Selasa, 24 Juli 2018 12:37 WIB
BJB JULI V 2

Headline

KPK: Kalau Presiden Anggap Kasus Novel Penting, Segera Bentuk TGPF

Redaktur: Ali Rahman

Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif saat ditemui di Bandara Sam Ratulangi Manado. Foto: Nugrah/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Laode Muhammad Syarif, mendesak Presiden Joko Widodo sesegera mungkin membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) atas kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Saat ditemui INDOPOS, di Bandara Sam Ratulangi Manado, Kamis (12/4) sekira pukul 15:32 Laode mengatakan, kasus penyiraman itu sudah tak bisa dibiarkan. Presiden tak boleh diam. Apalagi kasus tersebut sudah memasuki usia satu tahun pascapenyerangan pada 11 April 2017 silam.

"Kasus ini sudah setahun. Namun kami akui sampai sekarang belum juga ditemukan penyerangnya. Karena itu KPK mendukung upaya-upaya untuk mendapatkan penyerang Mas Novel. KPK sangat mendukung presiden jika memang kasus ini dianggap penting untuk diungkap," katanya.

Dia mengatakan, sejauh ini KPK tidak tinggal diam mengusut siapa dalang penyerang penyidik andalannya itu. Semisal proaktif berkoordinasi dengan Badan Intelijen Negara (BIN) yang bekerjasama dengan Polda Metrojaya misalnya. "Kami terus lakukan upaya untuk mencari titik terang. Jadi kalau ada usulan dari penggiat anti korupsi untuk mempercepat penemuan pelakunya, kami sangat menunggu," tukasnya

Untuk diketahui, kini Novel Baswedan tinggal menunggu waktu untuk kembali ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penyidik senior lembaga antirasuah itu menunggu tahap pemulihan pascaoperasi mata tahap dua setelah setahun lalu ia diserang menggunakan air keras. Ia mengukur kemampuan membacanya sebelum kembali bekerja.

Novel merampungkan operasi mata tahap dua di Rumah Sakit National Eye Center, Singapura beberapa waktu lalu. Operasi ini adalah operasi lanjutan setelah pada 22 Februari lalu, ia pulang ke Indonesia. Lebih dari 10 bulan sebelumnya, Novel berada di Singapura untuk menjalani perawatan mata akibat penyerangan yang terjadi 11 April 2017, subuh hari. Ia harus mengimplan total mata kirinya dan memakai hard lens untuk mata kanannya. (nug)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kasus-novel-baswedan #kpk 

Berita Terkait

IKLAN