bidang lukis sang adik bisa paham Van Gogh.

Sang adik yang selalu memenuhi kebutuhan uang sang kakak. Yang makannya tidak teratur tapi minum alkoholnya tak terukur. Gaya post-ekspressionisme memang belum dipahami saat itu.

Makam dua kakak-beradik ini berdampingan. Di wilayah Prancis utara. Dekat Belanda, negeri kelahirannya. Keduanya meninggal dalam waktu selisih hanya enam bulan. Sang adik juga menderita depresi. Akibat kurang tidur, kerja berlebihan dan memendam kesedihan yang dalam.

Judul film “Loving Vincent” sendiri diambil dari kata-kata yang ditulis Van Gogh untuk menutup suratnya kepada seseorang sebelum dia membubuhkan tanda tangan di atas namanya. Entah apakah ini surat yang menjadi salah satu penyebab depresinya. Gila, genius dan kreatif kadang memang sulit dimengerti di mana bedanya. (*)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #dahlan-iskan 

Berita Terkait

Zohri Sebentar Lagi

Opini

Trend Baru: Bayar Bagasi Apa Lagi

Opini

Saham Hilang Senilai Kanada

Opini

DISWAY - Perang Saat Lebaran

Opini

DISWAY - Lebaran di Rumah Sakit

Opini

Hotel Sapi

Opini

IKLAN