Rabu, 14 November 2018 10:33 WIB
pmk

Kesehatan

Hati-hati, Ini Bahaya Kalau Sering Mager

Redaktur:

INSTRUKTUR-Suasana kegiatan kampanye ”Ayo Indonesia Bergerak” di Rumah Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/4) lalu. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Kita sering mendengar istilah mager atau malas bergerak. Gaya hidup sedentari atau malas bergerak (mager) kini menjadi isu penting di Indonesia.

Spesialis Kedokteran Olahraga dr Ade Jeanne L Tobing, SpKO menjelaskan, sedentari diambil dari bahasa Latin ”sedere” yang artinya duduk. ''Semakin canggih sistem sebuah negara justru membuat penduduknya semakin jarang bergerak. Kemajuan teknologi membuat segalanya menjadi lebih mudah tanpa perlu bergerak. Kalau dulu mau ganti saluran tv harus jalan dulu ke televisi, sekarang tinggal pencet tombol,'' kata Ade, disela kampanye ”Ayo Indonesia Bergerak” di Rumah Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/4) lalu.

Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan bahwa 24,1 persen penduduk Indonesia, atau satu dari empat orang, menjalani gaya hidup sedentari lebih dari enam jam. Padahal, gaya hidup yang jarang bergerak ini berisiko meningkatkan penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes, hipertensi, heart disease, osteoporosis, osteoarthritis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) hingga kanker.

''Data dari World Health Orgazation (WHO) mencatat, lebih dari 60 persen penyebab kematian di dunia adalah akibat penyakit tidak menular,'' katanya. Gaya hidup sedentari sendiri telah meningkat atau menjadi tren di zaman digital yang memudahkan masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas.

''Penelitian dari Lepp tahun 2013, ternyata ada hubungannya antara smartphone, aktivitas fisik, dan kebugaran jantung,'' tuturnya. Aktivitas fisik, sambung Ade, adalah sebuah gerakan tubuh yang terjadi akibat kontraksi otot rangka.

Contohnya, melakukan aktivitas sehari-hari seperti berbelanja, melakukan pekerjaan rumah tangga, bekerja, atau berjalan. Namun di zaman serba mudah ini, ada beberapa kegiatan sehari-hari itu yang hilang dan diganti dengan waktu screen time. Yaitu duduk dan memegang smartphone untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

''Semakin canggih sistem, semakin banyak orang yang tidak aktif. Ada perubahan pola hidup di sini,'' imbuhnya. Maka itu, dia menyarankan setiap orang untuk melakukan 30 menit aktivitas fisik plus 60 menit latihan fisik.

”Antara aktivitas dan latihan fisik harus seimbang dan teratur,'' sarannya. Latihan fisik, misalnya, idealnya dapat mewakili tiga kategori. Diantaranya, cardiorespiratory fitness, stretching, dan strengthening yang tidak melulu dilakukan di ruang outdoor, tetapi bisa di rumah dan dilakukan di waktu senggang.

''Latihan fisik dapat dilengkapi dengan olahraga teratur, seperti aerobik, yoga, atau pilates yang akan membantu kesehatan tulang, sendi, dan otot,'' terangnya. Disarankan untuk melakukan latihan fisik minimal 30 menit sehari setidaknya tiga kali dalam seminggu atau total 2,5 jam per minggu. 

Dia menjelaskan, tulang, sendi, dan otot bekerja sama untuk mendukung setiap gerakan yang kita lakukan setiap hari. Tulang adalah jaringan hidup yang mengalami perusakan dan pembentukan (remodeling), latihan fisik dengan pembebanan (weight bearing exercise) menyebabkan jaringan tulang baru terbentuk sehingga membuat tulang lebih kuat dan padat.

''Aktivitas fisik semacam ini juga membuat sendi lebih fleksibel dan otot lebih kuat. Tulang, sendi, dan otot menjadi lebih kuat ketika otot mendorong dan menarik tulang selama latihan fisik,'' katanya.

Nah, untuk mendorong masyarakat Indonesia terus bergerak, Anlene meluncurkan kampanye ”Ayo Indonesia Bergerak”.  Technical Marketing Advisor, Fonterra Brands Indonesia Rohini Behl mengatakan, dengan bergerak aktif serta menjaga kesehatan, kekuatan dan fleksibilitas tulang, sendi, dan otot, kita telah melakukan langkah penting untuk melawan gaya hidup sedentari. Corporate Communications Advisor PT Fonterra Brands Indonesia Andriani Ganeswari menambahkan, salah satu kegiatan dalam kampanye tersebut meliputi estafet dari Jogjakarta ke Jakarta untuk menginspirasi masyarakat Indonesia bergerak lebih aktif untuk melawan gaya hidup sedentari.

''Sebanyak 250 pelari dan pesepeda dilepas untuk melakukan perjalanan sejauh 600 km ke Jakarta melewati sejumlah kota seperti Kebumen, Purwokerto, Ciamis, Bandung, dan Bogor pada peluncuran di Jogjakarta 8 April 2018 lalu,'' ujar Andriani. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan #malas-gerak 

Berita Terkait

Radang Sebabkan Gigi Cepat Ompong

Jakarta Raya

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

Pasien Tinggal Datang, Tak Perlu Antre

Jakarta Raya

Lima Kelurahan Belum Miliki Puskesmas

Megapolitan

Nyeri Sendi Rutin, Waspada Sarkoma

Jakarta Raya

IKLAN