Senin, 24 September 2018 08:50 WIB
pmk

Tekno

Inovasi Anak Negeri untuk Alat Kesehatan

Redaktur:

KARYA ANAK BANGSA: Salah satu inovasi bidang kesehatan berbentuk kaki palsu dalam ajang IndoHCF Innovation Awards. Foto: Dewi Maryani/INDOPOS

INDOPOS.CO.ID - Selama ini, alat kesehatan (alkes) yang ada di Tanah Air kebanyakan masih produk impor. Guna mendorong anak bangsa untuk berinovasi dalam alkes, hingga ICT Kesehatan, yang sejalan dengan sistem pengembangan untuk menjadi sebuah produk siap pakai Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) kembali menggelar kompetisi.

DR dr Supriyantoro SpP MARS, Ketua IndoHCF mengatakan, sejumlah inovasi alkes dan ICT Kesehatan yang ditemukan dalam ajang IndoHCF Innovation Awards, yang tahun ini memasuki tahun kedua, terus ditawarkan kepada pelaku bisnis untuk dikembangkan menjadi sebuah produk alkes nasional dengan harga terjangkau dan tepat guna.

''Kami terus mendorong inovasi alkes anak bangsa, dan dari pemenang inovasi alkes dari ajang IndoHCF Awards kita harapkan untuk diproduksi dalam negeri. Daftar para finalis tahun lalu kami serahkan kepada pelaku bisnis supaya ada kolaborasi. Aplikasi Lacak Malaria (salah satu pememang inovasi ICT Kesehatan 2017), mendapat penghargaan internasional. Sekarang sistemnya kita cari untuk  fungsi pembinaan ke depan. Supaya inovasi ini bisa diproduksi masal. Karena kalau harganya murah, dalam penggunaanya pasti dicover BPJS Kesehatan," kata dr Supriyantoro di Jakarta belum lama ini.

Rufi Susanto, President IDS Med Group menegaskan, memasuki tahun kedua penyelenggaraan IndoHCF ini banyak inovasi yang semakin berbobot yang harus dikembangkan ke depan, siapapun pemenang inovasinya. ''Setiap tahun semakin improve.  IDS Med ini hadir di 8 negara, tentu akan bisa memberi kontribusi bagi produk alkes nasional nantinya kalau bisa bersaing di pasar global. Maka kita terus dukung,'' katanya.

dr Soni Sunarso Sulistiawan, salah satu finalis untuk kategori inovasi alkes, yakni Portable Wireless Monitor mengatakan, pesatnya kemajuan teknologi di dunia akan semakin memacu perkembangan teknologi di bidang medis. ''Tenaga medis sebagai end user sering menemukan inovasi baru untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi sehari-hari. Hal ini sering memberikan ide-ide baru industrialisasi alat medis. Namun temuan kami ini masih minim untuk kolaborasi yang arahnya untuk diproduksi dan dimanfaatkan banyak orang. Akhirnya berhenti begitu saja, jadi kita butuh kolaborasi,'' ungkap dokter muda dari RS Budi Utomo Surabaya ini.

Untuk alat Portable Wireless Monitor ala dr. Soni fungsinya untuk meningkatan kebutuhan patient safety untuk memonitor pasien dari jarak jauh secara nirkabel, baik untuk monitor pasien dalam ambulan, atau monitor pasien dalam proses X-Ray, dll. ''Kebutuhan monitoring tanda vital pasien dengan prosedur CT-Scan yang dapat membahayakan tenaga medis dengan paparan radiasi di dalam ruangan, kebutuhan monitoring pasien saat transportasi serta kebutuhan untuk konsultasi jarak jauh telah melahirkan ide pembuatan Portable Wireless Monitor ini,'' jelas dr. Soni.

Alat ini juga dapat dikembangkan untuk mendukung SPGDT (Sistem Penanggulanagn Gawat Darurat Terpadu) dan Code Blue System penanganan henti jantung di dalam RS. "Harapan saya dari lomba inovasi IndoHCF ini adalah dapat melejitkan potensi Indonesia dalam menyambut Demographic Dividend yang dapat membawa kebangkitan Indonesia untuk memimpin industri dunia," harapnya.

Pemenang inovasi alkes di ajang IndoHCF Innovation Awards 2018, yakni Prof Dr Aulanni’am Drh DES dari Universitas Brawijaya Malang, dengan karya Biosains Rapid Test GAD65, Prof Aulanni’am mengatakan, produk rapid test ini untuk mendeteksi Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 dan tipe 1,5. ''Deteksi dilakukan terhadap keberadaan autoantibodi GAD65 yang merupakan marker dini kerusakan sel beta pankreas. Kit ini mampu mendeteksi awal terjadinya autoimun diebetes sehingga dapat dilakukan pada bayi dan anak-anak yang memiliki riwayat penderita DM dalam keluarganya. Penggunaan kit ini merupakan skrining awal terhadap penyakit DM, yang bertujuan untuk memperbaiki tatalaksana pencegahan terhadap DM sehingga penting bagi keluarga yang memiliki riwayat DM, agar tidak berlanjut menjadi penderita DM,'' jelasnya.

Diagnosa dilakukan dengan menggunakan serum darah sebanyak 20 mikroliter dan hasilnya sudah didapatkan dalam waktu 30 menit. Kit ini tidak memerlukan alat khusus sehingga mudah dilaksanakan pada tingkat layanan medis sederhana. Biosains Rapid Test GAD65 telah terbukti memiliki sensitivitas dan spesifitas yang tinggi. ''Produk Biosains Rapid Test GAD65 yang merupakan kit diagnostik dini untuk penyakit diabetes saat ini siap untuk di produksi massal dan dipasarkan setelah kami melakukan riset selama beberapa tahun yang lalu,'' katanya.

Dia mengaku untuk produk Biosains Rapid Test GAD65 ini telah mendapatkan sertifikasi laboratorim dan telah diuji pakai di negara luar seperti Afrika dan Timur Tengah. Tetapi belum diproduksi secara masal. ''Produk Kit diagnostik tersebut sudah melewati tes uji laboratorium dan pasien di lapang dengan hasil sensitivitas yang sangat baik (100 persen) dan spesifisitas 91,67 persen. Kami dalam hal ini siap memproduksi namun masih memerlukan fasilitas gedung atau ruangan yang memadai sesuai dengan kebutuhan standar laboratorium produksi Good Laboratory Practice -Good Manafacturing Practice (GLP-GMP),'' katanya. 

Prof Aulanni’am menambahkan, kemungkinan besar bahwa produk ini secara komersial akan dipasarkan oleh Biofarma sebagai institusi yang memiliki ijin dan wewenang untuk memasarkan produk sejenis. ''Dalam waktu dekat ini akan diadakan koordinasi lanjut pembicaraan Biofarma, UB dan BinFar (Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan) terkait dengan registrasi produk diagnostik sebagai alat kesehatan,'' tukasnya.

Sementara itu, pemenang kategori inovasi ICT Kesehatan di ajang IndoHCF Innovation Awards 2018 adalah dr Titin Hardiana dengan karya Sistem Informasi Pemetaan Profil Lingkungan dari Puskesmas Kecamatan Limo, Depok, Jawa Barat.  dr Titin Hardiana menjelaskan, ICT Kesehatan ini dikembangkan sejak tahun 2017 silam di wilayah pelayanan Puskesmas kecamatan Limo, dan kini telah masuk menjadi proyek wajib di setiap puskesmas Kota Depok.

Dia menjelaskan, pemetaan profil Kesehatan Lingkungan UPT Puskesmas Kecamatan Limo adalah sistem informasi berbasis Web dan Android yang menggunakan basis data GIS untuk input data sekaligus memetakan data profil kesehatan lingkungan di seluruh wilayah Kecamatan Limo Kota Depok Jawa Barat. ''Jadi semua agen kesehatan kita di Puskesmas Limo dan juga di masyarakat akan terus menginput semua kejadian terkait kesehatan dan kondisi lingkungan melalui aplikasi android, sehingga bisa dilakukan tindakan bila ada hal-hal yang perlu perbaikan,'' kata dr Titin.

Kepala UPT Puskesmas Kecamatan Limo ini menambahkan, pihaknya juga mengembangkan inovasi baru berupa aplikasi pengingat bagi pengidap Tuberkulosis (TB). Terobosan tersebut dirancang setelah puskesmas tersebut sukses menciptakan inovasi Sistem Informasi Pemetaan Profil Kesehatan Lingkungan (SIPP KLING) serta Sistem Informasi Posyandu (Sindu). ''Kita ingin memantau penderita TB agar selalu tepat waktu meminum obat. Jadi ada reminder kepada pasien sehingga penyakit ini berkurang dan tidak menular kepada yang lainnya,'' tandasnya. 

Dia menambahkan, aplikasi ini akan segera dirancang. Pasien hanya perlu mengunduh di playstore secara gratis. Pasien pun akan terus diingatkan serta diedukasi melalui aplikasi tersebut. Inovasi ICT Kesehatan yang juga masuk nominasi menarik adalah aplikasi Si Ali Jadul. Aplikasi ini merupakan inovasi ICT yang diterapkan di RSUD Budhi Asih, Jakarta Timur, berupa sistem pendaftaran online terjadual waktu layanan yang didedikasikan untuk masyarakat pengguna layanan RSUD Budhi Asih agar tidak lagi mengantri sejak subuh dan berdesak-desakan. ''Dengan pendaftaran online, masyarakat tidak perlu antri sampai ke jalan dan terjerat calo pendaftaran. Dan kamipun  dapat mengatur waktu dan hari layanan,'' ungkap Arbi Iskandar, staf IT RSUD Budhi Asih.

Selain itu Keuntungan lain dari inovasi  ICT Si Ali Jadul adalah tenaga rumah sakit lebih tenang, tidak stres menghadapi banyaknya pasien, hingga difitnah menolak pasien. Dengan inovasi ini, pegawai di RSUD dapat mempersiapkan dokumen rekam medik lebih awal sehingga dapat menghemat biaya dan SDM. Untuk masyarakat rumah sakit, keuntungannya dalam era JKN, bisa saling share pasien dan jaga mutu layanan dengan menetapkan kuota optimal layanan.

Pemenang IndoHCF Innovation Awards 2018 untuk Kategori SPGDT, diberikan kepada pemerintah daerah, yakni Propinsi Aceh yang memiliki  inovasi program SPGDT dalam membangun jejaring antara Propinsi dengan Kabupaten/Kota di wilayahnya. Kemudian Kota Bandung yang memiliki inovasi jejaring lintas sektoral. Penghargaan juga diberikan untuk Kabupaten Kepulauan Sula, walaupun dengan segala keterbatasan kemampuan daerah yang terdiri atas beberapa kepulauan, ternyata mampu melakukan inovasi dalam proses rujukan antar pulau. 

Selanjutnya, Kategori KIA, penghargaan diberikan kepada Pemerintah Daerah Kota Semarang  dengan program GIAT (Gerakan Ibu Anak Sehat) bersama Gasurkes KIA (Petugas Surveilans Kesehatan Ibu Anak) dengan inovasi deteksi dini terhadap permasalahan Kesehatan Ibu dan Anak, yang diharapkan dapat mempercepat penanganan masalah KIA.

Demikian pula Kategori Inovasi Germas, penghargaannya diberikan kepada Pemerintah Jogjakarta, dengan inovasi gerakan masyarakat melalui optimalisasi Kelurahan Siaga. Penghargaan juga diberikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Luwu Utara, dengan inovasi gerakan masyarakat yang multietnis dan lintas sektoral. (dew)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #teknologi 

Berita Terkait

IKLAN