Senin, 19 November 2018 06:18 WIB
pmk

Ekonomi

BI Ogah Turunkan Suku Bunga

Redaktur:

TAPIN/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Bank Indonesia (BI) memastikan tidak menurunkan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repp Rate di kisaran 4,25 persen. Padahal, saat ini tren suku bunga global tengah mengalami kenaikan. Bahkan, dalam tempo dua tahun terakhir, The Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat (AS) telah menaikkan tingkat suku bunga Fed Fund Rate (FFR).

BI tidak ikut tren global dengan alasan bunga acuan bank sentral domestik telah mengalami koreksi delapan kali. Selain itu, BI melihat siklus makroekonomi, tingkat inflasi, menjaga ekspor impor barang dan jasa. Dengan begitu, defisit terjaga di bawah 3 persen produk domestik bruto (PDB). "Suku bunga sudah cukup ideal. Jadi, bank harus optimistis men-supply kredit," tutur Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara di Jakarta, Senin (2/4).

Selain itu, BI juga telah melakukan pelonggaaran kebijakan loan to value (LTV) dan mengubah metode Giro Wajib Minimum (GWM) dari fix menjadi averaging. Diharap

industri perbankan memanfaatkan pelonggaran LTV, sehingga dari sisi supply kredit akan membaik.

Di sisi lain, BI memprediksi akan ada lebih banyak negara menaikkan suku bunga acuan tahun ini. Itu dilakukan untuk menjaga ekonomi global tumbuh dengan sehat dan mencegah gelembung (bubble) dalam perekonomian. "Kami berharap ekonomi tumbuh secara sehat," imbuh Mirza.

Sejumlah negara berpeluang melanjutkan kenaikkan suku bunga acuan macam AS, Inggris, Kanada, dan Australia. Suku bunga acuan Australia telah naik. Tahun ini, suku bunga Australia kemungkinan bakal naik. Merujuk fenomena itu, BI tidak bakal ikut-ikutam menaikkan suku bunga acuan. "Kami pertimbangkan dua faktor utama yaitu inflasi dan defisit transaksi berjalan terjaga," ulas Mirza.

Sepanjang tahun lalu, realisasi inflasi 3,61 persen atau sesuai target BI, empat plus minus satu persen. Sementara itu, CAD ada di kisaran minus 1,7 persen dari PDB.

Tahun ini, BI menargetkan inflasi ada di kisaran 2,5 hingga 4,5 persen. Sementara itu, CAD sedikit membengkak ke kisaran minus 2 hingga 2,5 persen dari PDB karena perekonomian yang semakin menggeliat. Namun, level CAD tersebut masih di bawah level aman tiga persen dari PDB.

Di saat bersamaan, pelaku industri juga diimbau untuk berani ekspansi. Dengan demikian, pertumbuhan kredit bisa bergerak ke level dua digit. Sebagai catatan, berdasar data uang beredar BI, penyaluran kredit per akhir Februari 2018 mencapai Rp 4.690,6 triliun atau tumbuh 8,2 persen secara tahunan. (far)


TOPIK BERITA TERKAIT: #bank-indonesia #ekonomi 

Berita Terkait

Generasi Sandwich Rentan Stres

Jakarta Raya

128 Pedagang Malam Surken Terusir

Megapolitan

Gesits Sudah Dipesan 30 Ribu Unit

Nasional

Dorong Perizinan Bagi IKM

Jakarta Raya

Terinspirasi dari Hobi Traveling

Jakarta Raya

SOS Patok Revenue Rp 1 Triliun

Ekonomi

IKLAN