Rabu, 21 November 2018 11:16 WIB
pmk

Internasional

Diusir Inggris, Diplomat Rusia Mulai Pergi dari London

Redaktur:

DIUSIR - Para Diplomat Rusia masuk ke bus satu per satu bersama dengan keluarga untuk bertolak ke Moskow, Rusia. AFP PHOTO / DANIEL LEAL-OLIVAS

INDOPOS.CO.ID – Staf Kedutaan Besar Rusia di London, Inggris, tak kuasa menahan air mata. Mereka menangis saat 23 diplomat Rusia yang diusir oleh Inggris masuk ke bus satu per satu bersama dengan keluarga masing-masing. Mereka akan menuju bandara dan bertolak ke Moskow, Rusia.

Total ada 80 orang yang pergi meninggalkan London kemarin (20/3). Mereka diangkut tiga bus kecil dengan pelat nomor diplomatik.

PM Inggris Theresa May mengusir 23 diplomat itu Rabu (14/3). Mereka diberi waktu sepekan untuk hengkang dari negara tersebut. Pengusiran itu dilakukan setelah Rusia tidak memenuhi deadline yang ditetapkan Inggris untuk menjelaskan insiden serangan racun pada Sergei Skripal. Saat itu, May menyebut para diplomat tersebut sebagai mata-mata yang disamarkan sebagai diplomat.

Sebelum kepergian 23 diplomat itu, Duta Besar Rusia untuk Inggris Alexander Yakovenko  menggelar acara perpisahan. Seluruh staf kedutaan juga hadir.

Pemerintah Inggris sedang menggodok kebijakan untuk menjatuhkan sanksi tambahan atau tidak pada Rusia. May juga mengadakan rapat dengan Dewan Keamanan Nasional (NSC) untuk membahas kasus Skripal tersebut.

Ketegangan Inggris-Rusia itu tampaknya akan berlangsung lama. Sebab, penyelidikan insiden peracunan tersebut juga berjalan lambat. Asisten Komisioner Kepolisian Metropolitan London Neil Basu mengungkapkan bahwa saat ini mereka berfokus untuk menyelidiki tempat-tempat yang dikunjungi Skripal sebelum ditemukan tak sadarkan diri bersama putrinya, Yulia, Minggu (4/3). Mereka kini mengamati rekaman CCTV dan telah mendata 400 pernyataan.

”Ini akan memakan waktu berminggu-minggu, bahkan mungkin berbulan-bulan,’’ ujar Basu saat diwawancarai oleh program 4’s Today BBC Radio. Hingga saat ini belum diketahui di mana dan bagaimana racun itu bisa masuk ke tubuh Skripal serta putrinya.

Sementara itu, Profesor Lenonid Rink meragukan keterlibatan Rusia dalam serangan ke Skripal dan Yulia. Ilmuwan era perang dingin tersebut pernah bekerja di fasilitas senjata kimia milik Uni Soviet yang terletak di Shikhany, wilayah Saratov, Rusia. Di tempat itulah Novichok dikembangkan. Dia adalah salah satu pencipta racun saraf mematikan tersebut dan bekerja di sana selama 27 tahun hingga awal 1990-an.

”Sulit dipercaya kalau Rusia terlibat karena mereka masih hidup,” ujarnya kepada kantor berita RIA seperti dikutip oleh Reuters. Rink mengungkapkan, jika pelakunya memang Rusia, mereka yang terkena racun itu pasti sudah mati.

Pertama, racunnya memang sangat mematikan. Alasan kedua adalah mata-mata Rusia tidak mungkin membuat kecerobohan seperti itu karena itu tidak bisa diterima dan mereka akan ditertawakan.

Kalau toh memang Rusia pelakunya, mereka tidak akan memakai Novichok. Sebab, nama racun tersebut menggunakan bahasa Rusia dan dikembangkan kali pertama di Rusia. Masih banyak racun mematikan jenis lain yang namanya tidak mencolok dan meminimalkan kecurigaan.

Rink mengungkapkan bahwa Novichok bukan lagi senjata rahasia yang hanya ada di Rusia. Beberapa negara seperti Inggris, Amerika Serikat (AS), dan Tiongkok sudah bisa membuatnya. (sha/c6/dos)


TOPIK BERITA TERKAIT: #rusia #inggris 

Berita Terkait

Rusia Siap Angkat Kaki dari Suriah

Internasional

Rusia Tolak Kebijakan Pensiun

Internasional

Hillary Clinton Yakini Rusia Akan Meretas Lagi

Internasional

Inggris Rilis Koin 5 Poundsterling

Internasional

Kroasia vs Inggris, Siapa Bisa Bendung?

Piala Dunia 2018

IKLAN