Survei PolcoMM Dinilai Tak Masuk Akal

INDOPOS.CO.ID – Hasil survei yang dilakukan PolcoMM Institute dinilai tidak masuk akal. Terlebih soal Partai NasDem, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Hanura bakal tak dapat kursi di parlemen. Padahal, baik partai besutan Surya Paloh maupun partai yang dinakhodai Oesman Sapta Odang (Oso) memiliki ambisi besar pada Pemilu 2019 mendatang. 

Ketua DPP Partai NasDem Irma Suryani Chaniago mengatakan, pihaknya tidak khawatir akan hasil survei yang dikuluarkan PolcoMM Institute yang hanya mengantongi elektabilitas 2,50 persen dan bakal tak dapat kursi di parlemen untuk periode mendatang. Justru survei itu tampak tak masuk akal.

“Dulu 2014, NasDem belum punya anggota DPR saja bisa dapat 6,8 persen. Sekarang punya anggota DPR, punya bupati, wali kota dan gubernur, masa tidak bisa lebih dari 6,8 persen. Nggak masuk akal kan,” tegasnya kepada INDOPOS, Senin (26/3).

Menurut Irma, NasDem punya ambisi besar dalam Pemilu 2019 nanti. Ambisinya tidak sekadar lolos parlemen, akan tetapi menargetkan tembus posisi tiga besar pada Pemilu 2019 mendatang. “Target kami masuk tiga besar, bukan sekadar lolos parliamentary theshold,” tandasnya.

Baca Juga :

Keyakinan itu, sambung Irma, bukan tanpa dasar, Partai NasDem bergerak serius mewujudkan ambisi. Salah satu caranya dengan merekrut beberapa tokoh yang berpotensi mendulang suara, seperti Sahrul Yasin Limpo—Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo bergabung dengan partai NasDem. “Sudah saya bilang kami punya bupati, wali kota dan gubernur. Insya Allah yakin,” tegasnya.

Diamini Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh. Dia mengaku tak terlalu mempersoalkan posisi partainya dalam survei Pemilu 2019, terlebih hasil riset lembaga survei PolcoMM Institute. “Wajarlah karena itu merupakan pandangan dan berdasarkan penelitian daripada lembaga survei,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Senin (26/3).

Baca Juga :

Paloh mengaku tetap menghormati hasil survei itu. Minimal, hasil survei bisa menjadi pegangan NasDem untuk menatap Pemilu 2019, karena NasDem tetap optimistis. “Dengan kemampuan apa yang saya rasakan dan saya miliki sebagai pemimpin partai ini, insya Allah barangkali NasDem ada tiga besar itu,” ujar dia.

Menurut Paloh, NasDem memiliki peluang mencapai target tiga besar pemenang pemilu dan angin segar bagi perkembangan NasDem dari serangkaian konsolidasi di sejumlah wilayah. Beberapa tokoh dan pentolan partai di daerah juga mulai merapat ke NasDem. “Ini momentum baik saya kira. Firasat saya mengatakan NasDem bisa menjaga tempo seperti ini. Saya pikir NasDem menjadi partai besar nanti, insya Allah,” imbuhnya.

Senada dengan Ketua Fraksi Partai Hanura DPR RI Inas nasrullah Zubir. Dia juga menyatakan, tidak khawatir atas hasil survei PolcoMM, mengingat sudah biasa mendapat hasil buruk dalam survei. “Hanura pada Pileg 2014 juga tak mencapai empat persen hasil surveinya,” katanya kepada INDOPOS saat dihubungi, Senin (26/3). 

Sejatinya, sambung Inas, Hanura mampu memutas balikan keadaan. Terbukti pada Pemilu 2014 lalu, partai yang kini dinakhodai Oso itu mampu meraup lima persen perolehan suara nasional. “Tapi faktanya Hanura berhasil meraup lebih dari lima persen. Hal itu dikarenakan yang disurvei adalah partai, bukan caleg. Padahal Hanura masih mengandalkan kekuatan caleg yang umumnya tokoh dan memiliki segmen pemilih tersendiri,” terangnya.

Sementara Ketua Umum PPP Romahurmuziy enggan menanggapi hasil sirvei PolcoMM tersebut. “Itu tidak penting,” tegasnya singkat, Senin (26/3).

Terpisah, Ketua Bidang Pemenangan Presiden Partai Bulan Bintang (PBB) Sukmo Harsono menyatakan, keberatan atas hasil survei PolcoMM. “PBB sebagai partai yang masih minim sosialisasi dan belum punya anggota DPR RI dan tidak punya menteri, juga media, maka jelas tidak spontan ada dalam pemikiran orang ketika ditanya secara spontan,” ujarnya kepada INDOPOS, Senin (26/3). 

Menurut Sukmo, metode pertanyaan survei PolcoMM yang berdasarkan ‘top of mind’ menjadi penyebab rendahnya perolehan suara PBB. Dia pun menantang semua lembaga survei mengganti metode pertanyaan. Jika demikian, Sukmo yakin kekuatan PBB akan tampak jelas menjelang Pemilu 2019. “Lembaga survei harus berani membuat pertanyaan dengan sistem tatap muka dan menyodorkan daftar pertanyaan, misal ‘partai mana yang akan Anda pilih dalam Pemilu 2019’ dan sodorkan daftar nama 19 partai peserta pemilu. Maka, saya yakin hasilnya akan beda,” tegas dia. (aen)

Komentar telah ditutup.