Jumat, 21 September 2018 05:37 WIB
pmk

Kesehatan

Waspada, Lupus Serang Perempuan Usia Produktif

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: Things Health

INDOPOS.CO.ID - Salah satu jenis penyakit autoimun yang paling dikenal masyarakat adalah lupus. Ya, saat ini, kasus penyakit lupus makin tinggi.

Fakta lainnya, lupus lebih banyak menyerang perempuan daripada laki-laki. Khususnya perempuan di usia produktif. Wah!

''Maka itu, perempuan usia produktif wajib waspada,'' saran Dokter Spesialis Penyakit Dalam Dr dr Iris Rengganis, Sp.PD-KAI saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, belum lama ini. Dia menjelaskan, ada beberapa hal yang membuat perempuan lebih banyak mengidap lupus. Salah satunya karena faktor hormonal.

''Hormonal endogenous pada wanita sebetulnya tidak selalu dapat menerangkan terjadinya penyakit autoimun. Namun, faktor lainnya seperti variasi biologis wanita, kehamilan dan menstruasi bisa jadi merupakan kondisi yang dapat menerangkan prevalensi tinggi pada perempuan,'' ujarnya.

Salah satu penderita lupus, Sylviana Hamdani mengaku beberapa tahun ini berjuang menghadapi lupus. ''Kendala terbesar akibat lupus dan sjogren's syndrome adalah kelelahan kronis, nyeri sendi hebat, dan meriang sehari-harinya,'' ujar wanita yang juga berprofesi sebagai jurnalis itu.

Dia mengatakan, dari tanda-tanda awal, belakangan dirinya cepat lelah. ''Terkadang mandi saja, lelah. Selesai mandi, mesti rebahan. Atau duduk sandaran. Ini terjadi setiap hari. Jadi setiap kegiatan harus ada jeda untuk istirahat,” kata wanita berkacamata itu.

Sylvi menambahkan, efek kelelahan kronis pada lupus yang dilawan dengan niat yang kuat, bergelas-gelas kopi, atau minuman berenergi malahan menghilangkan konsentrasi dan mengacaukan koordinasi gerak. ''Saya pernah mengalami cedera cukup parah saat kaki tiba-tiba kehilangan koordinasi gerak dan jatuh dari tangga. Belum lagi menjatuhkan buku dan kertas. Menumpahkan makanan dan minuman juga sudah biasa,'' akunya.

Setiap hari, dia mengkonsumsi enam jenis obat. Belum termasuk tiga jenis obat tetes mata untuk sjogren's syndrome.

''Dan hanya dua jenis obat saja yang bisa ditanggung BPJS,'' urainya. Meski demikian, dia tetap optimistis bisa sembuh.

''Puji Tuhan, sampai saat ini saya belum putus asa dan masih berupaya sembuh total. Stigma tentang odapus (orang dengan lupus) dan odagren (orang dengan sjogren's syndrome) itu malas dan manja harus dihapus,'' imbuhnya.

Dia juga menceritakan bagaimana seorang odapus mudah flare. Yaitu, sebuah kondisi dimana seluruh sendi dan tulang tubuh sakit luar biasa.

''Otot rasanya seperti jelly, lengket, dan tidak bisa digerakkan. Ini biasanya diikuti demam dan brain fog, sehingga perlu merangkak ke kamar mandi,'' paparnya.

Meski patut diwaspadai, odapus tetap punya harapan sembuh. Seperti yang dialami Lilis Setyaningsih.

''Dulu sempat sampai koma gara-gara lupus. Tapi alhamdulillah sekarang bisa sembuh dan nggak perlu obat-obatan lagi,'' katanya.

Lilis menderita Lupus di 2006 dan mulai sembuh di 2012. Tahun 2013 lepas dari semua obat sampai sekarang.

''Sembuhnya ya berobat ke dokter penyakit dalam dan spesialis mulut. Selain obat juga jaga pola makan. Selama lima tahun makan makanan organik dan buah. Nggak stres, nggak capek, banyak bersyukur dan banyak ketawa''. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

Mengetahui Manfaat Daun Kelor

Kesehatan

IKLAN