Lifestyle

Ayam Square, Resto Islami di Pulau Lombok, Pengunjung Disambut Al Maidah Ayat 88

Redaktur:
Ayam Square, Resto Islami di Pulau Lombok, Pengunjung Disambut Al Maidah Ayat 88 - Lifestyle

UNIK-Pelanggan menikmati hidangan di rumah makan Ayam Square yang berkonsep Islami. NATHA/GORONTALO POST

FATIH KUDUS JAELANI, Mataram

INDOPOS.CO.ID - Selain rasa yang pas di lidah, Ghozali juga memikirkan harga yang muat di kantong. Begitu juga dengan fasilitas penunjang bagi pengunjung. Tempat yang nyaman, dengan kata-kata bernuansa Islami yang terpajang di dinding.

Tempat ini seperti sebuah kafe. Mulai dari tempat duduk, meja, dan tata letak pencahayaannya. Di dindingnya, juga terpasang kata-kata berbingkai. Bedanya, bila di kafe pengunjung menjumpai kata-kata berisi kopi dan pandangan hidup, di rumah makan milik M Ghozali Alhidayat, yang dijumpai kata-kata bernuansa Islami.

Itulah konsep yang ditawarkan Ghozali di rumah makan Ayam Square. Tempatnya berada di kawasan pertokoan Gomong Square, Mataram. Berjajar dengan beberapa tempat makan lainnya. Fasilitas penunjangnya juga sama seperti kafe. Ada free wifi dan tempat colokan. Lebihnya, jika kafe tak menyediakan musala, maka Ayam Square menyiapkan ruangan tempat ibadah. Ukurannya cukup luas. Bisa dipakai berjamaah dengan jumlah makmum delapan orang.

”Dan makanlah makanan yang halal lagi baik. Dari yang telah Allah rezekikan kepadaku. Dan bertaqwalah kepada Allat SWT.” Quran Surat Al Maidah Ayat 88 itu terbingkai di sebuah dinding di samping kasir. Setiap pengunjung yang datang, seolah tak bisa mengelak untuk tidak membaca terjemahan ayat suci Alquran tersebut. “Saya bersyukur kalau pengunjung membacanya. Hitung-hitung bisnis sekaligus berdakwah,” kata Ghozali.

Selain surat Almaidah, ada juga ajakan untuk tak lupa membaca basmalah sebelum makan. Kemudian tak jauh dari tempat itu, ada juga kata-kata yang mengajak untuk selalu menjalankan ibadah di awal waktu. ”Karena memajang kata-kata itu, kita menyiapkan musala,” terang Ghozali.

Di samping tempat makan, ada juga tempat khusus meeting yang tersedia. Ruangan tersebut ber AC. Di ruangan tersebut, terdapat toilet dan musala. Ghozali menjelaskan, konsep yang ditawarkannya merupakan hasil pengamatan di beberapa tempat di Kota Mataram. Selama ini, ia mengatakan tidak pernah ada yang menawarkan konsep Islami.

Namun upaya segmentatif untuk sebuah bisnis kuliner dianggap menutup ruang bagi khalayak ramai. Ghozali menyadari hal itu. Bagaimana jika ada pengunjung nonmuslim yang ingin datang menikmati sajian ayam squarenya. Bagaimana jika tempat tersebut membuat beberapa pengunjung tak nyaman dengan fasilitas penunjang yang dikhususkan bagi umat muslim.

Sebagai pengusaha, Ghozali mengatakan konsep tersebut merupakan niatannya untuk memberikan hal baru. Namun bukan berarti konsep segmentatif tersebut membuatnya lupa pada kunci utama dari sebuah bisnis kuliner. “Yang utama adalah rasa, kemudian harga. Baru fasilitas dan penunjang lainnya,” terang Ghozali.

Fokus yang terus ditingkatkan Ghozali di Ayam Square bukan konsep Islami tersebut. Akan tetapi rasa. Itulah sebabnya, setiap saat ia terus memikirkan bagaimana sajian ayam menjadi prioritas utama. Membuktikan kata-katanya, Ghozali pun mengeluarkan hidangan ayam goreng dengan daging super empuk. "Ini renyah dan rasa bumbunya sampai ke tulang,” kata Ghozali mempromosikan rasa hidangannya.

Selain rasa, harga juga menjadi hal utama kedua dari sebuah bisnis kuliner. Melihat posisi Ayam Square yang dikelilingi kampus, pengunjung yang terbanyak pastilah mahasiswa. Karena itu, ia menyajikan  tiga jenis makanan dengan harga yang pas di kantong mahasiswa.

Harga yang pas tersebut, ditunjang lagi dengan menu yang bervariasi. Mulai dari hidangan tradisional, oriental, sampai yang western seperti steak. Steak yang dihidangkan pun bisa disantap dengan harga yang tak menguras kocek.  Ayam quare belum lama berdiri. Usianya baru saja empat bulan. Ghozali mengatakan, masih banyak yang harus ia benahi. Jika saja orang sudah banyak yang mengetahui dan menikmati rasa hidangannya, maka ia akan melanjutkan kembali misi berdakwah dengan bisnis kulinernya tersebut.

”Ke depan, mungkin kita bisa juga membuat menu dengan nama yang bernuansa Islami,” kata Ghozali. (*)

TAGS

Berita Terkait

Lifestyle / FJB Perkenalkan Makanan Nusantara

makanmakan / Berburu Kuliner Halal di Krabi

Jakarta Raya / Makan Shabu-shabu Tanpa Ragu

wisata / Kuliner Jadi Salah Satu Pemikat Wisatawan

Ekonomi / Wisata Baru Gading Serpong


Baca Juga !.