Jumat, 20 Juli 2018 07:57 WIB
BJB JULI V 2

Ekonomi

Saingi Impor, Pemerintah Diminta Serius Lakukan Industrialisasi Garam

Redaktur: Ali Rahman

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah mendata kebutuhan garam industri untuk tahun ini sebesar 3,7 juta ton. Untuk memenuhi jumlah tersebut, diputuskan diperoleh dengan cara impor. Hal ini menuai polemik.

Polemik tersebut juga dipicu dengan kehadiran Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 9 Tahun 2018 tentang Tata Cara Pengendalian Impor Komoditas Perikanan dan Komoditas Pergaraman sebagai Bahan Baku dan Bahan Penolong Industri pada 15 Maret 2018.

Tentu wacana agar Indonesia bisa melakukan industriliasi garam di negeri sendiri menguat. Guru Besar Bidang Teknik Rekayasa Lingkungan Universitas Indonesia Misri Gozan, menilai, pemerintah harus serius jika ingin melakukan hal tersebut.

Hal ini juga menjadi ulasannya, bedah buku Hikayat Si Induk Bumbu: Jalan Panjang Swasembada Garam. Dia menyebut pemanfaatan teknologi menjadi kuncinya.

"Untuk menyaingi garam impor syaratnya pemerintah harus serius melakukan Industrialisasi garam. Produksi massal dengan memanfaatkan teknologi menjadi salah satu kuncinya," ucap Misri.

Dia menyebut, untuk menjamin swasembada garam, ada banyak hal yang harus disiapkan pemerintah dewasa ini.

"Mulai dari deregulasi perizinan, infrastruktur untuk industri garam, hingga penggunaan teknologi untuk diversifikasi produk," ungkap Misri.

Selain itu, masih kata dia, faktor cuaca menjadi satu hal yang juga diperhitungkan. Dirinya mencontohkan antara Australia dengan Indonesia.

Contohnya, dari segi udara saja, kita berbeda dengan Australia. Di Indonesia butuh waktu yang lama untuk penguapan air laut, karena udara di Indonesia sudah dipenuhi air. Di Australia prose penguapan cepat," jelas Misri.

Dia juga mengingatkan, di Indonesia, konsumen tersebar memang berasal dari garam industri. Tapi sampai sekarang kualitas garam masih belum memenuhi spesifikasi untuk kebutuhan industri itu sendiri.

"Fakta yang tak boleh dipungkiri adalah bahwa konsumen terbesar garam dalam negeri berasal dari garam industri. Sementara, sampai sekarang prduksi garam dalam negeri masih belum bisa memenuhi spesifikasi kebutuhan garam industri," kata Misri.

Sementara, dalam acara yang digelar Universitas Diponegoro itu, Ketua Pusat Unggulan Inovasi (PUI) Garam Nasional Makhfud Efendy, mengatakan permasalahan lain yang sampai saat ini belum diselesaikan adalah data garam yang masih simpang siur.

"Selain dihadapkan pada permasalahan teknologi, Kita dihadapkan pada permasalahan akses data dan informasi garam," pungkas Makhfud. (dil)


TOPIK BERITA TERKAIT: #garam 

Berita Terkait

IKLAN