Nusantara

Kisah Bayi Dua Tahun Penderita Hidrosefalus

Redaktur:
Kisah Bayi Dua Tahun Penderita Hidrosefalus - Nusantara

LEMAH - Muhammad Reyhan, bayi dua tahun penderita Hidrosefalus asal Sukadana, Kayong Utara. HIJABERS COMMUNITY

INDOPOS.CO.ID - Di usianya yang balita, Muhammad Reyhan hanya bisa terbaring lemah di ranjangnya. Ukuran kepalanya tidak seperti anak seumurnya. Buah hati pasangan Nurhayati dan Amri ini divonis mengidap hidrosefalus kongenital atau bawaan sejak lahir. Disebabkan penumpukan cairan pada rongga otak yang membuat kepala Reyhan sedikit demi sedikit membesar setiap harinya.

Lingkar kepalanya telah mencapai 72 cm dan berat badannya 12 kg. Karena kulit kepalanya masih tipis, maka penggelembungan tersebut membuat urat-urat kepala terlihat dengan jelas. Reyhan juga memiliki mata yang seperti memandang ke bawah.

Saat kebanyakan anak sedang asyik-asyiknya belajar berjalan dan mulai berbicara kepada orangtuanya di sekitarnya, tentu saja Reyhan tak dapat banyak beraktivitas. Dia baru bisa menyebut mama, menangis, dan tertawa.

Reyhan juga tidak boleh makan sembarangan. Sang Ibu, Nurhayati, mengatakan bahwa anaknya ini hanya bisa makan makanan tertentu saja. Plus terus menjalani beberapa pengobatan dan tindakan medis.

"Reyhan ini sejak lahir sudah terkena Hidrosefalus, dia sudah tiga kali operasi, dua kali  untuk pemasangan selang dan satu kali untuk pembuangan cairan di kepalanya," tuturnya, ketika dikunjungi Hijabers Community, di Masjid Al-Hadid, Polnep Pontianak, Kamis (15/3).

Hal itu dilakukan sejak Reyhan baru berusia tiga bulan. ”Sudah harus menjalani operasi pemasangan selang, agar cairan di kepalanya dapat kebuang walau sedikit. Selangnya itu dipasang dari kepala sampai ke perut dan dibuang melalui saluran pencernaan,” papar Nurhayati.

Untuk asupan gizinya, Reyhan hanya bisa minum susu. Khusus dari dokter. ”Susunya seperti sudah disterilkan gitu, terus ada juga makanan dari tepung, dibuatkan, dibulat-bulatkan. Karena Reyhan inikan makanannya gak bisa sembarang,” jelas sang bunda.

Ketika dikunjungi, Nurhayati terlihat telah tegar. Menerima kondisi anaknya apa adanya. ”Banyak orang tanya, ibu gak sedih? Saya sudah biasa ngelihat Reyhan. Awal-awal saja saya sedikit ngedown, gak apa-apa kok, saya kuat. Palingan sedih, ya kalo lihat anak seumur Reyhan udah bisa jalan, terus dia gak,” ujarnya.

Meski kondisi Reyhan seperti itu membuat Nurhayati dan suami bersedih, rasa bersyukur dikaruniai buah hati oleh Tuhan tetap ada. Pun masih ada asa agar Reyhan dapat sehat. Bisa normal seperti anak-anak lainnya. ”Bahagianya karena sudah diberi kepercayaan Allah untuk merawat Reyhan. Sebagai orangtua, tentunya harapan saya adalah kesembuhan dari Reyhan,” ungkapnya.

Setakat ini, pengobatan Reyhan terbantu dengan program BPJS Kesehatan dari pemerintah. Namun, untuk beberapa keperluan Reyhan sebenarnya tidaklah murah. Berdomisili di Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, membuat proses penyembuhan Reyhan sepertinya sedikit terkendala. Biaya transportasi dan lain-lain menjadi faktor penghambat pengobatannya.

”Awalnya saja, sebelum kita open donasi untuk bayi Reyhan dulu, waktu mau pergi ke Pontianak berobat keluarga masih pakai kapal, gak pakai pesawat. Kan kasian Adik Reyhannya digendong terus, belum lagi lama waktu di jalannya,” ungkap Amel, salah seorang relawan, yang acapkali menjenguk dan memberikan bantuan kepada keluarga Reyhan.

Meskipun kekurangan dimiliki Reyhan, ia tetap punya semangat. Terbukti, saat para relawan datang menjenguk, Reyhan memperlihatkan keceriaannya. ”Alhamdulillah, Reyhannya waktu dijenguk aktif banget. Dia bisa ketawa dan sekarang saja badannya sudah lumayan berisi, gak kaya dulu waktu pertama kali melihatnya,” ungkap Amel.

Reyhan tidak memiliki jadwal rutin untuk berobat ke Pontianak. Namun tetap memerlukan biaya untuk susu, asupan gizi, atau perlengkapan kesehatannya, seperti mengganti selang yang dipasang di badannya jika sewaktu-waktu terjadi masalah. Untuk itu Hijabers Community dan proyek konseptor akan membuat acara penggalangan dana berupa beauty class di What's up Cafe, Pontianak. Dapat pula disalurkan via rumah zakat. (Suci Nurdini Setiowati, Pontianak)

Baca Juga


Berita Terkait

Internasional / Bukti Penyerangan Kapal Tanker di Teluk Oman

Megapolitan / Miringnya Menara Syahbandar Malah Membuat Masyarakat Penasaran

Lifestyle / Waspadai Bahaya Nyeri Dada dan Nyeri Perut

Megapolitan / Teguh Sri Suseno Biasa Dipanggil Mbah Rejo, Si Pawang Hujan


Baca Juga !.