Jumat, 16 November 2018 02:50 WIB
pmk

Internasional

Kisah Kota Aberdeen dan Tidurnya Pusat Minyak Bumi di Eropa

Redaktur:

IRONI - Suasana kota Aberdeen, Lesunya bisnis migas ikut membuat kota ini lesu dan pengangguran meningkat.

INDOPOS.CO.ID - Aberdeen adalah kota terbesar ketiga di Skotlandia. Pernah menjadi kota dengan jumlah upah, keterampilan dan inovasi kerja yang tinggi di Britania Raya. Namun, pada 2016 Aberdeen menjadi kota yang ditinggalkan penduduk usia produktifnya. Aberdeen menjadi contoh kota yang mengajarkan kepada dunia, terlalu bergantung pada satu industri adalah kesalahan.

Bagi para pelaku industri migas, Aberdeen pasti familiar. Kota itu dijuluki sebagai Pusat Minyak Bumi di Eropa. Sejak ditemukannya minyak bumi di wilayah North Sea pada 1975 Aberdeen menjadi makmur. Puncaknya, pada 1999 setelah lebih dari 40 triliun barrel berhasil diekstraksi.

Melimpahnya produksi membuat potensi migas di North Sea diklaim sebagai salah satu yang paling produktif dalam lima dekade terakhir. Temuan migas itu berhasil menciptakan lebih dari 100 ribu lapangan pekerjaan di Aberdeen. Catatan upah pekerjanya yang cukup tinggi. Pada 2016, Aberdeen adalah salah satu kota yang paling sejahtera di Britania Raya setelah London.

Pendapatan per tahun warganya mencapai GBP 32 ribu atau USD 49 ribu per orang. Jika dikonversikan dengan nilai tukar saat ini, itu sekitar Rp 676 juta per tahun. Dari nominal itu, pendapatan warga Aberdeen per bulan bisa menembus Rp 56 juta. Tapi, apakah kejayaan itu masih bertahan hingga sekarang? Sayangnya, tidak.

Bermula dari merosotnya harga minyak bumi yang membuat harga per barel minyak turun drastis. Dari USD 115 per barrel pada 2014 hingga ke USD 33 per barel pada 2016. Keadaan di Aberdeen lantas berbalik. Kondisi perekonomian semakin menurun dan tingkat pengangguran meningkat sampai 5,4 persen menurut Cities Outlook2018 yang dilansir oleh Centre for Cities, Aberdeen.

Berbagai menunjukkan bahwa Aberdeen tengah dalam kondisi perkonomian yang kurang stabil. Sekitar 2015 dan 2016, Aberdeen menjadi satu-satunya kota di Northern England dan Skotlandia yang mengalami penurunan populasi hingga 0,3 persen. Hal ini menandakan kota seluas 65,1 km2 itu tak lagi dapat menyediakan pekerjaan dan karir yang dapat menarik perhatian orang-orang.

Tidak hanya itu, Aberdeen juga berada di peringkat kedua se-Britania Raya untuk kota dengan penurunan pertumbuhan usaha di sektor privat terdrastis. Sebab, mencapai -4,9 persen. Kondisi itu membuat beberapa ahli menganalisa, apakah ada kesalahan dalam perencanaan kebijakan di Aberdeen beberapa tahun ke belakang.

Banyak asumsi mencuat, salah satunya karena Aberdeen terlalu bergantung pada satu industri sebagai tumpuan perekonomian. Yakni industri migas. Asumsi itu mengundang pro dan kontra. Namun, diamini oleh beberapa ahli dari Skotlandia. Professor Jeremy Peat, dari University of Stratchclyde International Public Policy Institute misalnya.Meskipun tidak secara khusus membicarakan Aberdeen, namun baginya Skotlandia memang terlalu bergantung pada industri migas. Apalagi, cadangannya masih sangat melimpah. Ketergantungan ini sebenarnya sangat berisiko dan memperburuk ketidakstabilan geopolitik maupun ekonomi.

Namun, pemerintah Aberdeen atau Skotlandia memilih untuk bangkit. Pertengahan 2017 lalu, University of Aberdeen -yang terkenal dengan fokusnya di bidang energi- membuka sebuah program studi baru, yakni decommissioning.Sebuah program studi yang belum pernah ada di universitas manapun di dunia.

Tentu dibukanya program itu bukan tanpa alasan. Fokus studi di decommissioning untuk platform di laut lepas. Program dibuka dengan melihat proyeksi bahwa dalam 25 tahun ke depan, penutupan fasilitas migas di North Sea dapat menelan biaya hingga triliunan poundsterling dan menjadi ladang pekerjaan baru.

Pembukaan program itu bukan atas pesimisme atas perkembangan industri migas. Namun kesadaran akan fase menurunnya produksi minyak bumi dapat digunakan kembali untuk mengatasi menurunnya lapangan pekerjaan.

Diprediksi, program studi itu nantinya akan menjadi salah satu program studi yang banyak diincar oleh berbagai praktisi.

Selain itu, mengganti haluan fokus ke pengembangan energi terbarukan juga menjadi pilihan. Untungnya, letak geografis Aberdeen yang strategis dengan kuatnya hembusan angina membuatnya menjadi tempat yang cocok untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga angin. Terutama, untuk wilayah lepas pantai atau offshore wind energy.

Saat ini, sebuah lapangan offshore wind energy terbesar di dunia tengah dibangun di Aberdeen. Tingginya mencapai 191 meter dan panjang tiap tiap baling-balingnya mencapai delapan meter. pembangunan pembangkit ini terdiri atas dua pembangkit 8,8 MW dan sembilan pembangkit berkapasitas 8,4 MW. Selain untuk membuka lapangan pekerjaan baru dan diversifikasi usaha, pengembangan lapangan itu juga dipercaya dapat memenuhi 70 persen kebutuhan listrik domestik Aberdeen.

Lebih jauh, komitmen Pemerintah Aberdeen untuk fokus mengembangkan energi terbarukan tidak main-main. Inovasi lain juga tengah dikembangkan untuk mengintegrasikan sisa kekuatan migas kota ini dengan pengembangan offshore wind energy tersebut. Salah satunya adalah, ide untuk menggunakan fasilitas atau struktur yang awalnya digunakan untuk pengembangan industri migas menjadi turbin.

Saat ini, inovasi itu tengah dikaji oleh European Offshore Wind Deployment Centreyang berlokasi di sekitar Aberdeen. Proyeksinya, untuk mengelaborasikannya dalam mega proyek offshore wind energy tersebut.

Anjuran diversifikasi usaha dan penguatan ekonomi lokal memang tengah digaungkan untuk bangkit dari kelesuan ini. Namun, memang butuh usaha dan waktu yang tidak sebentar untuk memperbaikinya. Yang jelas, Pemerintah Aberdeen bukan beranjak dan meninggalkan industri migas yang pernah menjadi sumber kekuatan utama kota ini.

Bahkan, pada awal tahun ini British Petroleum mengumumkan penemuan minyak lagi di North Sea dan berharap dapat menghasilkan 200 ribu barel pada 2020. Namun, adanya kondisi penurunan itu membuat Pemerintah Aberdeen, maupun Skotlandia pada umumnya, sadar bahwa menggantungkan perekonomian pada satu industri adalah bukan pilihan yang tepat dan patut untuk diperbaiki. (dim/JPC)


TOPIK BERITA TERKAIT: #internasional 

Berita Terkait

Stan Lee, Tutup Usia

Indotainment

Stan Lee, Tutup Usia

Indotainment

Pangeran MBS Luncurkan Proyek Nuklir Pertama

Internasional

Indonesia-Arab Saudi Berupaya Tekan Pengangguran

Headline

Doktor di India Ciptakan Jalan dari Plastik

Internasional

IKLAN