Rabu, 15 Agustus 2018 04:45 WIB
pmk

Kesehatan

Maag Dianggap Remeh, Bisa Berujung Kematian

Redaktur:

dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH ahli penyakit dalam serta konsultan penyakit lambung dan pencernaan. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Sakit maag menjadi penyakit yang sering diabaikan. Berawal dari seringnya menunda waktu makan, orang dengan muda terkena maag.

Penyakit perut yang satu ini adalah akibat dari gaya hidup sebagian besar warga perkotaan yang menyimpang. Mengkonsumsi minuman beralkohol, merokok, dan kopi adalah salah satu bentuk tren gaya hidup yang justru memicu maag.

Pemilihan makanan yang tidak sehat, tidak bervariasi, rendah nutrisi, dan tinggi kandungan lemak, disertai stres akibat pekerjaan juga dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan maag. Menurut dokter ahli penyakit dalam dan konsultan penyakit lambung serta pencernaan dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, sakit maag tidak memandang status sosial, siapapun dia dan apapun jabatannya bisa mengalami sakit maag. ''Apalagi hasil penelitian di Jakarta menunjukkan, penderita maag pada kelompok umur yang produktif, pada posisi yang memang mencari nafkah baik untuk dirinya maupun keluarganya. Ibu rumah tangga yang bertugas mengelola keuangan keluarga, termasuk juga dalam kelompok yang cukup tinggi terkena sakit maag. Artinya, mereka yang produktif, masih aktif melakukan aktivitas kegiatan sehari-hari,'' paparnya kepada INDOPOS, Rabu (28/3).

Dokter yang bertugas di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta ini mengatakan, salah satu penyelesaian mengatasi sakit maag adalah dengan mengatur pola makan, menjaga tingkat stres, dan memperhatikan konten makanan.

''Juga jangan mengkonsumsi obat-obatan atau jamu-jamuan secara sembarangan karena hal itu yang menyebabkan usus luka sehingga bisa terjadi pendarahan,'' sarannya.

Dunia kedokteran mengenal maag sebagai sindrom rasa sakit atau tidak nyaman yang terjadi pada daerah ulu hati, saluran cerna bagian atas dan organ sekitar. Gejala yang biasanya terjadi antara lain mual, kembung, cepat kenyang, kurang nafsu makan, bahkan berujung muntah dan diare.

Terdapat dua jenis maag, yakni maag fungsional dan maag organik. Maag fungsional merupakan penyakit maag yang setelah dideteksi ternyata tidak mengalami gangguan anatomis pada saluran pencernaan. Sedangkan maag organik merupakan penyakit maag yang terdapat gangguan anatomis berupa luka pada saluran pencernaan.

Untuk penderita sakit maag organik, tetap membutuhkan obat anti asam untuk membantu menekan produksi asam lambung selama 12-14 jam. Namun, obat ini hanya bisa didapat dengan resep dokter.

Obat maag yang dijual bebas hanyalah obat antasida yang sifatnya menetralkan asam lambung selama sekitar 6 jam. Hati-hati, penyakit maag kronis juga bisa merenggut nyawa.

Seperti yang terjadi pada almarhum presenter Dr OZ, dr Ryan Thamrin. Ari menyebut, maag akut berbeda dengan maag kronis.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam tersebut, maag akut adalah penyakit pada lambung, terjadi tiba-tiba pada seseorang yang sebelumnya tidak mengalami keluhan apa pun di bagian lambung. ''Kalau dia tiba-tiba sudah sampai muntah-muntah, itu bisa dibilang maag akut,'' jelasnya.

Sementara yang sudah dalam jangka lama, disebut maag kronis. Maag kronis ini mengakibatkan kondisi nyeri ulu hati, kembung, mual, begah dan rasa cepat kenyang.

''Kalau sudah dalam jangka panjang bolak-balik karena maag, berarti maag kronis. Ini akan diinvestigasi lagi. Karena akan terbagi lagi, apakah dia termasuk organik atau fungsional,'' tuturnya.

Jika termasuk fungsional biasanya karena pola makan yang tidak teratur, atau mengkonsumsi makanan berlemak asam dan pedas. Sementara pada maag organik biasanya ditemukan luka di lambungnya atau di usus 12 jari.

''Atau juga maag organik ini bisa terjadi karena adanya polip, tumor, atau kanker,'' imbuhnya. Sementara untuk mengatasi kondisi pasien dengan penyakit maag kronis juga tidak bisa sembarangan. Kembali lagi dilihat penyebabnya dan juga kondisi yang ditemukan pada pasien.

''Harus kita evaluasi dulu. Sudah di USG atau belum. Kalau sudah, bisa ketahuan harus apa. Misalnya ada batu empedu ya batu empedunya diangkat,'' katanya.

Tapi jika USG dirasa belum maksimal dilanjut dengan endoskopi. ''Kita lihat diendoskopi. Misal kalau ada kuman ya itu yang harus diobati. Semua pengobatan dilakukan sesuai dengan kondisi yang ditemukan pada pasien tersebut,'' lanjutnya.

Dia menyimpulkan, bahwa penyakit maag kronis bisa berbahaya jika memang terjadi komplikasi atau adanya penyakit lain di luar maag. Namun jika hanya sakit maag saja, masih bisa diatasi dan tidak akan sampai menyebabkan kematian. ''Kalau maag saja, hanya kualitas hidupnya saja yang terganggu,'' pungkasnya.

Sementara itu, Disease Prevention Expert yang juga CEO dari In Harmony Vaccination dr Kristoforus Hendra Djaya SpPD pernah menjelaskan, maag diketahui saat perut mulai terasa begah atau penuh. Gejala setiap orang berbeda-beda, bervariasi. Dari mulai ringan di antaranya rasa tak nyaman di perut, nyelu ulu hati, agak mual, sesak, perih, panas, dan banyak sendawa.

”Jadi kalau lagi serangan itu maag akut, jika dicuekin saja itu bisa menjadi maag kronis. Banyak persepsi orang kurang tepat,” urainya, belum lama ini.

Maag akut jika dibiarkan bisa lebih berat menjadi maag kronis. Tentu itu sudah menjadi proses yang menahun. Jika sudah kronis, akibatnya bisa parah.

”Bisa muntah hebat, jadi asam lambung itu bisa naik penyebabnya macam-macam. Bisa telat makan atau makan tak teratur, batuk pilek pun asam lambung bisa naik,” ungkapnya.

Kristoforus menjelaskan maag berat bisa disebabkan infeksi, kuman, hingga kanker di bagian lambung. ”Di Indonesia rata-rata penyakit maag karena fungsional,” imbuhnya.

Masyarakat diminta untuk menjauhi kebiasaan menunda makan jika sudah waktunya untuk makan. Setiap orang tentu memiliki jam makan yang berbeda. Jika sudah memiliki waktu atau kebiasaan makan pada jam tertentu, maka hal itu jangan ditunda.

”Konsistensi makan teratur apa nggak, setiap orang berbeda. Misalnya sudah biasa makan siang jam 12 ya harus makan, atau jam 13 maka harus makan. Jangan ditunda. Maag bukan telat makan, tapi makan tak teratur,” pungkasnya. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Cukup Pilates, Skoliosis Hilang

Kesehatan

Bye-Bye Kulit Kendur

Kesehatan

Diabetes Masih Dianggap Enteng

Kesehatan

Konsumsi Vitamin dan Buah, hingga Konsultasi ke Dokter

News in Depth

Gara-Gara Medsos, Tidur Susah Nyenyak

Kesehatan

Tips Hilangkan Bau usai Makan Bawang Putih

Kesehatan

IKLAN