X CLOSE Laporan Kinerja DKPP
Rabu, 19 Desember 2018 04:39 WIB

Ekonomi

Kurs Dollar Nyaris Rp14 Ribu

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika, terus mengalami tekanan. Bahkan mata uang garuda tersebut saat ini sudah hampir menembus angka Rp 14 ribu per USD. Kondisi ini menjauhi skenario yang ditetapkan APBN sebesar Rp 13.400 per USD.

Terkait hal itu Bank Indonesia (BI) menegaskan akan tetap menjaga stabilitas rupiah. 

"Kami akan tetap berada di pasar menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya," ujar Kepala Departemen Komunikasi BI Agusman, kepada INDOPOS, Kamis (26/4).

Disinggung berapa dana yang telah digelontorkan untuk menjaga rupiah, Agusman mengaku tidak hafal. "Jumlahnya berapa saya tidak hafal," ujarnya. 

Yang jelas lanjut Agusman, pelemahan rupiah bukan karena aksi spekulan. Namun lebih karena faktor eksternal.  "Bukan karena aksi spekulatif," tegas Agusman.

Hal itu menurutnya, sebagaimana yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, yakni  dipicu oleh gejolak global, yakni dampak kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-China, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik terhadap berlanjutnya arus keluar asing dari pasar SBN dan saham Indonesia.  Baik yang bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestic, terkait kebutuhan pembayaran impor, Utang Luar Negri, dan dividen yang biasanya cenderung meningkat pada triwulan II.

Sebelumnya,  Gubernur BI, Agus Martowardojo menegaskan,  pihaknya terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah (IDR) sesuai fundamentalnya. Menurutnya, BI  telah melakukan intervensi. Baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar. Dengan upaya tersebut, IDR yang pada hari Jumat sempat terdepresiasi sebesar -0,70 persen, pada  Senin (24/4) hanya melemah  -0,12 persen. 

"Lebih rendah daripada depresiasi yang terjadi pada mata uang negara-negara emerging market dan Asia lainnya. Seperti PHP -0,32 persen, India INR -0,56 persen, Thai THB -0,5 persen, MXN -0,89 persen, dan Afrika Selatan ZAR -1,06 persen," ujarnya dalam keterangan persnya Selasa (24/4).

Adapun  mata uang AS (USD), yang pada hari Jumat lalu  menguat tajam terhadap semua mata uang dunia,  termasuk rupiah. Senin lalu kembali mengalami penguatan secara meluas (broadbased). Sama seperti yang terjadi di hari Jumat, penguatan USD masih dipicu oleh meningkatnya yield US treasury bills mendekati level psikologis 3,0 persen.  Dan munculnya kembali ekspektasi kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR) sebanyak lebih dari 3 kali selama 2018. 

Kenaikan yield dan suku bunga di AS itu sendiri dipicu oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi AS seiring berbagai data ekonomi AS yang terus membaik dan tensi perang dagang antara AS dan China yang berlangsung selama tahun 2018 ini .

Sejalan dengan itu, pada  Senin (24/4) semua mata uang negara maju kembali melemah thd USD, antara lain JPY -0,25%, CHF -0,27%, SGD -0,35%, dan EUR -0,31%.

"Dalam periode yg sama, mayoritas mata uang negara emerging market, termasuk Indonesia, juga melemah," beber Agus.

Adapun dengan dukungan upaya stabilisasi oleh BI, sejak awal April (mtd), IDR melemah -0,91 persen, lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara emerging market lain, seperti THB -1,04 persen, INR -1,96 persen, MXN -2,76 persen, ZAR -3,30 persen. Demikian pula, sejak awal tahun 2018 (ytd) IDR melemah -2,35 persen.

"Juga lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara emerging market lain seperti BRL -3,06 persen, INR -3,92 persen, PHP -4,46 persen, dan TRY -7,17 persen," pungkasnya.

Senada dengannya, Kepala Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho mengatakan,  melemahnya rupiah karena  faktor eksternal. Seperti kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR).

"Kemudian kalau kita amati, faktor lainnya yang menekan rupiah karena  ekspor yang tidak tumbuh secara baik. Kebutuhan impor barang modal masih tinggi. Defisit masih mempengaruhi," ujarnya Kamis (26/4).

Menurut Agus, pembayaran utang luar negeri pemerintah, BUMN dan swasta, yang jatuh tempo ikut menekan nilai tukar. Namun begitu menurutnya, kalau melihat inflasi yang stabil, harusnya pelemahan rupiah tidak terlalu jauh. 

"Harusnya rupiah kuat. Sesuai skenario (yang ditetapkan dalam ABPN)  Rp 13.400. Namun ini sudah mendekati Rp 14 ribu per USD," ujar Agus.

Karena itu ia mengimbau BI untuk lebih maksimal menjalankan tugasnya menjaga stabilitas rupiah. Intervensi yang dilakukan BI harusnya efektif meredam pelemahan rupiah lebih lanjut.

"BI  saya kira intervensi harus melihat efektifitasnya. Pada saat fundamental lemah, tekanan eksternal kuat.

Ini apa karena spekulatif atau kebutuhan pembayaran," jelasnya.

Sementara itu, pelemahan rupiah rupanya juga sudah diprediksi sejumlah pelaku usaha.  Presiden Direktur PT Astra Otoparts Tbk Hamdani Zulkarnain mengatakan, pihaknya telah mengantisipasi.

"Kita sudah antisipasi, pengaruh kalaupun ada tidak cukup besar. Material akan naik. Kita sudah antisipasi," ujarnya kepada INDOPOS, Kamis (26/4). Namun ia berharap pelemahan rupiah tidak terus berlanjut. Apalagi hingga sampai menembus Rp 14 ribu lebih.

"Kami berharap rupiah tetap stabil," jelas Hamdan.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Komponen itu mengatakan, pihaknya saat ini memang menggunakan bahan baku impor untuk produksi. Namun menurutnya, penggunaan bahan baku dalam negeri terus digenjot presentasenya. 

"Saya pernah diundang ke Inalum, di Asahan. Mereka produksi alumunium murni, kebutuhan kita alumunium industri. Harapan kami, mereka bisa mensupport kami. Begitu juga dengan krakatau steel. Saat ini sudah ada beberapa tipe baja dari perusahaan tersebut yang bisa digunakan dari asosiasi kami," pungkas Hamdan.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani,  pelemahan rupiah akan mempengaruhi rencana kerja perusahaan. Terutama dalam hal bahan baku untuk impor.

"Jelas ada pengaruhnya," ujarnya.  Namun begitu pelemahan rupiah juga bisa jadi peluang untuk menggenjot ekspor. (dai)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kurs-dollar #nilai-tukar-rupiah 

Berita Terkait

Pasar Optimistis, Investasi ‘Wait and See’

Headline

Saving Rendah karena Ada Kebocoran

Headline

IKLAN