Kamis, 15 November 2018 10:02 WIB
pmk

Ekonomi

Mal Bukan Tempat Mewah

Redaktur:

INDUSTRI-(ki-ka) CMO Asuransi Astra Gunawan Salim, Kepsek SDN Wijaya Kusuma 02 Pagi Titi Setiyaningsih, dan CEO Asuransi Astra Rudy saat meresmikan perpustakaan di Jakarta (12/4). Foto. TONI SUHARTONO/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID – Kementerian Perdagangan (Kemendag) meminta pengelola pusat belanja menyesuaikan diri dengan kebutuhan generasi milenial. Caranya, melakukan ekspansi di bidang jual beli online, mengingat semakin bergesernya gaya hidup memengaruhi pola belanja masyarakat seluruh dunia.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (Appbi), Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita menyampaikan pengelola pusat belanja harus bisa melakukan perbaikan melalui inovasi meski tidak perlu berubah total. "Pergeseran lifestyle seluruh dunia berubah. Sebagai pengusaha hadir harus menyesuaikan dengan itu. Karena karakter per negara berbeda," tutur Enggar di Jakarta, Kamis (12/4).

Dia menegaskan milenial memiliki gaya hidup ingin serba mudah. Namun, milenal juga tetap membutuhkan mall untuk hang out dan melakukan kegiatan di luar rumah. Dengan begitu, pengelola juga bisa memadukan berjualan di toko dan juga secara online. "Tenant mix juga ada perubahan sesuai lifestyle. Kalau Cirebon Mall masih jadi tujuan wisata atau hiburan. Beda sama Jakarta," ulasnya.

Untuk itu, Enggar meminta pengelola tidak boleh menyerah. Sebab, harus ada adjustment untuk menyikapi hal ini. Salah satunya dengan tetap menyediakan fasilitas belanja melalui online. "Hanya perlu ada adjustment. Harus fight dan menang. Anda juga harus masuk ecommerce," ingatnya.

Sementara Appbi mengungkapkan saat ini tren orang mengunjungi mal sudah bergeser. Mal tidak lagi dipandang sebagai tempat bagi orang kaya menghabiskan uang. Itu karena pertumbuhan ekonomi kelas menengah lebih subur. "Mal makin subur di daerah sebagai pengembangan dan pemasaran. Tahun 90-an mal itu untuk masyarakat kelas atas. Kini, 95 persen masyarakat kelas bawah atau menengah sudah bisa dan tidak segan ke mal," ungkap Ketua Umum DPP APPBI Stefanus Ridwan.

Ridwan mencontohkan dulu mal seperti Plaza Indonesia, Blok M, Ratu Plaza, terkesan mewah bagi orang kaya. Saat ini, seluruh mal sudah bisa dijangkau kelas menengah bahkan menengah bawah. "Sekarang pandangan itu sudah berubah, 95 persen itu sebenarnya memandang mal sudah untuk kelas menengah dan menengah ke bawah. Blok M Plaza itu kan menengah ke bawah. Beberapa tempat juga menengah banget ya," tukasnya.

Perubahan mindset itut, bilang Ridwan, disebabkan kelas menengah terus tumbuh dan paling dominan. Hanya, 7 persen orang menganggap mal tempat mewah. "Ekonomi tingkat menengah itu paling banyak ngemal. Misalnya keluarga muda, belanja, makan, dan nonton," tegas Ridwan

APPBI juga mendorong semua mal untuk memberikan slot bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Tentu bisa dengan bersinergi bersama Pemerintah Daerah setempat agar memberikan kesempatan kepada masyarakat berbelanja dengan harga yang terjangkau. (uji/JPC)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kemendag 

Berita Terkait

Nasdem: Paloh Bukan Pengimpor Beras

Headline

Presiden Minta Buwas-Enggar Mediasi

Headline

Copot Menteri Perdagangan

Headline

IKLAN