Senin, 24 September 2018 04:51 WIB
pmk

Kesehatan

Awas Medsos Juga Menjadi Penyebab Stres

Redaktur:

TEKNOLOGI-Seorang remaja putri bermain media sosial melalui ponsel. FIRGIAWAN/RADAR TASIKMALAYA/JPG

INDOPOS.CO.ID- Tingginya angka pengangguran yang terjadi, mendorong meningkatnya gangguan kejiwaan. Selain itu, stres juga tentu menyasar para pekerja di kota industri seperti di Batam, Kep Riau. Jika tidak bisa memahami persoalan secara bijak, maka akan digerus oleh gangguan kejiwaan.

Faktor pemicu stres lainnya saat ini adalah banjir informasi. Era internet membawa keuntungan maupun kerugiannya. Tidak semua orang mampu menghadapi berbagai stressor yang datang bertubi-tubi semacam itu. Barang siapa tidak dapat memilah-milah arus informasi dan kehilangan arah dalam persaingan yang amat ketat dalam arus globalisasi praktis sudah kalah.

Kemajuan yang terlalu cepat memaksa manusia melewati ambang batas kemampuan biologisnya untuk menerima stres. Demikian diungkapkan peneliti tingkah laku dan komunikasi, guru besar emeritus dari Universitas Friedrich-Wilhelm di Berlin, Gunter Tembrock.

Perubahan yang terus menerus dan semakin cepat, tidak akan mampu ditanggung oleh makhluk hidup manapun. Padahal, era globalisasi saat ini dengan cepat mengubah persyaratan kehidupan maupun persyaratan kerja.

Sama halnya yang disampaikan oleh Psikiater Rumah Sakit Awal Bros Batam, dr Ratna Istiastuti, SpKJ, MKes. Pemicu stres di era globalisasi di antaranya adalah gambaran situasi ekonomi, masalah komunikasi dalam masyarakat dan keluarga hingga pekerjaan. "Stres ini pula yang memicu beragam penyakit seperti gangguan tidur, serangan jantung, stroke, diabetes, somatoform seperti nyeri ulu hati (maag, Red), nyeri kepala dan nyeri tengkuk," kata Ratna, Senin (19/3).

Masalah terkait dengan keterbukaan informasi baik itu media sosial (medsos) juga menjadi penyebab stres. Ini diakibatkan informasi yang datang tidak diterima secara dewasa oleh seseorang. Sebenarnya, keterbukaan informasi dapat menjadikan sisi positif, kalau dicerna sebagai suatu cara modern untuk bisa berkembang.

Namun, jika suatu informasi disikapi dengan pemikiran yang curiga akan berimbas kepada beban pikiran. "Misalnya menyikapi dengan pemikiran yang negatif sehingga menjadi hal asing yang diterima oleh pikiran," ujarnya.

Selain itu, masyarakat industri juga kerap dihadapkan dengan realitas kehidupan masyarakat modern. Gaya hidup modern yang tidak bisa diterapkan berdasarkan kemampuan dan kondisi seseorang akan menjadi faktor stres juga. "Hendaknya memilah, gaya hidup mana yang bisa diterapkan. Apakah sesuai dengan kepribadian dan kemampuan kita, selanjutnya disesuaikan dengan pendapatan masing-masing," ungkapnya.

Sebuah kota idaman akan berkembang sehingga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya. Dalam hal ini dipastikan semakin banyak orang yang datang ke kota tersebut. Kemacetan pun bakal terjadi dan tidak dapat dihindari. Masyarakat industri pasti bakal mengalaminya, namun harus bijak menanggapinya. "Hal ini sebaiknya dirasakan sebagai suatu kompensasi kalau kita bekerja di kota industri. Diterima dengan lapang dada dan bersyukur bahwa kita masih diberi kesibukan atau pekerjaan," kata Ratna.

Ada beberapa langkah pencegahan stres masyarakat modern di tengah krisis. Ratna menyebutkan jangan buru-buru resign karena banyaknya tekanan, miliki asuransi walaupun dalam polis minim, sisakan waktu untuk tenang sejenak dan mengembangkan diri. "Jauhi teman yang negatif, ikuti kegiatan amal, pelajari situasi krisis dan jangan bermalas-malasan. Mendekatkan diri ke Tuhan dan jangan sampai mengganggu orang lain," sebutnya.

Stres di usia produktif bisa berkaitan dengan berbagai faktor. Seseorang yang mengalami stres, tubuh akan menciptakan mekanisme pertahanan diri yang disebut coping mechanism. Coping mechanism satu orang dengan yang lain itu berbeda. "Salah satunya terbentuk dari pola asuh orang tua dari kecil sampai seseorang itu bisa mempunyai coping mechanism matur (dewasa, Red). Faktor keluarga juga punya peranan penting untuk mencegah tingkat stres," jelasnya.

Dewasa ini juga, faktor ekonomi menjadi isu paling tinggi. Usia produktif terkadang mempunyai beban tanggung jawab yang cukup besar. Terlebih jika, biaya hidup tidak sesuai dengan pendapatan, makan akan timbul stressor tersendiri. Bagi masyarakat yang sedang bekerja, ujar Ratna menghadapi persoalan kurangnya waktu istirahat. Ini bisa diatasi dengan meningkatkan kualitas istirahatnya. Istirahat bukan hanya ditentukan dari kuantitas saja, tapi kualitasnya juga. "Olahraga teratur juga akan menjaga kebugaran dan meningkatkan endorphine dalam tubuh yang bakal menurunkan tingkat  stres," tutupnya. (why/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN