Kamis, 19 Juli 2018 04:26 WIB
BJB JULI V 2

Ekonomi

Memaksimalkan Bonus Demografi, Edukasi Usia Dini Dongkrak Jumlah Investor

Redaktur:

SANTAI-Ari Adil Independen Wealth Managemen Advisor.

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah mengalami kesulitan menangani bonus demografi. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016 menaksir, Indonesia mencapai puncak bonus demografi antara 2025-2030. Di mana, jumlah usia produktif antara 15-64 tahun mencapai 70 persen, sedang sisa 30 persen nirproduktif meliputi usia 14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas.

Sejatinya, bonus demografi tidak otomatis berdampak positif. Konsekuensi logis bonus demografi, pada jangka menengah akan menghadpi tekanan pengangguran menyusul lapangan pekerjaan menyempit. Untungnya, kondisi itu bisa ditutupi dengan kemunculan beragam perusahaan rintisan (startups) beberapa tahun terakhir. Nah, penciptaan lapangan kerja baru melalui pendekatan teknologi diharap menjadi solusi efektif secara berkalanjutan.

Untuk jangka panjang, bonus demografi diprediksi mendongkrak konsumerisme. Itu seiring peningkatan daya beli pekerja muda. Karenanya, sejumlah langkah untuk menarik minat berinvestasi perlu ditingkatkan. Pendeknya, budaya investasi sejak dini kaum milenial mutlak supaya mampu menghindari efek domino bonus demografi. ”Di sini pentingnya edukasi untuk berinvestasi,” beber Independent Wealth Managemen Advisor, Ari Adil, belum lama ini.

Salah satu langkah mendongkrak budaya berinvestasi di kalangan pekerja muda melalui digitalisasi produk dan layanan keuangan. Di Inggris, tahun lalu hampir seribu cabang perbankan ditutup dan Uni Eropa menutup hampir 9 ribu cabang pada 2016. Itu terjadi karena meningkatnya penggunaan layanan online termasuk mobile banking. HSBC, salah satu institusi perbankan terdepan di pasar negara itu, tahun lalu hanya mematok 50 persen cabang dari jumlah cabang 1.300 yang dimilikinya sejak 2011.

Selain itu, strategi pemasaran digital inovatif dapat mendukung model operasi perbankan saat ini. Bank of America, misalnya, membuka halaman Pinterest pada 2015 bertujuan memberi informasi tentang pengelolaan uang kepada pelanggan lebih muda. Sementara Barclays meluncurkan kampanye Digital Eagles untuk memasyarakatkan teknologi digital sekaligus konten perbankan bagi seluruh masyarakat di Inggris.

Dengan rata-rata usia generasi milenial Indonesia sebagai digital-savvy saat ini dikisaran 20 tahun. Artinya, puncak bonus demografi pada 2030 nanti, usia milenial menapak 32-33 tahun. Dengan begitu, digitalisasi produk dan layanan wealth management (pengelolaan kekayaan) sebagai media berinvestasi sangat membantu milenial memersiapkan keuangan sehat untuk masa depan. ”Tidak kalah penting bagaimana menyampaikan informasi mudah diterima kalangan muda,” imbuh peraih The Best Mutual Fund Provider in Indonesia tahun lalu itu.

Pemerintah sebetulnya telah melakukan berbagai program dan upaya channeling bersama swasta dalam mengkampanyekan gerakan investasi kaum muda. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal domestik didominasi generasi milenial yaitu usia 21-30 tahun sebesar 26,24 persen dari total investor. Kalangan tua usia 31-40 tahun hanya 25,12 persen. Kemudian, investor berusia 51-60 tahun mencapai 13,95 persen. Investor di bawah 20 tahun mencapai 3,82 persen. Itu menjadi bukti kalau adopsi digital dapat menggiring bonus demografi menuju konsekuensi positif melalui p budaya investasi.

Meski adopsi digital pada layanan wealth management tidak mengalami peningkatan secar signifikan, pengalaman digital dan mobile investor muda merupakan sukses baru industri layanan wealth management. Maklum, saat ini 30-35 persen pencarian produk investasi dilakukan melalui saluran digital. Investor atau calon investor dengan pengalaman digital berpotensi 3,5 kali lebih mungkin umemindahkan aset dari pengguna platform lain. Untuk itu, perusahaan penyedia produk dan layanan wealth management harus meningkatkan kemampuan pemasaran digital untuk menarik perhatian pada awal perjalanan investasi. (far/bersambung)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ekonomi #boks 

Berita Terkait

IKLAN