Rabu, 15 Agustus 2018 04:45 WIB
pmk

news in depth

Operasi Caesar Lebih Berisiko tapi Paling Diminati

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: INT

INDOPOS.CO.ID – Berbicara mengenai persalinan, terdapat banyak cara atau teknik yang dapat dipilih seorang ibu untuk melahirkan anaknya. Teknik yang bermacam-macam ini tentunya disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya jika kondisi wanita lemah maka dipilih metode persalinan yang tidak membahayakan sang ibu dan janin yang dikandungnya.

Dokter Obgyn RS Bunda Jakarta, Dr Ivan Rizal Sini, FRANZCOG, GDRM MMIS, SpOG, mengungkapkan bahwa persalinan secara medis terbagi atas pervaginam, perabdomen Sectio Caesar (SC) dan instrumental dengan vakum atau forceps.

Pervaginam adalah persalinan yang dilakukan secara normal melalui jalan lahir vagina. Dalam tindakan ini, kecil kemungkinan adanya komplikasi pada bayi karena hanya kehilangan sedikit darah. Untuk komplikasi pascapersalinan berupa infeksi saluran kencing lebih sedikit, ekonomis dan lebih singkat, sehingga dapat pulang dalam waktu kurang lebih dua minggu.

”Namun ada kalanya persalinan spontan ini tidak dapat terjadi karena ditemukan faktor penghambat saat persalinan misalnya lingkar punggung wanita yang sempit, kelelahan, dan bayi berukuran besar,” terangnya kepada INDOPOS, Sabtu (24/3).

Untuk melakukan persalinan ini setidaknya dibutuhkan tiga hal utama yakni kekuatan mengejan sang ibu, keadaan jalan lahir, dan keadaan janin. Ketiga faktor tersebut harus terpenuhi, artinya ketiganya harus dalam keadaan baik. ”Cara mengurangi nyeri adalah dengan obat-obatan, seperti parasetamol atau gas NO2 dan suntikan opioid serta regional anaestesia seperti epidural atau ILA,” terangnya juga.

Sedangkan kelahiran dengan perabdomen yakni operasi caesar atau proses persalinan melalui pembedahan di mana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Operasi ini biasanya dilakukan karena permintaan ibu yang takut melahirkan secara normal.

Namun operasi caesar juga bisa dilakukan apabila kondisi ibu tidak memungkinkan, meski pun sang ibu ingin melahirkan secara normal. ”Kelahiran dengan operasi SC harus ada indikasinya,” bebernya.

Ia menjelaskan, indikasi medis yakni adanya komplikasi dalam kehamilan atau persalinan. Dalam kehamilan contohnya preeklamsia berat, plasenta previa, kegagalan tumbuh janin, prematur berat dan lain-lain. Contohnya, kegagalan proses bersalin yang biasanya disebabkan karena cephalopelvic disproportion atau malposisi atau salah posisi janin dalam kandungan.

"Bisa juga karena adanya gawat janin yaitu kekurangan oksigen janin. Saat ini ada argumentasi adanya indikasi permintaan (sosial) tapi secara medik ini bukan merupakan indikasi,” paparnya.

Sesungguhnya SC merupakan alternatif terakhir untuk melahirkan dan bisa diambil saat kondisi darurat. Namun tidak sedikit para calon ibu (primi gravida) memilih jalan SC by reguest, meskipun sebenarnya masih dapat melakukan persalinan secara normal. Sering kali perasaan cemas dan takut atau tidak sanggup untuk melahirkan secara normal melanda.

Lalu dengan mudahnya mereka memilih jalan caesar untuk melahirkan, tanpa mengetahui dampaknya. Sebagai salah satu operasi besar, SC tentu saja mempunyai risiko tersendiri. Misalnya, efek dari obat anestesi pada saat oprasi, sakit memang tidak terasa, tetapi setelah pengaruh anastesi itu hilang rasa sakitnya teramat sangat melebihi rasa sakit yang dirasakan saat post partum normal).

Selain itu, kerusakan pembuluh darah, bekas luka irisan pada rongga uterus yang tidak menutup sempurna (dapat menimbulkan infeksi), kontak yang lama kepada bayi oleh karena sang ibu sibuk dengang luka SC serta gangguan kandung kemih atau organ lain.

”Jarak untuk melahirkan lagi sangat lama setelah seorang perempuan melakukan SC, pada umumnya minimal dua hingga tiga tahun, sedangkan jika melahirkan normal dalam waktu setahun sudah bisa melahirkan lagi. Namun sebaiknya kita melihat kembali kondisi sang ibu,” paparnya juga. Jadi, katanya juga, operasi SC jadi wacana dan pertimbangan bagi ibu yang menginginkan persalinan dengan operasi tapi tidak dalam kondisi darurat.

Tindakan melahirkan selanjutnya adalah instrumental dengan vakum atau forceps. Ia menerangkan, bahwa persalinan dengan alat bantu vakum pada dasarnya tergolong sebagai persalinan normal. Hanya saja dibantu dengan vakum, alat berupa penghisap berbentuk cup yang digunakan untuk menarik keluar bayi dengan perlahan dan lembut.

Cara penggunaan vakum adalah dengan meletakkan vakum di atas kepala bayi yang menghubungkan mangkuk dengan mesin. Alat ini menggunakan tenaga pompa atau listrik. Vakum dinyalakan pada saat ibu mengejan dan mulut rahim sudah terbuka penuh, serta kepala bayi sudah berada di bagian bawah pinggul.

Vakum hanya akan dilakukan jika terdapat beberapa kemungkinan buruk, di antaranya membahayakan kesehatan dan nyawa ibu dan anak atau proses persalinan yang lama sehingga ibu kehabisan tenaga.

”Pada saat menggunakan vakum seorang ibu tidak boleh mengejan terlalu kuat karena dapat memicu hipertensi dan membahayakan jiwa. Persalinan menggunakan vakum ini membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit secara keseluruhan,” paparnya lagi.

Sedangkan untuk persalinan dengan bantuan alat berupa forsep ini dilakukan apabila mengalami kesulitan akibat kondisi ibu yang tidak bagus, misalnya terkena serangan jantung, asma, atau keracunan kehamilan dan dapat membahayakan nyawa ibu dan anak. Forsep adalah alat bantu persalinan yang terbuat dari logam menyerupai sendok. Persalinan ini dapat dilakukan meskipun ibu tidak mengejan dan biasanya membutuhkan episiotomi.

”Instrumental biasanya kalau ada gangguan kemajuan di akhir fase persalinan. Untuk ppsi-opsi alternatif seperti yang saya sampaikan adalah metode yang belum bisa secara konklusif diendorse,” tandasnya. (ays)


TOPIK BERITA TERKAIT: #news-in-depth #operasi-caesar 

Berita Terkait

IKLAN