Rabu, 15 Agustus 2018 04:39 WIB
pmk

Ekonomi

Memaksimalkan Bonus Demografi, Tanpa Digitalisasi Bakal Ketinggalan

Redaktur:

Ari Adil-Mendorong perusahaan mengedukasi investor milenial.

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah sebetulnya telah melakukan berbagai program dan upaya channeling bersama swasta dalam mengkampanyekan gerakan investasi kaum muda. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat jumlah investor pasar modal domestik didominasi generasi milenial yaitu usia 21-30 tahun sebesar 26,24 persen dari total investor. Kalangan tua usia 31-40 tahun hanya 25,12 persen. Kemudian, investor berusia 51-60 tahun mencapai 13,95 persen. Investor di bawah 20 tahun mencapai 3,82 persen. Itu menjadi bukti kalau adopsi digital dapat menggiring bonus demografi menuju konsekuensi positif melalui budaya investasi. ”Karena itu, tidak kalah penting bagaimana menyampaikan informasi mudah diterima kalangan muda,” imbuh Independen Wealth Managemen Advisor, Ari Adil.

 Meski adopsi digital pada layanan wealth management tidak mengalami peningkatan secara signifikan, pengalaman digital dan mobile investor muda merupakan sukses baru industri layanan wealth management. Maklum, saat ini 30-35 persen pencarian produk investasi dilakukan melalui saluran digital. Investor atau calon investor dengan pengalaman digital berpotensi 3,5 kali lebih mungkin memindahkan aset dari pengguna platform lain. Untuk itu, perusahaan penyedia produk dan layanan wealth management harus meningkatkan kemampuan pemasaran digital untuk menarik perhatian pada awal perjalanan investasi.

Melihat hubungan itu, Ari percaya pendekatan dan keterlibatan serta pengalaman secara digital dalam mengelola kekayaan akan menjadi senjata strategis yang paling potensial di tengah bonus demografi. Berikut ini adalah analisa Ari terkait tiga tren digital dalam layanan wealth management sebagai acuan perusahaan penyedia produk dan layanan wealth management untuk memenangkan kompetisi di era digital-savvy.

Pengingkatan adopsi digital dan omni channel membentuk harapan investor teknologi Investor 2.0 dilengkapi internet dan smartphone dalam mengkonsumsi informasi dan akses layanan. Berbagai inovasi perusahaan penyedia produk dan layanan wealth management harus terus dilakukan untuk memperluas akses, diantaranya bermitra dengan penyedia platform digital e-commerce hingga marketplace khusus mengenai produk investasi yang menyediakan layanan jual-beli secara online.

Selanjutnya, hampir 50 persen penasihat keuangan akan mencapai masa pensiun dalam dua dekade ke depan. Dengan sedikitnya penasihat keuangan, penyedia produk dan layanan wealth management perlu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi. Karena itu, tren layanan penasihat robotik (robo-advisory) akan berkembang melalui penggabungan teknologi dan metode penasihat investasi.

Berikutnya, perusahaan penyedia produk dan layanan wealth management harus menyesuaikan perilaku nasabah. Saat ini sangat penting melayani nasabah dengan mengindentifikasi kekurangan. Caranya melatih dan mendidik penasihat keuangan untuk mengisi kekosongan tidak dapat digantikan teknologi. Setiap institusi keuangan harus bergabung bergkampanye investasi pada usia produktif. ”Jadi, bonus demografi dapat berdampak luas termasuk memicu perluasan jumlah investor dan pendalaman keuangan. (far/*)


TOPIK BERITA TERKAIT: #ekonomi #boks 

Berita Terkait

IKLAN