Selasa, 25 September 2018 06:46 WIB
pmk

Kesehatan

Tak Bisa Instan, TBC Harus Diobati Secara Tuntas

Redaktur:

CEGAH :  Dalam menyambut peringatan Hari Tuberkolosis Sedunia 2018 Kementerian Kesehatan RI menggagas tema ‘Peduli TBC, Indonesia Sehat untuk menanggulangi penyakit tuberkolosis

INDOPOS.CO.ID – Penyakit tuberkulosis masih banyak terjadi di Indonesia. Kondisi tuberkulosis yang disebabkan infeksi kuman Mycobacterium tuberculosis bisa berkembang menjadi TBC MDR atau multidrug resisten jika pasien tak menjalani pengobatan secara teratur.

Seperti yang dialami Binsar Manik, 38, mantan penderita TBC yang didiagnosis mengidap TBC MDR karena enggan menjalani pengobatan sampai tuntas.

Dalam peringatan Hari TBC Sedunia yang dihelat Kementerian Kesehatan di Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Utara, Rabu (21/3), Binsar bercerita bahwa dirinya didiagnosis mengidap TBC klasik pada 1997.

Kala itu dia masih duduk di bangku kelas 2 STM di Medan. Mulanya dia hanya mengeluh batuk yang tak kunjung sembuh. Hingga akhirnya orangtuanya membawanya ke klinik dan didiagnosis mengidap infeksi TBC. ''Saya nggak tahu apa yang terjadi karena saya belum dapat info TBC seperti apa. Saya hanya merasa sakit dan tidak bisa sekolah. Setelah diperiksa, saya diberi obat beberapa bulan dan merasa sehat. Sudah merasa kuat, saya tidak melanjutkan pengobatan,'' akunya.

Pengetahuan yang terbatas soal TBC membuat Binsar hanya menjalani pengobatan selama tiga bulan. Padahal normalnya pengobatan TBC membutuhkan waktu minimal enam bulan. Jika tidak, pasien berisiko mengalami kekambuhan karena infeksi bakterinya tidak tuntas diobati.

Kemudian, pada 2009, Binsar kembali mengeluh batuk. Kali ini batuk yang dikeluarkannya disertai dengan darah. Hingga akhirnya ia kembali mengonsultasikan diri ke dokter. Ia kembali menjalani pengobatan, namun lagi-lagi Binsar putus obat.

Hingga akhirnya batuk darah yang dialaminya semakin parah. Saat berada di Medan, dokter yang menanganinya di Jakarta mengatakan bahwa kasus TBC yang dialami Binsar mengarah pada multidrug resisten dan harus menjalani proses pengobatan yang ketat. ''Saya putuskan ke Jakarta karena saya mau sembuh. Saya dirawat tiga hari untuk observasi TBC MDR. Selama pengobatan saya merasa halusinasi, tidak mau makan, merasa tertekan. Dengan kondisi yang lemah dan obat yang begitu banyak dan suntik, saya nggak kuat karena nggak bisa bekerja,'' akunya.

 

Akhirnya ia berkomitmen untuk berhenti kerja selama satu tahun demi menjalani pengobatan TBC MDR hingga tuntas. Komitmen ini dipilihnya karena tak ingin anggota keluarga dan orang lain di sekitarnya tertular TBC seperti yang dialaminya. Kini Binsar sudah dinyatakan sembuh TBC MDR sejak 2012 lalu. Ia pun bergabung dengan komunitas PETA alias Pejuang Tangguh untuk memotivasi para penderita TBC lainnya agar menjalani pengobatan hingga tuntas.

Ya, penyakit tuberkulosis atau yang lebih dikenal dengan TBC, masih menjadi pembunuh terbanyak di antara penyakit menular. Dunia pun masih belum bebas dari TBC. Berdasarkan laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1 jutaan kasus di Indonesia, namun baru terlaporkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak 420 ribu kasus.

Dr. Anung Sugihantono, M.Kes, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, menjelaskan, mereka yang belum diperiksa dan diobati akan menjadi sumber penularan bagi orang di sekitarnya. Hal ini yang menyebabkan seakan-akan masalah TBC tak kunjung selesai. Dunia ingin mencapai eliminasi TBC pada tahun 2030 dan Indonesia turut berkomitmen mencapainya. ''Penemuan kasus terus ditingkatkan secara intensif baik yang dilakukan fasilitas milik pemerintah maupun swasta, serta melakukan pendekatan terpadu layanan TBC dengan layanan kesehatan lainnya serta dilakukan juga penemuan aktif melalui pendekatan keluarga. Upaya ini didukung dengan edukasi terus menerus melalui berbagai kegiatan dan media,'' tandasnya.

Besar dan luasnya permasalahan akibat TBC mengharuskan semua pihak untuk dapat berkomitmen dan bekerjasama dalam melakukan pencegahan dan pengendalian TBC. Kerugian yang diakibatkannya sangat besar, bukan hanya dari aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial maupun ekonomi.

Dengan demikian TBC merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh, karenanya perang terhadap TBC berarti pula perang terhadap kemiskinan, ketidakproduktifan, dan kelemahan akibat TBC.

Dr. Anung menjelaskan, penyakit yang bisa terjadi pada semua lapisan ini sebenarnya bisa dicegah sejak dini dengan melakukan imunisasi BCG (Baccile Calmette Guerin). ''Kita pun harus menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Di dalam tumah harus tersedia ventilasi, air bersih, dan pastikan sinar matahari bisa masuk ke dalam rumah,'' ungkapnya.

''Indonesia peringkat ke tiga setelah China dan India, negara paling banyak menderita TBC. Oleh karenanya pemberian imunisasi sejak kecil paling efektif untuk melakukan pencegahan penyakit ini,'' tambahnya.

Jika sudah terkena TBC tidak perlu khawatir, Dr. Anung mengatakan penyakit ini bisa sembuh total walau sudah terjadi resistensi karena penggunaan obat. Kunci hanya satu, teratur melakukan pengobatan agar penyakit tersebut hilang 100 persen dari tubuh.

Jangan lupa, untuk menjaga etika batuk, tidak buang ludah sembarangan, jika baruk ditutup atau gunakan masker, tisu, sapu tangan ketika ada di ruang publik.

Dalam menyambut peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia 2018, Kementerian Kesehatan RI menggagas tema 'Peduli TBC, Indonesia Sehat' untuk menanggulangi penyakit tuberkulosis di Indonesia.

Dr. Anung mengatakan, lewat tema ini ingin mengajak semua pihak dan anggota masyarakat untuk turut berperan aktif dalam gerakan TOSS TBC (Temukan Obati Sampai Sembuh)sebagai upaya pencegahan dan pengendalian TBC. TOSS TBC adalah gerakan untuk menemukan pasien sebanyak mungkin dan mengobatinya sampai sembuh sehingga rantai penularan di masyarakat bisa dihentikan. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #kemenkes-ri 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN