Minggu, 22 Juli 2018 03:48 WIB
BJB JULI V 2

Banten Raya

Soal UNBK Sulit, KPAI Tuding Kemendikbud Langgar Hak Anak

Redaktur: Syaripudin

Komisioner KPAI Retno Listyarti. Foto///yasril chaniago/indopos

INDOPOS.CO.ID - KPAI mengaku prihatin atas sulitnya soal mata uji matematika pada UNBK SMA tahun 2018. KPAI menyampaikan apresiasi kepada para peserta UNBK SMA yang berani bersuara di ruang publik atas kasus ini.

”KPAI juga mengapresiasi  Mendikbud RI yang berani meminta maaf secara terbuka pasca kritik pedas para peserta UNBK SMA,” ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidag Pendidikan kepada INDOPOS, Selasa (17/4).

Dia juga mengatakan, KPAI sangat menyesalkan reaksi Kemendikbud yang menyatakan bahwa soal matematika UNBK tingkat SMA tahun ini memang  dibuat sulit, karena  termasuk jenis  soal HOTS (Higher Order Thinking Skills).

”Padahal, sulit (hard) atau mudahnya sebuah soal tidak bisa langsung ditentukan dari teks ataupun konteks soal. Secara metodologis tingkat kesukaran soal ditentukan dengan statistik. Dari populasi atau sampel diperiksa berapakah siswa yang menjawab benar, salah atau malah tidak menjawab,” terang Retno.

”Sederhananya, bila banyak siswa menjawab dengan benar berarti soal itu mudah. Bila yang terjadi sebaliknya berarti soal itu sulit. Sementara hasil UNBK Matematika SMA belum diketahui hasilnya saat itu,” sambungnya.

Meski KPAI mengaku tidak membuka posko pengaduan, namun pengaduan para peserta UNBK yang diterima bidang pendidikan cukup banyak. Pengaduan berasal dari Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan,  Depok, Kota Bekasi, Cikarang, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Pengadu ada yang berasal dari   SMA negeri maupun SMA swasta.

”KPAI tidak membuka Posko Pengaduan UNBK, namun Komisioner KPAI  bidang Pendidikan menerima banyak keluhan dan pengaduan dari para peserta UNBK SMA tahun 2018, terutama untuk soal mata uji matematika. Luapan emosi anak-anak ditumpahkan melalui aplikasi WhatsApp, Line, DM Twiter, inbox Facebook dan telepon langsung,” ungkapnya.

Dikatakan Retno juga, dari pengaduan yang masuk, KPAI menemukan beberapa indikasi masalah terkait sulitnya soal UNBK Matematika SMA.Untuk itu, KPAI  mendorong Kemendikbud untuk melakukan evaluasi terhadap penyajian soal ujian nasional jenjang SMA yang berlangsung pekan lalu secara transparan.

Karena ada dugaan malapraktek evaluasi yang menimbulkan ketidakadilan bagi anak-anak peserta UNBK SMA. Selain itu, ada dugaan malapraktek evaluasi karena sejumlah soal terindikasi sulit dipahami oleh siswa lantaran materinya belum pernah diajarkan di kelas.Siswa tidak memahami soal itu karena soal itu tidak mengukur kemampuan siswa terkait materi yang dipelajari.

Artinya validitas soal bermasalah. Jadi, kata Retno juga, menguji siswa dengan materi yang tidak pernah dipelajari adalah ketidakadilan. ”Bisa jadi soal itu bermasalah, karena tidak  memiliki daya pembeda. Artinya, soal itu tidak bisa membedakan antara siswa yang ada di kelompok atas dan bawah,” paparnya juga.

Bisa juga, katanya lagi, karena teks soal itu bersifat ambigu atau multitafsir sehingga dipahami berbeda oleh siswa satu dan siswa lainnya. ”Berbeda dengan tingkat kesukaran, level berpikir tiap soal ditentukan sejak tahap persiapan pembuatan soal,” tuturnya.

Retno menambahkan, dari referensi yang dipelajari oleh KPAI, soal tipe HOTS bukan berarti soalnya harus sulit. Soal tipe HOTS pada UNBK adalah soal-soal yang dalam bahasa blue print ujian dikenal dengan kode L3 artinya soal tipe penalaran.

Ciri utama soal L3 adalah benar-benar mencoba menghindari soal yang bertipe sekedar ingatan, sebaliknya menuntut siswa untuk berpikir dan menerapkan konsep-konsep yang mereka pelajari pada situasi baru yang tidak familiar atau situasi yang sudah mereka kenal tetapi tidak ada algoritma tunggal yang tersedia untuk menjawabnya, mereka harus melakukan proses berpikir analisis, sintesis, menilai dan mengambil keputusan atas masalah yang disodorkan dalam soal.

”Hal ini berbeda dengan soal sulit (hard), soal yang dikatakan sulit bila dalam menjawabnya membutuhkan banyak langkah penyelesaian, banyak variabel yang tidak diketahui dan biasanya menggunakan banyak operasi matematika untuk menyelesaikannya,” papar Retno juga.

”Kalau Kemendikbud mau adil, maka  yang perlu dibenahi para gurunya untuk melakukan proses pembelajaran HOTS  bukan malah berkosentrasi pada UN saja untuk menguji para siswanya,” tegas Retno juga. (yas)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kemendikbud #kpai 

Berita Terkait

IKLAN