Selasa, 23 Oktober 2018 11:33 WIB
pmk

Jakarta Raya

Pejuang Subuh Akhwat Punya Peran Strategis

Redaktur: Ali Rahman

INDOPOS.CO.ID - Pejuang Subuh merupakan komunitas yang mengajak anggotanya untuk salat subuh berjamaan di masjid. Sasarannya tidak hanya pemuda dan anak-anak, tetapi juga para perempuan agar turut serta dalam mendirikan salat subuh secara teratur.

Membangunkan seseorang jelang subuh rupanya bukan hal mudah, punya tantangan tersendiri. "Perjuangan buat para akhwat sebenernya bisa dibilang susah-susah gampang," jelas Nofita Ismail, Bendahara Yayasan Pejuang Subuh Indonesia sekaligus penggerak Pejuang Subuh perempuan.

Diklaim, akhwat selalu berlomba-lomba untuk bangun di sepertiga malam, tapi gagal saat harus bangun subuh. Vita sapaan akrabnya mencontohkan, salah satu anggotanya, di mana untuk Qiyamul Lailnya tidak perlu diragukan. "Mampu bangun jam 2 malam, tetapi saat jam 4 ketiduran, dan baru bangun di jam 5.30," paparnya di Jakarta, Selasa (10/4).

Tentu waktu salat subuh sudah lewat pada pukul 5.30 tersebut. Vita melanjutkan, tidak hanya satu atau dua akhwat, tetapi hampir rata-rata. "Di Pejuang Subuh akhwat yang demikian biasanya kami sebut bidadari gagal audisi," jelasnya sambil terkekeh.

Sementara itu, Pejuang Subuh di Tanggerang punya problem berbeda. Chintwang seorang Pejuang Subuh Tangerang menerangkan, masalah yang sering dihadapi adalah saat sudah bangun subuh, tetapi tidur lagi.

"Di sini kami selalu saling support lewat hati. Ketika sudah merasa bahwa perjuangan bangun subuh tidak hanya dilakukan sendiri, maka akan mudah untuk menjalankan perintah agama," tutur Wang sapaan akrabnya.

Chintwang menerangkan, Pejuang Subuh Akhwat mempunyai target 30 hari salat subuh di rumah. Jika ada halangan atau (maaf) datang bulan, akan melapor ke mentornya. "Itulah prosedur yang dilakukan untuk menjadi Pejuang Subuh," tegasnya.

Tak hanya perempuan yang belum menikah, sebagian anggota Pejuang Subuh Akhwat merupakan penggerak salat subuh yang telah berkeluarga. Tantangannya tentu lebih berat karena harus mengurus rumah tangga dan memberikan semangat kepada sang suami untuk bangun pagi buta.

Dede Syarifah salah satunya, sang suami merupakan Ketua Yayasan Pejuang Subuh Indonesia, Miskam Ayla. Pasangan tersebut telah memiliki dua orang anak. Dengan kesibukan suami yang bekerja di sebuah kantor di bilangan Sudirman serta aktif berdakwah menjadi tantangan tersendiri bagi Dede.

"Tiap hari mengurus kebutuhan suami dan anak-anak. Tapi ya begitulah kodrat seorang istri. Apalagi suami saya tak hanya bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga, namun juga berdakwah. Ya dinikmati saja" ujar Dede.

Dia berbagi cerita, pernah suatu waktu anaknya rewel, karena kangen Abinya, ketika itu saat kunjungan Pejuang Subuh ke Sumatra. "Pengen sebenarnya telepon dan membujuk agar segera pulang. Tapi saya selalu ingat kajian yang saya ikut, kalau dibandingkan dengan istri Nabi Ibrahim yaitu Sitti Hajar yang ditinggal sendirian di lembah gersang, tentu perjuangan saya belum ada apa-apanya" jelas Dede dengan bersemangat.

Jika dilihat lebih jauh. Istri para Pejuang Subuh ini mempunyai peran strategis. Sebagai pendamping dalam menjalankan dakwah sekaligus tempat berbagi dalam suka dan duka.

Pejuang Subuh Akhwat saat ini sudah mulai tersebar di berbagai daerah di Tanah Air. Istri tak hanya sekedar mengurus konsumsi atau pekerjaan remeh lainnya, namun mempunyai peran penting bagi lahirnya keluarga harmonis serta mencetak generasi tangguh bagi negara dan agamanya. (asp)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #pejuang-subuh #subuh-berjamaah 

Berita Terkait

IKLAN