Selasa, 25 September 2018 02:36 WIB
pmk

Ekonomi

Bukopin Catat Laba Rp 126 M

Redaktur: Jakfar Shodik

Foto : Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID - Manajemen Bank Bukopin (BBKP) mengkliam secara fundamental kinerja dan operasional dalam kondisi kuat. Pada kuartal pertama tahun ini, posisi laba sebelum pencadangan tumbuh 28,6 persen, sedang laba bersih tumbuh 10 persen dibanding pencapaian periode yang tahun lalu.

”Laba sebelum pencadangan mencapai Rp 295,7 miliar dan laba bersih sebesar Rp 126,7 miliar. Itu itu menunjukkan kinerja kami tumbuh on track,” tutur Direktur Utama PT Bank Bukopin Eko Rachmansyah Gindo, melalui keterangan resmi di Jakarta, Jumat (4/5).

Pada periode sama, Bukopin juga membukukan pencadangan Rp 155 miliar dan menurunkan NPL absolute. Dengan begitu, rasio NPL Net per 31 Maret 2018 mencapai 4,47 persen, membaik dari sebelumnya 6,37 persen pada 31 Desember 2017. 

Posisi likuiditas juga terjaga dan sehat. Itu terlihat dari posisi LDR di kisaran 79 persen dan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 90,1 triliun. Secara keseluruhan posisi aset per 31 Maret 2018 mencapai Rp 107,7 triliun, meningkat Rp 1,3 triliun dibanding edisi 31 Desember 2017.

Eko mengungkapkan saat ini telah dan akan terus melakukan konsolidasi internal yang difokuskan pada pengembangan bisnis berbasis ATMR rendah, penghimpunan sumber dana murah, peningkatan fee based income, perbaikan efisiensi operasional dan percepatan peningkatan kualitas kredit serta penjualan agunan yang diambil alih.

Sementara itu, untuk jangka panjang telah menyiapkan bisnis masa depan melalui bisnis startup dan aliansi fintech serta menjangkau nasabah baru dari generasi milenial dengan penerapan core banking system berbasis digital. Di samping itu, juga terus meningkatkan kualitas manajemen risiko, compliance dan pengendalian internal lebih kuat.

Pasca RUPSLB pada Januari 2018, telah dibentuk satu direktorat baru fokus dalam pengembangan bisnis konsumer melalui peningkatan sinergi dengan Bukopin Finance dan peningkatan kerja sama dengan pengembang untuk memacu penyaluran KPR. ”Pengembangan bisnis konsumer (KPM dan KPR) ini dilakukan sejalan dengan strategi peningkatan bisnis berbasis ATMR rendah,” imbuhnya.

Awal Maret 2018 lalu, perusahaan telah meluncurkan produk Flexy Bill berbasis trade finance untuk fasilitas pembiayaan pembayaran listrik bekerja sama dengan PLN. Dalam 2 tahun ke depan, produk Flexy Bill ditargetkan mencapai Rp 2 triliun atau berkisar 10 persen dari total pembayaran listrik di seluruh Indonesia.

Dari sisi rasio kecukupan modal, posisi CAR perseroan pada periode sama mencapai 11,1 persen, meningkat dibandingkan posisi CAR pada 31 Desember 2017 yaitu sebesar 10,5 persen. Untuk meningkatkan rasio kecukupan modal di atas 14 persen, perseroan telah menyiapkan rencana aksi korporasi yaitu melakukan rights issue sebesar 30 persen dari jumlah saham beredar, revaluasi aset dan divestasi saham perseroan pada Bank Syariah Bukopin. ”Kami optimistis aksi korporasi itu akan berjalan sesuai rencana, mengingat saat ini ada 2 potensial investor telah dan akan melakukan proses due diligence,” tegasnya. (raf)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kinerja-sehat #rencana-aksi-korporasi #laba-bersih-car 

Berita Terkait

IKLAN