X CLOSE Laporan Kinerja DKPP
Rabu, 19 Desember 2018 04:42 WIB

Headline

Rupiah Masih Bergejolak

Redaktur:

Ilustrasi.

INDOPOS.CO.ID – Kurs rupiah terhadap dollar Amerika masih terus terdepresiasi. Pertemuan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), pada akhir April 2018, belum langsung berdampak signifikan  meredam pelemahan rupiah. Mata uang garuda itu masih mendekati Rp 14 ribu per USD. Berdasarkan laman BI,  data  Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs tengah rupiah terhadap USD, pada Rabu (2/5) sebesar  13.936. Pada (30/4) sebesar 13.877 dan sebelumnya pada (27/4) yakni 13.879.

Direktur Riset  Center of Reform on Economy (CORE) Indonesia Pieter Abdullah berpendapat, gejolak nilai tukar rupiah tidak akan reda dalam waktu singkat. "Pertama, sentimen kondisi eksternal. Dimana  kenaikan suku bunga Fed Fund Rate (FFR). Imbal hasil saat ini meningkat cukup siginifikan. Kemudian aliran modal dari negara berkembang di pasar saham dan obligasi,  banyak yang keluar," ujar Pieter, kepada INDOPOS Rabu (2/5).  Hal itu menurutnya, menyebabkan nilai, tukar rupiah tertekan. Selain itu, kondisi di dalam negeri juga terjadi sentimen negatif.

"Yakni jadwal pembayaran utang jatuh tempo kita pada tahun 2018 ini  lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Yakni utang pemerintah, BUMN dan swasta," jelas Pieter.

Ia menambahkan, surplus neraca perdagangan belum berdampak mengkerek rupiah. Pasalnya, pada Januari dan Febuari, neraca perdagangan  sempat defisit.

"Defisit valas masih besar. Itu juga disebabkan adanya sejumlah kebutuhan perusahaan, untuk bayar utang. Untuk berjaga-jaga. Ini jadi lebih besar demandnya," jelas Pieter. 

Ia menambahkan, sikap eksportir, masih ada yang suka hasilnya ditabung di luar negeri. "Banyak ekspor, khususnya tambang, tidak merupiahkan valas. Banyak yang diparkir di luar negeri," jelas Pieter.

Intervensi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) untuk meredam rupiah, katanya, merupakan  langkah yang tidak bisa tidak, harus dilakukan. Intervensi itu memang berdampak.  Serta rencana menaikan suku bunga. Tapi untuk jangka panjang perlu dilakukan capital plus manajemen.

"Apa yang sudah dilakukan BI sudah tepat. Pelemahan rupiah, tidak cukup besar dibanding negara lain.  Saat ini psikologisnya  mendekati Rp 14 ribu, menjadi beban. Padahal rupiah kita melemah dari Rp 13.500 ke Rp 13.900,  tidak besar-besar amat," pungkasnya. 

Sebelumnya, pada Senin (30/4) Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)  menggelar rapat yang dihadiri seluruh anggota KSSK.  Mereka adalah, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso, serta Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah. Dalam kesempatan tersebut, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, fundamental ekonomi pada triwulan I tetap terjaga dengan kuat. Walaupun tekanan pada pasar keuangan mengalami peningkatan menjelang akhir bulan April 2018.

Hal ini, tercermin dari tingkat inflasi yang terjaga di 3,5%, kondisi APBN dengan defisit anggaran dan defisit keseimbangan primer APBN yang jauh lebih kecil dibandingkan triwulan I tahun 2017. Selain itu, realisasi penerimaan PPN tumbuh sebesar 15,03% dan penerimaan PPh Non Migas tumbuh sebesar 20,12% tanpa Amnesti Pajak. Defisit transaksi berjalan pun tetap terjaga di bawah batas aman 3% dari PDB. Sistem keuangan yang stabil dan terkendali tersebut ditopang oleh fundamental ekonomi yang kuat.

"Serta kinerja lembaga keuangan yang membaik dan  kinerja emiten di pasar modal stabil," jelasnya. Ia menambahkan pihaknya juga akan melakukan  koordinasi. Jangan sampai kepada masyarakat dan dunia usaha memunculkan sesuatu spekulasi atau kepanikan. Sri meminta kepada masyarakat, perusahaan, lembaga keuangan, agar tetap menjalankan tugas dan fungsinya secara baik. Ekonomi akan menjadi baik,  jika kita bisa jaga bersama.

"Kami menghimbau agar yakin ini akan terus menguat," pungkasnya. Adapun ketahanan sektor eksternal tercermin dari posisi cadangan devisa sebesar 126 miliar dolar AS pada akhir triwulan I 2018. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor. Terkait kenaikan harga minyak internasional dan dinamika nilai tukar rupiah, pemerintah akan terus menjaga agar dampaknya tidak mengganggu pelaksanaan APBN.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman mengatakan, pihaknya tetap akan menjaga pasar. "Kita tetap jaga dengan  berada di pasar," jelasnya Rabu (2/5). Menurutnya, Gubernur BI  Agus Martowardojo telah melakukan sejumlah hal dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Berikut pernyataan GBI seperti disampaikan Departemen Komunikasi BI, Agusman.  Depresiasi rupiah yang terjadi akhir-akhir ini lebih disebabkan oleh penguatan mata uang AS (USD) terhadap hampir semua mata uang dunia (broad base). Penguatan USD dampak dari berlanjutnya kenaikan yield UST (suku bunga obligasi negara AS) hingga mencapai 3,03 persen. Tertinggi sejak tahun 2013.

"Selain itu, depresiasi rupiah juga terkait faktor musiman permintaan valas yang meningkat pada triwulan II antara lain untuk keperluan pembayaran Utang Luar Negeri dan pembiayaan impor. Dan dividen," jelas Agus Martowardojo.

Adapun fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang kuat. Inflasi masih sesuai dikisaran 3,5 persen. Defisit transaksi berjalan lebih rendah dari batas aman 3 persen PDB. Pertumbuhan ekonomi juga berlanjut diikuti oleh struktur pertumbuhan yang lebih baik dan stabilitas sistem keuangan yang tetap kuat. Kepercayaan asing, juga terus membaik yang tercermin pada upgarade rating Indonesia oleh Moody's, JCRA dan R and I.

Depresiasi rupiah juga lebih rendah dibandingkan dengan depresiasi mata uang negara Asia lain. Seperti Thailand, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan. Untuk memperkuat upaya stabilisasi  nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dengan tetap mendorong mekanisme pasar, BI akan menempuh langkah-langkah sebagai berikut. Yakni senantiasa berada di pasar untuk memastikan tersedianya likuiditas dalam jumlah yang memadai baik valas maupun rupiah.

"Memantau dengan seksama perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik," jelasnya.

Juga mempersiapkan 2nd line of defense bersama dengan institusi eksternal. Apabila tekanan terhadap nilai tukar terus berlanjut, serta berpotensi menghambat pencapaian sasaran inflasi dan mengganggu stabilitas sistem keuangan, BI tidak menutup ruang bagi penyesuaian suku bunga kebijakan BI7DRR.

"Kebijakan ini tentunya akan dilakukan secara berhati-hati, terukur dan bersifat data dependence, mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan ke depan," pungkasnya. (dai) 


TOPIK BERITA TERKAIT: #nilai-tukar-rupiah 

Berita Terkait

Pasar Optimistis, Investasi ‘Wait and See’

Headline

Saving Rendah karena Ada Kebocoran

Headline

IKLAN