Selasa, 17 Juli 2018 10:22 WIB
bjb juli

Nusantara

Habis Ngumpet di Kebun, Bonita Geser ke Hutan

Redaktur:

Harimau Bonita saat berkeliaran di perkebunan kelapa sawit. Foto riau

INDOPOS.CO.ID - Tembakan bius sudah pernah menancap di tubuh Bonita beberapa hari yang lalu. Namun itu hanya membuat harimau betina ini tidur sebentar. Lalu bangun lagi, dan kabur. Ternyata, tembakan bius masih dalam dosis rendah. Oleh karena itu, tim penyelamatan harimau sumatera di Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir (Inhil), Riau menambah dosis bius.  "Kami juga lakukan penambahan dosis," kata Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I, Mulyo Hutomo, Rabu (21/3).

Dia mengaku penembakan pertama pada Jumat (16/3) lalu, sempat membuat Bonita pingsan. Namun sebentar pingsan, Bonita bangun lagi. Ketika itu, tiba-tiba mobil tim terpuruk ke dalam lumpur. Belum selesai mobil keluar, Bonita bangun, dan langsung kabur.

"Pada saat penembakan pertama, kami gunakan bius dengan dosis rendah. Ini sengaja kami lakukan, rencananya agar kami bisa mendekat. Setelah itu barulah kami lakukan tembakan dosis kedua. Namun karena mobil terpuruk itu, Bonita keduluan bangun," sebutnya.

Tak mau hal yang sama terjadi, tim medis di lapangan, sudah menambah bius. Bius ini akan berefek untuk membuat harimau tertidur dalam waktu sekitar satu jam. Saat ini, ada sebanyak tujuh anggota tim tembak bius yang merangkap sebagai dokter dan paramedis.

Sementara itu, dari laporan tim di lapangan, kata Hutomo, harimau Bonita sudah mulai bergeser ke kawasan hutan atau green belt. Sebelumnya, harimau yang sudah menewaskan dua warga ini, sempat lama bersembunyi di kebun Eboni, PT THIP. "Hari ini (Rabu, Red) teman-teman kami di sana melakukan patroli dan terpantau Bonita mulai masuk ke kawasan hutan," kata Hutomo.

Dia menjelaskan, kawasan hutan yang dimaksud merupakan jalur hijau atau green belt yang berbatasan langsung dengan perkebunan sawit PT THIP. Selama dua bulan terakhir, Bonita terus berkeliaran di perkebunan sawit milik perusahaan Malaysia itu. Tepatnya areal Eboni 62, 63, dan 64.

Dikatakan Hutomo, pada Rabu (21/3) Bonita diperkirakan mulai memasuki kawasan jalur hijau yang tidak jauh dari Eboni 68 PT THIP. Kawasan hutan itu memiliki luas sekitar 22 kilometer persegi. Hutomo menegaskan, meskipun Bonita tidak lagi berada di kawasan perkebunan sawit dan mulai bergeser ke hutan, dia memastikan tim gabungan penyelamat harimau terdiri dari TNI, Polri, BBKSDA serta Pemerintah setempat terus berupaya melakukan pencarian dan penyelamatan.

"Jadi meski telah memasuki kawasan hutan, tetap kami akan berupaya melakukan pencarian dan penyelamatan. Itu mutlak dilakukan karena Bonita dalam keadaan sakit (mengalami perubahan perilaku, Red)," ujarnya.

Saat ini, ada sekitar 50 orang tim gabungan dari TNI, Polri, BBKSDA serta pemerintah daerah masih terus berupaya melakukan pencarian Bonita. Strategi pencarian dilakukan dengan membentuk tiga tim. Penyisiran dilakukan siang malam dengan menyisir jalur Bonita yang telah dipetakan oleh tim sebelumnya. "Melihat kondisi itu, kita sekarang lakukan pengepungan. Ada yang di sisi timur, ada yang di barat, ada yang di sini selatan. Sehingga gerakannya terpantau oleh tim tembak bius kita," ujarnya.

Tim juga memancing harimau ini dengan meletakkan pakan di tepi green belt. Pakan ini diolah dari tumbuhan, dan menghasilkan aroma yang kuat. Sehingga mampu menarik perhatian Bonita. "Ini akan menarik Bonita keluar dari persembunyiannya. Umpan yang sudah diolah dari tumbuhan ini sudah mengandung zat adiktif. Ini akan membuat harimau lemas jika mengkonsumsinya," sebutnya. (dal/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #harimau-bonita 

Berita Terkait

IKLAN