Selasa, 17 Juli 2018 10:59 WIB
bjb juli

Megapolitan

Paket Kebijakan Japek Bikin Pengusaha Truk Merugi

Redaktur:

TERSENDAT-Truk-truk yang melintas di ruas tol Jakarta-Cikampek (Japek) terpaksa menunggu jam ganjil genap selesai sebelum melintas, dan itu artinya banyak waktu terbuang. Toni Suhartono/Indopos

INDOPOS.CO.ID - Sepekan berlakunya tiga paket kebijakan Kementerian Perhubungan di ruas tol Jakarta Cikampek (Japek), pengusaha truk mulai merugi. Sebab, kendaraan angkutan juga menjadi bagian yang dilarang melintas pada pukul 06.00-09.00 pagi.

“Kami jelas rugi. Tapi karena ini kebijakan pemerintah kami mengalah. Karena keputusan ini berlaku sampai tiga proyek di tol Jakarta Cikampek selesai,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang Tarigan, di Bekasi, Senin (19/3).

Dari tiga kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, satu diantaranya, kata dia, berdampak kepada proses distribusi barang menggunakan truk atau kendaraan golongan III, IV, dan V. Dimana kebijakan Menteri Perhubungan juga membatasi jam operasional barang (dua arah) pada golongan III, IV, dan V. “Padahal ruas tol Jakarta Cikampek sangat sentral dalam menopang perekonomian,” paparnya.

Sejauh ini, Gemilang meyakini, untuk jumlah truk yang melintas di ruas tol Jakarta Cikampek mencapai 10 ribu unit setiap hari. Namun, setelah diberlakukannya kebijakan green line itu pengusaha truk mengatur siasat dengan berangkat lebih pagi atau melaju agak siang setelah jadwal pembatasan truk berlangsung.

Biasanya, dalam satu hari, truk bisa mengantar barang sebanyak satu rit (putaran). Namun sejak diberlakukannya tiga peket kebijakan itu sopir membutuhkan waktu hingga dua hari untuk bisa dapat satu kali pengiriman barang.

Guna meminimalisasi kerugian, pihaknya berkoordinasi dengan depo yang ada di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung-Cilincing dan KBN Marunda, Jakarta Utara. “Kita minta agar depo buka lebih pagi lagi, karena selama ini depo-depo baru dibuka pada siang hari. Kalau dibuka pada pukul 06.00, truk-truk kita akan lebih pagi melintas di tol,” katanya.

Sementara itu, Hasan, 55 sopir truk AM, dirinya merasa kecewa dengan aturan yang dibuat pemerintah. Sebagai sopir yang sudah berpuluhan tahun melalang melintang di angkutan barang, menjadi dirugikan atas aturan tersebut. "Kalau saya tidak kirim barang saya mau dibayar pakai apa," paparnya.

Hasan menambahkan, selama ini jalur truk atau angkutan sudah diberikan, dan selalu ditaati. Namun, soal kemacetan itu bukan semuanya disebabkan karena kehadiran kendaraan angkutan, melainkan banyaknya kendaraan pribadi. "Jangan tindas kami dong, kami sudah susah masa mau dibuat susah lagi," tandasnya. (dny)


TOPIK BERITA TERKAIT: #tol-japek #ganjil-genap 

Berita Terkait

Perluasan Ganjil Genap Bakal Dilanjutkan

Jakarta Raya

Jam Ganjil-Genap di Tol Japek Bakal Diubah

Megapolitan

Dishub Evaluasi Ganjil Genap Sepekan

Jakarta Raya

Dishub Evaluasi Ganjil Genap Sepekan

Jakarta Raya

Perluasan Ganjil- Genap Solusi Terpaksa

Jakarta Raya

IKLAN