Selasa, 25 September 2018 10:26 WIB
pmk

Kesehatan

Waspada, Gadget Bisa Bikin Rusak Syaraf Lho

Redaktur:

BERBINCANG-Gelaran seminar kesehatan "Studi Klinis NENOIN 2018: Kombinasi Vitamin Neurotropik Terbukti Mengurangi Gejala Kerusakan Sistem Saraf Tepi" di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (16/3) lalu. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS.CO.ID

INDOPOS.CO.ID - Saat ini, setiap orang tidak bisa lepas dari penggunaan gadget. Hati-hati, ternyata kebiasaan menggunaan gadget yang terlalu lama bisa meningkatkan risiko terkena gangguan syaraf, lho.

Neuropati adalah gangguan dan kerusakan pada sistem syaraf yang ditandai dengan kesemutan, kebas, dan kram. Tanpa disadari, penyakit ini ternyata sangat berkaitan dengan aktivitas sehari-hari atau aktivitas yang dilakukan secara berulang-ulang.

Ketua Kelompok Studi Neurofisiologi dan Saraf Tepi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, dr Manfaluthy Hakim Sp.S(K) menjelaskan, terlalu banyak mengetik di laptop maupun smartphone dapat mencederai syaraf di lengan dan bisa menyebabkan carpal tanal syndrome. ''Kondisi tersebut akan membuat Anda merasa kesemutan dan kebas pada bagian lengan,'' jelasnya dalam konferensi pers "Studi Klinis NENOIN 2018: Kombinasi Vitamin Neurotropik Terbukti Mengurangi Gejala Kerusakan Sistem Saraf Tepi" di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakpus, Jumat (16/3) lalu.

Dalam kondisi yang lebih serius, lanjutnya, syaraf otot yang cedera akan mengalami pelemahan. Oleh karena itu, dibutuhkan jeda setiap 10 menit.

"Rileks (selama) setengah menit terus mulai lagi. Itu sudah sangat berarti,'' kata pria berkacamata itu. Dia menambahkan, berdasarkan penelitian, penggunaan gadget di Indonesia mengalami peningkatan signifikan.

Sehingga, kata dia, peningkatan angka kejadian neurotopi juga diprediksi meningkat. Penyakit yang akan menurunkan kemampuan motorik maupun sensorik itu juga bisa disebabkan oleh faktor risiko penyakit seperti diabetes, kurang bergerak atau olahraga, dan mengalami defisiensi vitamin B. 

Karena itu, kebutuhan vitamin B harus selalu terjaga karena akan bermanfaat bagi kesehatan sistem saraf. ''Vitamin B banyak ditemukan pada daging merah, kacang-kacangan, dan bij-bijian. Karena itu, kita sebaiknya memakan gizi yang seimbang. Pokoknya, 4 sehat 5 sempurna. Itu slogan saya sejak kecil,'' beber dokter ahli saraf tersebut.

Guna mengatasi gejala neuropati, dilakukan sebuah studi klinis tentang vitamin neurotropik yang terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12 yang juga didukung oleh PT Merck Tbk, perusahaan sains dan teknologi dalam sektor kesehatan, life science, dan performance materials. Kabar baiknya, studi tersebut berhasil menemukan cara untuk mengurangi gejala ini, yakni dengan konsumsi kombinasi vitamin B1, B6, dan B12 secara rutin. 

''Konsumsi kombinasi vitamin neurotropik menunjukkan hasil yang baik dalam mengurangi gejala neuropati, bahkan mulai terlihat pada minggu kedua setelah pemakaian rutin. Di akhir studi (12 minggu) ditemukan juga bahwa kualitas hidup responden meningkat,'' ungkapnya.

Di tempat yang sama, Prof Dr Rima Obeid dari Saarland University Hospital – Jerman, menyampaikan, mengkonsumsi kombinasi vitamin neurotropik (kombinasi Vitamin B1, B6 dan B12) terbukti lebih efektif dalam mencegah dan mengatasi penyakit neuropati dibandingkan dengan mengonsumsi vitamin neurotropik tunggal. Vitamin neurotropik tunggal adalah Vitamin B1, B6 atau B12 secara terpisah. 

''Kombinasi vitamin neurotropik dapat mengurangi gejala kerusakan syaraf tepi seperti rasa nyeri, mati rasa, kesemutan, dan menurunnya sensasi. Dalam kondisi terjadinya inflamasi, penguraian vitamin B6 meningkat sehingga mengurangi rasa nyeri,'' paparnya.

Dia lantas melanjutkan, kerusakan syaraf tepi juga umum terjadi pada pasien diabetes. ''Pasien diabetes mengalami kehilangan vitamin B1 melalui urin. Selain itu, pasien diabetes kronik yang diterapi dengan metformin (obat yang sering digunakan sebagai terapi pada pasien diabetes) dan pada pasien-pasien diabetes stadium lanjut dengan komplikasi, kadar vitamin B12 menurun. Sehingga, dibutuhkan asupan kombinasi vitamin neurotropik untuk memenuhi kebutuhan tubuh,'' imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Divisi Consumer Health PT Merck Tbk Holger Guenzel mengatakan, pihaknya berkomitmen mewujudkan kualitas hidup masyarakat yang lebih baik dan sehat lebih lama. Merck juga berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam menyebarkan edukasi dan meningkatkan pemahaman masyarakat terkait kesehatan saraf tepi. 

''Salah satu upayanya adalah dengan menginvestasikan sumber daya untuk penelitian dan menyediakan produk berkualitas tinggi untuk masyarakat. Kali ini kami berpartisipasi dalam melakukan studi klinis NENOIN untuk memberikan informasi lebih lanjut pada masyarakat mengenai cara tepat menangani gejala neuropati yang mereka alami. Dengan adanya hasil studi klinis ini, kami harap masyarakat dapat menjaga kesehatan sarafnya secara optimal dan memperbaiki kualitas hidupnya masing-masing,'' ujarnya. 

Selain edukasi hasil studi klinis terbaru, pihaknya terus berupaya untuk melakukan "Kampanye Terintegrasi Lawan Neuropati" bagi permasalahan syaraf tepi. Kampanye tersebut meliputi, Layanan Pemeriksaan Kesehatan Saraf gratis melalui NCP dan NeuroMobi, ajakan pada masyarakat untuk beraktifitas melalui NeuroMove - Senam Kesehatan Syaraf, Edukasi terhadap health care practioners (HCP) melalui NerveCareForum dan M-Care, dan juga penyediaan vitamin neurotropik yang berkualitas tinggi untuk mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN