Selasa, 13 November 2018 02:14 WIB
pmk

Kesehatan

Makin Banyak Anak Menderita Asma

Redaktur:

Ilustrasi. Foto: Istimewa

INDOPOS.CO.ID - Penyakit asma semakin banyak terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa, khususnya di negara-negara berkembang. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan, penyakit tersebut dapat dikendalikan. Sekali terkendali, penderita penyakit asma dapat menjalani kehidupan yang sehat dan aktif.

Asma adalah kondisi ketika saluran napas mengalami peradangan kronik yang menyebabkan penyempitan. Biasanya, saat mengalami serangan, penderita asma akan mengeluh sesak napas, dada berat, dan batuk akibat pencetus tertentu.

Penyakit asma memang cenderung muncul pada usia dini. Organisasi kesehatan dunia World Health Organisation (WHO) menyatakan jumlah penderita penyakit asma di seluruh dunia mencapai sekitar 235 juta orang.

Dokter spesialis saluran pernapasan dari Farrer Park Hospital Singapura, Dr Alvin Ng Choon Yong menerangkan, serangan ini biasanya timbul tanpa diduga dan bisa terjadi kapan pun ketika penderita terpapar dengan pemicu asma. 

''Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kesadaran terhadap asma mengingat penyakit tersebut semakin banyak terjadi pada anak-anak dibandingkan orang dewasa khususnya di negara-negara berkembang, apalagi proses pengendaliannya cukup panjang,'' terangnya.

Dengan semakin meningkatnya kesadaran terhadap asma, ujarnya juga, akan lebih banyak penderita dengan gejala-gejala penyakit tersebut datang untuk memeriksakan diri dan mendapatkan penanganan yang efektif. ”Sehingga akan membantu mereka menjalani kehidupan yang sehat,'' tambahnya.

Dr. Alvin juga mengatakan, penyakit asma memang cenderung muncul pada usia dini. Asma merupakan penyakit kronis pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh faktor keturunan maupun lingkungan. 

Dia juga menambahkan kebanyakan anak-anak penderita asma pada saat tumbuh dewasa merasa lebih baik dan berpikir bahwa mereka telah sembuh dengan semakin besarnya saluran pernapasan. Kenyataannya, mereka sering mengalami radang atau pembengkakan saluran pernapasan dan penyakit asma yang diderita semakin memburuk.

”Penderita penyakit asma perlu meneruskan pengobatan dan melakukan penanganan lanjutan secara teratur,'' kata Dr Alvin yang mengeluarkan imbauan berkaitan dengan Hari Asma Sedunia yang jatuh setiap 1 Mei itu.

Secara umum, kata dia lagi, pengobatan penyakit asma terbagi pada tahap pencegahan dan peredaaan. Pada tahap pencegahan digunakan jenis obat corticosteroid dengan menggunakan alat bantu hisap atau inhaler. Sedangkan pada tahap peredaan digunakan jenis obat beta agonist seperti Ventolin yang juga menggunakan inhaler. 

Selain itu, kata dia juga, tidak kalah penting adalah mengurangi atau menghilangkan pemicu dari faktor lingkungan seperti debu, serangga dan hewan peliharaan yang mungkin menimbulkan alergi bagi penderita penyakit asthma. 

Untuk menangani alergi pada penderita penyakit asma, pihaknya melakukan satu terapi pengobatan untuk menangani alergi yang disebut Sublingual Immunotherapy (SLIT). Beberapa pasien yang menjalani terapi SLIT mengalami pemulihan secara terus menerus dari gejala-gejala alergi.

Namun, ada pula yang kambuh karena tak melanjutkan terapi SLIT. ''Banyak pasien penyakit asma yang tidak dapat membedakan pengobatan untuk tahap pencegahan dan peredaan. Saat mereka mengalami serangan penyakit asthma, mereka langsung menggunakan obat pereda,'' tukasnya.

Tanpa menggunakan obat pencegah, penyakit asma yang diderita akan semakin parah. ”Bahkan dapat mengancam kehidupan penderita asma sehingga membutuhkan penanganan Intensive Care Unit (ICU) dan ventilasi mekanis. Dengan demikian, penderita asthma perlu melakukan pengobatan pencegahan secara teratur untuk menjaga agar penyakitnya dapat dikendalikan,'' tuturnya.

Ketika Anda menemukan penderita asma yang mengalami kekambuhan di tempat umum, ada beberapa pertolongan pertama yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah mencegah kerumunan orang di sekitar penderita yang mengalami kekambuhan. Alasannya, penderita asma membutuhkan oksigen lebih banyak karena saluran napasnya yang menyempit. Kerumunan orang akan membuatnya kesulitan untuk menghirup oksigen di udara bebas.

''Pindahkan dia ke tempat yang lebih banyak oksigen. Kalau di luar ruangan, cari area di bawah pohon,'' ujar Prof. Dr. Wiwien Heru Wiyono, Ph.D, Sp.P(K), FISR, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Selanjutnya, longgarkan ikat pinggang penderita yang mengalami serangan untuk memudahkannya bernapas.

Setelah itu, segera cari pertolongan tenaga medis dengan membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.

Tujuan dari penanganan asma, kata Prof. Wiwien juga, di antaranya adalah untuk menghilangkan penyempitan saluran napas secepat mungkin hingga mengembalikan fungsi paru ke kondisi normal secepat mungkin.

Pasalnya, hingga saat ini belum ada pengobatan yang bisa menyembuhkan asma. ''Hal yang bisa dilakukan adalah mengontrol asma untuk mengurangi dan mencegah serangan. Biasanya dokter akan berikan obat pelega atau obat peradangan, disesuikan dengan kondisi saluran napasnya,'' tukasnya.

Jadi bagi Anda penderita asma sebaiknya jaga emosi agar tetap stabil. Pasalnya perasaan bahagia dan marah yang terlalu berlebihan bisa membuat serangan asma kambuh. Ia mengatakan, pada dasarnya penderita asma akan mengalami kekambuhan jika terpajan alergi, perubahan cuaca drastis, atau polusi seperti asap rokok maupun debu.

Namun pada momen-momen tertentu seperti ketakutan saat menghadapi ujian atau kesedihan akibat putus cinta, bisa juga menyebabkan serangan asma menjadi kambuh. Menurut dia lagi, emosi berlebihan memang bukan pemicu yang langsung memapar penderita, namun merupakan hasil pemrosesan di otak.

''Ketika seseorang mengalami emosi berlebihan maka faktor hormon dalam tubuh akan mengirimkan sinyal ke otak. Kalau senang endorfin, kalau takut atau marah adrenalin. Nah, hormonal ini yang menyebabkan saluran napas akan menyempit pada orang yang dasarnya hipersensitif sehingga muncul serangan,'' katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Dr Andika Chandra Putra PhD, SpP juga mengatakan, selain hormonal proses peradangan akibat emosi berlebihan juga dapat menjadi pemicu kekambuhan asma. Tubuh akan memproduksi histamin yakni zat kimia yang diproduksi oleh sel-sel di dalam tubuh ketika mengalami infeksi.

''Pada orang yang mengalami stres berlebihan histamin dalam tubuhnya meningkat. Itu sebabnya pemberian obat anti histamin dapat diberikan pada orang yang mengalami kekambuhan asma. Obat anti histamin bisa membuat saluran napas menjadi lebih lapang,'' pungkasnya. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kesehatan 

Berita Terkait

Kuncinya, Gizi Seimbang Ditambah Susu

Jakarta Raya

Dehidrasi Sebabkan Batu Ginjal

Jakarta Raya

Pasien Tinggal Datang, Tak Perlu Antre

Jakarta Raya

Lima Kelurahan Belum Miliki Puskesmas

Megapolitan

Nyeri Sendi Rutin, Waspada Sarkoma

Jakarta Raya

Dermatitis Atopik, Penyakit Kulit Langganan Bayi

Jakarta Raya

IKLAN