Ekonomi

Krakatau Steel Tidak Sebar Dividen

Redaktur:
Krakatau Steel Tidak Sebar Dividen - Ekonomi

INDOPOS.CO.ID - Ratusan proyek strategis nasional (PSN) belum berdampak siginifikan terhadap Krakatau Steel (KRAS). Itu karena, proyek tersebut tidak sepenuhnya memakai komponen lokal. Baja misalnya, masih mengandalkan suplai dari negara lain.

Sejatinya, permintaan baja nasional tidak sedikit. Paling tidak, kebutuhan baja nasional tercatat 13 juta ton per tahun. Namun, karena pemakaian baja lokal tidak maksimal, produksi domestik tidak banyak terserap. ”Penggunaan baja lokal belum menjadi prioritas. Efeknya, proyek itu belum member dampak signifikan,” tutur Pengamat konstruksi Sahat Saragih, beberapa waktu lalu.

Sahat menyebut penggunaan baja dalam negeri masih belum maksimal bukan hal aneh. Kendati kebutuhan tinggi, secara kualitas juga tidak kalah dibanding baja impor. Namun, kalau sudah bersinggungan dengan harga, produksi baja dalam negeri tidak bisa berkutik. ”Ya, karena baja impor lebih murah,” ucapnya.

Direktur Utama Krakatau Steel, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menyebut proyek infrastruktur memantik permintaan baja naik. ”Problem yang kami hadapi tidak sedikit. Kerja sama kami dengan BUMN Karya sudah berjalan,” tutur Mas Wigrantoro, di Jakarta, Rabu (18/4).

Performa perusahaan tahun lalu menunjukkan sisi positif. Pendapatan naik 7,76 persen  menjadi USD 1.449,02 juta. Efeknya, laba operasi meningkat 1.055 persen secara year on year (Yoy) menjadi USD 50,74 juta. Salah satu faktor pendorong pendapatan itu lonjakan harga jual rata-rata produk baja. Banderol baja Hot Rolled Coil naik 32,68 persen menjadi USD 597 per ton dari edisi sama 2016 di kisaran USD 450 per ton.

EBITDA meningkat 50,30 persen menjadi USD 155,18 juta dari edisi 2016 di level USD 103,24 juta. Itu terjadi akibat penurunan kerugian sebelum pajak di luar rugi asosiasi yaitu menjadi USD 41,12 juta dari USD 134,5 juta. ”Parameter kinerja ini menjadi sebuah nilai positif bagi kami untuk lebih baik lagi tahun ini,” tukasnya.

Apakah perseroan akan menyebar dividen? Mas Wigrantoro mengatakan, kinerja keuangan secara umum membaik. ”Namun, tidak ada pembagian dividen," ujarnya.

Semenjak 2016, perusahaan mendapat pasokan bahan baku dari Rusia, Korea, Jepang dan Brazil. Perusahaan terus bekerja ekstra untuk mendapat bahan bakar gas berharga murah. Mengingat gas merupakan bahan bakar yang menunjang operasional pabrik. ”Penjualan tahun ini kami proyeksi meningkat 40 persen,” harapnya.

Tahun lalu, perseroan melakukan persiapan pengiriman produk baja untuk pembangunan jalan tol Jakarta-Cikampek. Perseroan aktif dalam membangun Elevated Toll Road Jakarta-Cikampek (Japek) dua yang ditarget rampung pada 2019.

Market Share produk baja paling tinggi yaitu Hot Rolled Coil/HRC (baja canai panas) 39 persen, Cold Rolled Coil/CRC (baja canai dingin) 27 persen, dan Wire Rod/WR (baja kawat) 4 persen untuk pasar domestik. Volume penjualan tertinggi HRC 53 persen, CRC 30 persen dan WR 3 persen.

Desember tahun lalu, perusahaan meneken MoU dengan perusahaan Jepang, Sango Corporation di Jakarta untuk memasok batang kawat baja sektor otomotif dalam negeri. Selain itu, juga telah menandatangani perjanjian pasokan jangka panjang (Long Term Supply Agreement) dengan PT Sarana Central Bajatama untuk pasokan 5 ribu ton per bulan CRC.

Dan, Januari tahun ini, perusahaan telah memperbarui perjanjian pasokan jangka panjang dengan PT Essar Indonesia untuk memasok HRC 15 ribu ton per bulan dan Februari 2018, telah diteken penawaran bahan baku 24 ribu ton Cold Rolled Sheet untuk kebutuhan drum sheet di Pabrik Bitumen Gresik PT Pertamina (Persero) dalam dua tahun ke depan. (dai)

Berita Terkait

Ekonomi / Efek OTT, Saham KRAS Longsor

Ekonomi / Krakatau Steel Pangkas Baja Impor untuk Otomotif


Baca Juga !.