Selasa, 17 Juli 2018 10:38 WIB
bjb juli

Nasional

Megawati Apresiasi UNESCO Tetapkan Arsip KAA jadi Memory of The World

Redaktur: Syaripudin

ARSIP DUNIA: Ketum PDIP saat menghadiri acara ”Tiga Tinta Emas Abad 20” dan Peluncuran buku ”Live & Let Live Asia Africa Unity in Diversity” di Auditorium LIPI, Jakarta, Selasa (17/4). Foto: istimewa

INDOPOS.CO.ID - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menghadiri pameran ”Tiga Tinta Emas Abad 20” dan Peluncuran buku ”Live & Let Live Asia Africa Unity in Diversity” di Auditorium LIPI - Jakarta, Selasa (17/4).

Dalam sambutannya, dia mengatakan pada abad 20, ada tiga peristiwa penting dalam sejarah peradaban manusia. Yakni Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada 1955, Pidato Bung Karno di PBB 1960 dan Gerakan Non-Blok Pertama digelar di Beograd 1961, dimana dirinya hadir sebagai delegasi termuda.

Adapun Konferensi Asia-Afrika diikuti oleh 200 delegasi dari 29 negara, menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah. Yakni Dasa Sila Bandung. Hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung, ada 41 negara yang memproklamirkan kemerdekaannya di Asia dan Afrika.

"Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak dan juga kepada UNESCO yang telah menetapkan arsip Konferensi Asia-Afrika sebagai Memory of The World pada tanggal 9 Oktober 2015,” ujarnya.

Hal itu menurut Megawati, semangat gotong-royong dan solidaritas, prinsip musyawarah untuk mufakat, kesepakatan untuk menentang segala bentuk penjajahan, serta persatuan dalam keberagaman yang disuarakan dalam KAA diakui sebagai ingatan kolektif dunia.

"Live and Let Live Asia Africa Unity in Diversity”, tegas Bung Karno. Ketika arsip KAA diakui sebagai Memory of The World oleh UNESCO, maka arsip Pidato Bung Karno di Sidang Umum PBB ke-XV dan Arsip GNB Pertama pun, sangat layak pula untuk menjadi Memory of The World," ujarnya juga.

Menurut Presiden kelima RI ini, bukan hanya Indonesia tetapi dunia membutuhkan Arsip KAA, Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai ingatan kolektif. Goresan dari ”Tiga Tinta Emas abad 20” tersebut adalah bekal setiap bangsa untuk menata kehidupan yang lebih baik di masa depan.

”Bung Karno telah mengingatkan bahwa semua warga bangsa saling terkoneksi dalam menghadapi problematika abad 21. Contohnya terkait perubahan iklim dan cuaca, yang juga berpengaruh pada perubahan budaya dan cara hidup manusia, serta berdampak pada politik ekonomi, terutama pangan," jelasnya juga.

Menurut Megawati juga, ingatan kolektif terhadap sejarah adalah kunci untuk membuka pintu masa depan yang lebih baik, beradab dan bermartabat. ”Sehingga penting untuk memperjuangkan Arsip Pidato Bung Karno di PBB dan Arsip GNB Pertama sebagai Memory of The World, yang akan ditetapkan UNESCO pada tahun 2019," pungkasnya.

Sementara itu, Duta Informasi LIPI Rieke Diah Pitaloka mengajak semua pihak membandingkan dan belajar dari para tokoh politik KAA Afrika. Bagi mereka, kebenaran harus dapat diverifikasi.

”Tidak ada satu orang pun yang dapat menyangkal bahwa Dasa Sila Bandung adalah suatu kebenaran yang dapat diverifikasi dan telah diakui sebagai Memory of The World oleh UNESCO," paparnya. (dai)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #memory-of-the-world #megawati-soekarnoputri #pdip 

Berita Terkait

IKLAN