Senin, 24 September 2018 04:46 WIB
pmk

Kesehatan

Catat! Usia 40 Wajib Rutin Medical Check Up

Redaktur:

UPAYA SEHAT-Medical check up dibutuhkan untuk melakukan pencegahan terhadap penyakit tertentu.

INDOPOS.CO.ID - Usia 40 tahun sering dikatakan sebagai fase kematangan psikologis. Namun dari perspektif medis, di usia tersebut seseorang wajib memeriksakan kualitas kesehatannya.

Pasalnya, di usia 40 tahun, kondisi kesehatan seseorang mengalami penurunan drastis. Maka itu, penting untuk mulai membiasakan diri melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check up. 

''Pernah coba cek mammografi (untuk cek kanker payudara) dan cek darah. Untuk mammonya semoga nggak ada apa-apa. Tapi gula darah sudah mulai tinggi,'' ujar Eva, 41 kepada INDOPOS, Rabu (18/4).

Dia sadar, memasuki usia 40 tahun harus mulai memperhatikan kesehatan. Dia pun memilih mulai mengurangi konsumsi makanan yang manis-manis.

''Sekarang nggak mau lagi deh makan kue-kue manis atau minuman manis. Sekarang minumnya air putih aja,'' akunya.

Ya, upaya mendeteksi adanya kelainan yang terjadi pada tubuh walaupun belum timbul gejala sangat penting. Karena jika terdeteksi sejak awal bisa ditangani lebih cepat. 

Biaya pengobatan juga bisa ditekan. ''Karena ada beberapa keadaan sakit yang memang hanya dapat diketahui kalau kita melakukan check up,'' ujar Ari Fahrial Syam, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia kepada INDOPOS. 

Menurutnya, penyakit-penyakit yang hanya bisa dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium antara lain. kencing manis (DM), kadar kolesterol dan trigliserida, kadar asam urat, hipertensi, dan gangguan jantung. Selain itu, lanjutnya, pemeriksaan skrining awal adanya kemungkinan kanker juga hanya dapat dideteksi dengan pemeriksaan laboratorium, foto dada, serta USG abdomen.

Oleh karena itu, dia menyarankan, bagi mereka yang berumur diatas 40 tahun dan tidak pernah check up, apalagi dengan berbagai faktor risiko, sangat dianjurkan untuk melakukan check up. Faktor-faktor risiko yang dimaksud adalah, obesitas, merokok, hipertensi, hiperkolesterol, hipertrigliserida, diabetes mellitus (DM), riwayat keluarga dengan sakit jantung, kurang olahraga rutin, dan stres. 

''Jika seseorang mengalami obesitas, indeks masa tubuh lebih dari 30 kg/M2, maka dia berisiko dengan berbagai penyakit. Apalagi kalau ternyata dia juga mempunyai kadar kolesterol tinggi, punya hipertensi serta kebiasaan merokok dan minum alkohol,'' katanya. 

Menurutnya, tubuh sebenarnya secara alami bisa mendeteksi adanya gangguan. Namun seringkali, orangnya mengabaikan.

Dia menyebut, ciri-ciri sesak nafas, lelah tidak seperti biasanya, nyeri di dada (terutama dada kiri), serta nyeri di daerah ulu hati setelah atau saat melakukan aktivitas olahraga tertentu adalah respon tubuh terhadap adanya gangguan. Kondisi-kondisi tersebut diatas merupakan gejala yang harus diamati dan dievaluasi lebih lanjut melalui medical check up. 

Pemeriksaan treadmill merupakan salah satu skrining yang bisa mengidentifikasi adanya masalah pada jantung. Dia juga menambahkan, umumnya penyakit tidak menular hadir dalam proses yang lama, sehingga bisa dicegah keparahannya dengan mendeteksinya lebih dini. 

''Saya sedih sebagai dokter, pasien datang terlambat ke kita. Misalnya pasien kencing manis datang karena luka yang tidak sembuh-sembuh. Atau pasien datang dengan serangan jantung yang berarti sudah terlambat,'' imbuhnya.

Dia juga menyesalkan masih adanya anggapan medical check up itu mahal. Sehingga, masyarakat enggan memeriksakan diri.

Padahal, kata dia, banyak juga individu yang sebenarnya dapat jatah medical check up dikantor, tapi tidak dimanfaatkan. Atau, ada beberapa kegiatan komunitas yang menggratiskan proses medical check up, itupun tidak dimanfaatkan.

''Ada pasien yang sebenarnya dapat fasilitas medical check up tapi tidak memanfaatkannya. Atau ada juga yang melakukan medical check up tapi tidak ingin mengetahui hasilnya,'' tuturnya.

Dokter spesialis penyakt dalam RS Tebet Dr Asril Bahar SpPD K-P K-Ger juga sempat mengatakan, di Indonesia, orang lebih peduli ketika mengalami sakit dibandingkan menjaga kesehatannya.  Padahal, dengan tetap menjaga kesehatannya di masa muda akan membuat masa lansia mereka tetap sehat, mandiri, dan berdaya guna.

"Cara hidup yang sebat harus diterapkan sejak muda, jangan saat memasuki lansia. Sebab, sebagian besar yang dialami oleh lansia lebih disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dimasa muda mereka," jelasnya, belum lama ini.

Untuk itu, dia memberikan beberapa tips sehat jelang lansia. Pertama, sebaiknya setiap orang menjalani medical check up berkala untuk mengetahui kondisi tubuhnya sendiri. 

Apabila masih berusia 30 tahun, ada baiknya melakukan check up sebanyak 2-3 tahun sekali. Diatas 40-50 tahun sebanyak setahun sekali. Dan jika sudah memasuki usia 60 tahun, sebaiknya melakukan check up sebanyak enam bulan sekali.

"Medical check up sebaiknya dimulai pada usia 30 tahun. Mengingat diusia tersebut penyakit degeneratif sudah mulai muncul,” tegasnya.

Kedua, lanjut dr Asril, tetap aktif dengan melakukan aktifitas fisik. Lebih baik lagi apabila melakukan olahraga sebanyak tiga kali seminggu selama 30 menit.

Olahraga yang dilakukan pun sebaiknya yang low impact, seperti jalan kaki dan sepeda statis. Ketiga yang tak kalah penting adalah nutrisi seimbang. 

Ada baiknya apabila sejak usia muda menjaga asupan yang rendah karbohidrat, kolesterol, dan lemak. Terakhir, mengelola stres. "Apabila semua ini telah dijaga, pada lansia pun akan tetap sehat, mandiri, dan berdaya guna,” tutup dia. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Lawan Stigma dengan Lari Marathon

Lifestyle

Sunglasses Tangkal Katarak Dini

Kesehatan

Seksi Sixpack Tanpa Sit Up

Kesehatan

Ketua MUI : Vaksin MR Wajib

Nasional

Lasik, Tindakan Cepat Persiapan Lama

Kesehatan

IKLAN