Kamis, 15 November 2018 10:21 WIB
pmk

Opini

PBB, Nyalla dan Amunisi Barunya

Redaktur: Redjo Prahananda

Foto : Istimewa

Oleh: Ady Amar

Partai Bulan Bintang baru saja menghelat Mukernas ke-II, tanggal 4 Mei 2018, di Jakarta. Partai yang dianggap "terdholimi" karena harus lolos verifikasi mengikuti Pemilu dengan terlebih dulu menempuh jalan yang tidak biasa.

Ketua Umum PBB yang pakar Hukum Tata Negara, Prof Yusril Ihza Mahendra, mampu mengujinya secara konstitusional, maka Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Pusat memutuskan dan menyatakan bahwa PBB adalah partai SAH untuk mengikuti Pemilu.

Kemenangan PBB yang "terdholimi" itu disambut banyak pihak sebagai kemenangan umat Islam untuk meraih kekuasaan, tentunya bersama partai-partai Islam lainnya, atau partai yang lahir dari rahim umat Islam (PKB dan PAN).

Dengan adanya gonjang-ganjing yang terjadi di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang tampaknya sulit bisa mengulang perolehan suara di Pemilihan Legislatif (Pileg) 2014 yang lalu. Bahkan partai yang mengusung jargon "Rumah Besar Umat Islam" ini, lolos dari electoral threshold saja sudah sangat baik. Banyak faktor yang menyebabkan partai Ka'bah ini tidak menjadi "kiblat" umat Islam lagi, diantaranya munculnya dua kubu kepemimpinan kepengurusan di tingkat pusat antara kubu Ketua Rohmahurmuziy, dan kubu Ketua Djan Farid.

Meski terakhir pemerintah akhirnya "lebih percaya" pada kubu Gus Romi ketimbang kubu Djan Farid. Dan kepercayaan pemerintah pada kubu Gus Romi itu dibayar dengan sikap politiknya yang selalu seia sekata dengan penguasa. Sampai-sampai sebagai partai Islam, PPP tidak bereaksi saat Al-Qur'an dinista dan ulama dikriminalisasi. Tidak ada pembelaan dari partai Islam ini pada umat dan agamanya.

Maka, yang terjadi adalah kekecewaan umat Islam pada PPP yang selama ini didukungnya. Dan juga kekecewaan tokoh-tokoh PPP yang akhirnya memilih eksodus, dimana pilihan politiknya jatuh pada PBB, yang membuka lebar-lebar pintunya untuk mereka yang tersumbat gairah politiknya. Ahmad Yani, salah satunya. Usianya masih tergolong muda, dan saat duduk di legislatif kiprahnya penuh semangat, kritik-kritikannya tajam namun terukur. Juga bergabung Buni Yani dan Hermansyah (pakar IT ITB).

Dan yang lain, yang tentunya menggelegar adalah dukungan dan bersedianya tokoh Jawa Timur, La Nyalla M. Mattaliti, sebagai anggota PBB. Dia bisa menjadi amunisi terbaik bagi PBB, khususnya di Jawa Timur. Bung Nyalla adalah ikon dari Ormas Pemuda Pancasila Jatim, ketua Kadin Jatim, dan seabrek jabatan-jabatan lainnya yang diembannya. Tentunya "gerbong" yang panjang itu bisa jadi akan mengikuti lokomotifnya ke mana ia bergerak.

Bung Nyalla sebelumnya adalah aktivis Partai Gerindra. All out dalam membantu membesarkan partai, bukan cuma jaringan yang dia mainkan, tapi bantuan akomodasi tidak kecil yang digelontorkannya. Sampai pada waktunya dia harus meninggalkan partai Gerindra, disebabkan kekecewaan atas Rekomendasi partai yang tidak dia dapatkan saat dia akan maju sebagai calon gubernur Jawa Timur.

Bung Nyalla adalah pribadi yang "menyala-nyala", bersikap total jika terlibat atau dilibatkan dalam organisasi apa pun bentuknya. Sebagai pekerja keras dengan jaringan yang luas, bung Nyalla bisa berperan aktif menyosialisasikan PBB di Jawa Timur ini dengan baik dan terukur.

Satu hal lagi tentang bung Nyalla ini, dia tidak punya hitung-hitungan kalkulatif tentang PBB. Dia enjoy bisa aktif membantu, dan itu sebagai nilai kepuasan tersendiri baginya. Pasti yang didapatnya rugi tenaga, waktu dan tentu finansial yang tidak kecil yang dikeluarkannya... Tapi sekali lagi, dia akan merasa puas jika bisa membantu partai ini, setidaknya bisa lolos electoral threshold.

Kita lihat saja apa yang akan diperbuat oleh bung Nyalla untuk "menyalakan" PBB, khususnya di Jawa Timur... Selamat Mengabdi di tempat yang baru, bung Nyalla, semoga Allah menghitungnya sebagai amal jariah.
 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #opini #pbb #nyalla 

Berita Terkait

"Jurus Mabuk" Yusril

Opini

IKLAN