Selasa, 17 Juli 2018 10:31 WIB
bjb juli

Internasional

Menelisik Serangan AS, Inggris, dan Prancis ke Syria

Redaktur: Maximus thomas woda Wangge

Foto. AFP

INDOPOS.CO.ID - AS akan keluar dari Syria secepatnya. Kalimat itu dilontarkan Presiden AS Donald Trump 29 Maret lalu di Ohio. Selang 15 hari kemudian alias Jumat (13/4), Trump berubah pikiran. Bersama dengan Inggris dan Prancis, presiden ke-45 AS itu mengerahkan pasukannya untuk menyerang Syria.

Negara-Negara sekutu itu menggunakan alasan polisional untuk melegitimasi serangan mereka. Yakni, bentuk balasan atas penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar Al Assad di Douma, Ghouta Timur pada  7 April.

Serangan yang terjadi pada Jumat (13/4) itu diperkirakan berbuntut panjang. Perang yang mulai mereda kembali berkobar. Sekutu-sekutu Syria seperti Iran dan Rusia tidak akan tinggal diam. Begitu pula Hizbullah dari Lebanon yang merupakan kepanjangan tangan Iran. Syria juga diyakini tidak akan menghentikan aksi kejinya begitu saja meski sudah dibombardir AS dan sekutunya.

”Serangan itu tidak akan mencegah Assad untuk terus membantai penduduknya yang melawan dengan menggunakan senjata konvensional,” ujar analis di Institute for the Study of War Jennifer Cafarella seperti dilansir CNN, Sabtu (14/4).

Selama Assad masih ada, serangan senjata kimia sangat mungkin bisa dilakukan lagi. Sejarah mencatat, Syria melakukan serangan senjata kimia pada April tahun lalu di Khan Sheikoun. Ketika itu AS menjatuhkan misil serta bom sebagai pembalasan. Hasilnya, serangan senjata kimia tetap terulang. Banyaknya pihak yang terlibat juga bakal membuat perang Syria sulit terhenti. Yang terjadi di negara tersebut bukan hanya perang sipil antara oposisi bersenjata melawan rezim Assad.

Ada ”perang-perang” lainnya di dalamnya. Mulai perang proxy antara Rusia dan AS, pertempuran Hizbullah dan Israel, militan ISIS dan AS-Rusia, dukungan uang,  dan persenjataan Iran ke Syria untuk memukul mundur oposisi bersenjata, serta Turki yang memerangi milisi Kurdi. Semua campur tangan itu membuat situasi kian keruh.

Saudi ikut turun tangan secara tidak langsung dengan cara mendanai oposisi bersenjata di Syria. Negara-negara Eropa juga ikut terlibat dan mendukung AS. Perang Syria selama tujuh tahun itu juga membuat Eropa kelimpungan. Sebab, pengungsi Syria berduyun-duyun ke Benua Biru untuk mencari perlindungan.

AS yang getol menyerang Syria malah justru menutup pintu untuk para pengungsi tersebut. Belum diketahui apakah setelah serangan kali ini AS akan mengubah kebijakannya terkait pengungsi.

Christopher Phillips, penulis buku The Battle for Syria: International Rivalry in the New Middle East, mengungkapkan bahwa publik bisa belajar dari literatur tentang perang sipil. Hampir semuanya menunjukkan bahwa semakin banyak kekuatan asing yang terlibat, kian sulit perang berakhir.  ”Karena sebagian besar kekuatan asing itu tidak mau berhenti sampai mereka kehabisan tenaga atau klaim dan keinginan mereka terpenuhi,” terang Phillips seperti yang tertuang di majalah The Atlantic.

AS awalnya terlibat dalam perang Syria karena ingin memberantas ISIS. Tapi, seiring waktu berjalan, tujuan Negeri Paman Sam juga meluas. Mulai mencegah perluasan pengaruh Iran hingga menghukum penggunaan senjata kimia seperti sekarang. Bagi AS, kali ini juga menjadi ajang perang tak langsung dengan musuh bebuyutan mereka selama ini, Rusia. Menurut Phillips, ketidakkonsistenan itu membuat mayoritas kebijakan AS di Syria gagal.  ”Kalau toh perang berakhir, Syria tidak akan stabil untuk jangka waktu yang cukup lama,” tegasnya.

Jika perang kembali berkobar, korban jiwa yang berjatuhan akan kian banyak. Padahal, dengan menyerahnya oposisi bersenjata di Douma, Eastern Ghouta, banyak pihak berharap perang yang merenggut lebih dari 400 ribu nyawa itu bisa berakhir di meja perundingan.

Ketakutan akan banyaknya korban yang bertumbangan setelah ini dirasakan benar oleh warga Syria yang tinggal di AS. Banyak keluarga mereka yang masih terjebak di Syria. Salah satunya Huda Shanawani yang tinggal di Millburn, New Jersey.

Dia menangis saat mendengar AS melontarkan misil ke negara asalnya itu. Shanawani langsung menghubungi keluarganya yang masih berada di Damaskus, baik via telepon maupun media sosial, tapi usahanya sia-sia. Dia merasa marah dan frustrasi.  ”Saya tidak ingin melihat Damaskus berubah menjadi Baghdad,” ujar perempuan yang datang ke AS pada 1969 itu.

Ketua Syrian American Forum  Ghias Moussa mengungkapkan hal senada. Dia ingin intervensi AS di Syria dihentikan. Dia dulu memilih Trump sebagai presiden karena suami Melania itu menolak intervensi militer AS di Syria. Saat kampanye, Trump juga menggagas zona aman untuk para pengungsi.  ”Kami tidak yakin bahwa membunuh lebih banyak orang tak berdosa di Syria dengan mengebom mereka akan memperbaiki apa yang sudah terjadi,” terangnya seperti dilansir USA Today. (sha/c10/dos)


TOPIK BERITA TERKAIT: #perang-syria 

Berita Terkait

Berkedok Relawan, Predator Cabul Memangsa Pengungsi Syria

Internasional

Angelina Jolie: Ini Menghancurkan Jiwaku

Internasional

Turki Tuding Pasukan Assad Bantu Pemberontak Kurdi

Internasional

Perang Amerika Serikat Vs Turki di Depan Mata

Internasional

IKLAN