Rabu, 14 November 2018 12:10 WIB
pmk

Kesehatan

Bermasalah saat BAB, Waspada Kanker Kolorektal

Redaktur: Syaripudin

DETEKSI DINI: dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM memaparkan bahaya kanker Kolorektal. Foto///dewi maryani/indopos

INDOPOS.CO.ID - Saat ada perubahan kebiasaan buang air besar yang berulang-ulang, perubahan konsistensi tinja, atau adanya darah dalam tinja, dan perut yang terasa tak nyaman, hati-hati bisa jadi Anda menderita penyakit kanker kolorektal.

Kanker kolorektal adalah kanker yang menyerang usus besar atau dubur. Penyakit ini bisa menyerang pria maupun perempuan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kanker kolorektal merupakan penyebab kematian kedua terbesar untuk pria dan penyebab kematian ketiga terbesar untuk perempuan.

Data GLOBOCAN 2012 menunjukkan, insiden kanker kolorektal di Indonesia adalah 12,8 per 100 ribu penduduk usia dewasa, dengan tingkat kematian 9,5 persen dari seluruh kanker. Bahkan, secara keseluruhan risiko terkena kanker kolorektal adalah 1 dari 20 orang (5 persen).

''Prevalensi kanker kolorektal di Indonesia yang meningkat tajam menjadi perhatian khusus bagi Yayasan Kanker Indonesia untuk mengajak masyarakat agar lebih waspada dan tidak mengabaikan tanda-tanda penyakit ini dengan melakukan deteksi dini mengingat gejala kanker kolorektal tidak terlihat jelas,” terang Prof. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPDKHOM, FACP, FINASIM, Ketua Umum YKI dalam diskusi Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat, di Yayasan Kanker Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (3/4).

Untuk itu, katanya juga, dia mengapresiasi kerjasama dengan Merck dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker kolorektal tersebut. Prof. Aru juga mengatakan, sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa kanker kolorektal erat kaitannya dengan kanker keturunan atau kanker yang terjadi pada usia lanjut.

Padahal kanker yang tumbuh pada usus besar atau rektum ini juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. ”30 persen dari penderita kanker kolorektal adalah pasien di usia produktif, yaitu di usia 40 tahun atau bahkan lebih muda lagi. Kanker kolorektal yang ditemukan di Indonesia juga sebagian besar bersifat sporadis dan hanya sebagian kecil bersifat herediter (keturunan),'' tukasnya.

Faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kasus kanker ini di Indonesia, seperti penyakit radang usus besar yang tidak diobati juga dipengaruhi kebiasaan banyak makan daging merah, makanan berlemak, alkohol.

Bisa juga karena  kurang konsumsi buah-buahan serta sayuran dan juga ikan, kurang beraktivitas fisik, berat badan yang berlebihan, serta kebiasaan merokok.

dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSCM mengatakan sekitar 25 persen pasien kanker kolorektal terdiagnosa pada stadium lanjut, sehingga kanker telah menyebar ke organ lain.

”Pada kondisi ini, pengobatan menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan tingkat keberhasilan juga menurun. Studi juga menunjukkan, katanya juga, hanya 10-12 persen dari pasien ini hidup lebih dari 5 tahun,” katanya.

Maka dari itu, katanya juga, pemeriksaan dini atau skrining usus dan pentingnya menghindari faktor risiko dengan melakukan perilaku hidup sehat sangat disarankan untuk mencegah kemungkinan kanker sejak dini. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kanker-kolorektal #kesehatan 

Berita Terkait

Hampir Capai Seratus Persen

Jakarta Raya

Anak Sering Mual dan Muntah, Waspadai Ginjal

Jakarta Raya

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

Pasien Tinggal Datang, Tak Perlu Antre

Jakarta Raya

IKLAN