Minggu, 22 Juli 2018 04:01 WIB
BJB JULI V 2

Kesehatan

Agar Otak Berkembang Maksimal

Redaktur:

PAPARAN ILMIAH-Diskusi panel "Manusia 4.0 Digital Millennial Brains" di Hotel Diradja, Jakarta Selatan, Sabtu (7/4) lalu. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kemajuan teknologi yang sangat pesat, khususnya dibidang teknologi informasi, seperti internet of things, smart city, big data, dan artificial intelligence (AI) memberikan dampak terhadap perubahan lingkungan. Dampaknya bersifat vilatility, uncertainity, complexity, dan ambiguity (VUCA).

Co-Founder dan CEO PT Neuronesia Neurosains Indonesia Bambang Iman Santoso mengatakan, tidak hanya mengubah gaya hidup manusia dari generasi ke generasi, kemajuan teknologi ikut berimbas terhadap banyak hal. Diantaranya, cara pandang, cara berpikir, dan akselerasi neuron otak dalam merespon setiap perubahan dan kemajuan teknologi informasi tersebut.

''Melalui ilmu neurosains dan disiplin ilmu lainnya, diharapkan dapat membantu menjelaskan proses perubahan yang terjadi secara ilmiah. Sekaligus menyampaikannya kepada masyarakat awam dengan bahasa yang membumi,'' ujar Bambang di sela acara seminar dan diskusi panel "Manusia 4.0 Digital Millennial Brains" di Hotel Diradja, Jakarta Selatan, Sabtu (7/4) lalu.

Bambang mengatakan, selain mengingatkan kembali berdirinya Komunitas Neuronesia, seminar ini juga ingin membahas dampak kemajuan teknologi dan perubahan lingkungan yang VUCA terhadap otak, pikiran, dan perilaku. ''Komunitas Neuronesia ingin membahas respon otak, pikiran, dan perilaku terhadap perubahan kemajuan teknologi di masing-masing generasi. Sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya ilmu neurosains terutama dalam era zaman now yang bersifat disruptif,'' kata Bambang

Board of Honor Neuronesia Community, Dr dr Tauhid Nur Azhar SKed MKes menjelaskan, keputusan, tindakan, emosi, dan respon lainnya yang dimunculkan oleh tubuh berasal dari otak. Sebagai pusat sistem saraf, otak mengatur dan mengoordinir sebagian besar gerak, perilaku, dan fungsi tubuh makhluk hidup, seperti jantung dan fungsi tubuh lainnya.

Akan tetapi, berbeda dengan fungsi tubuh lainnya, pada manusia, otak dapat melakukan proses berpikir yang akan menentukan tindakan seseorang secara nyata terhadap suatu hal sebagai respon dari pikiran yang ditentukan oleh otak. "Untuk itu, ilmu terkait otak menjadi penting. Pasalnya, belajar mengenai otak lebih dalam dapat membantu seseorang untuk bertahan hidup, hingga mengetahui bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain,'' tandasnya.

Tak ada kata terlambat untuk belajar. Motto Komunitas Neuronesia ini sejalan dengan fungsi otak yang akan terus belajar untuk mengembangkan otak manusia dan bagaimana cara ia berperilaku.

Selain untuk berkomunikasi dengan orang lain, ilmu tersebut juga dapat bermanfaat untuk memahami otak sendiri. Untuk mengenal diri sendiri, dapat dilakukan dengan cara berbicara dengan diri sendiri tentang apa yang telah dilakukan. 

Cara ini dapat mengaktifkan kesadaran diri saat menggunakan emosi. Sehingga secara sadar untuk mengendalikan diri, seseorang dapat mengaktifkan sistem limbik otak tersebut yang berfungsi untuk mengatur emosi. Sementara itu, untuk mengenal bagian otak yang digunakan orang lain, dapat dilihat dari bahasa verbal dan bahasa tubuh. 

Di mana, saat emosi, seseorang berarti tengah mengaktifkan amigdalanya, sehingga orang lain tidak bisa masuk. Setelah berpikir, barulah seseorang bisa masuk untuk berkomunikasi.

Ini adalah sebuah mekanisme bertahan yang diaktifkan oleh otak. Adapun mekanisme tersebut terbagi menjadi dua, yakni fight atau flight, hadapi atau pergi. ''Manusia di bumi ini punya mekanisme pertahanan atau defensif. Kalau emosi, fungsinya menjadi adaptasi dan defensif,'' katanya. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

IKLAN